MATAN KITAB

Imam Abu Ibrohim Ismail ibn Yahya al Muzani rohimahulloh berkata,

الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ صَاحِبَةٌ وَّلَا وَلَدٌ جَلَّ عَنِ الْمَثِيلِ فَلَا شَبِيهَ لَهُ وَلَا عَدِيلَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ الْمَنِيعُ الرَّفِيعُ

Allah Maha Esa. Semua makhluk bergantung kepada-Nya. Ia tidak memiliki istri dan anak. Tidak ada yang serupa dan sepadan dengan Allah. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Alah Maha Mengetahui secara umum dan terperinci. Allah Maha Mencegah dan Maha Tinggi.

Doktor Jamal ‘Aazun dalam penelitiannya tentang kitab ini, mengumpulkan 3 naskah dengan riwayat yang berbeda-beda. Naskah utama adalah naskah yang diperoleh di perpustakaan Ali Basya di turki, kemudian dilengkapi dengan naskah yang dukumpulkan oleh Ibnul Qoyyim, dan satu naskah lain yang diperoleh di Perpustakaan Syaikh al ‘Allamah Hammad ibn Muhammad al Anshori. Untuk lafazh ini tidak ada perbedaan dalam 3 naskah tersebut.

FAIDAH SYARAH DARI PARA ULAMA

Bagaimana cara ahlus sunnah mengimani nama dan sifat Allah?

Ahlus sunnah menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang ditetapkan Allah dalam al Qur’an, dan Rosululloh shalallahu’alaihi wa sallam dalam hadits tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

Apa yang dimaksud tahrif?

Tahrif adalah merubah lafazh atau makna nama dan sifat Allah

Apa yang dimaksud ta’thil?

Ta’thil adalah menolak sebagian atau seluruh nama dan sifat Allah

Apa yang dimaksud takyif?

Takyif adalah merinci dan menanyakan bagaimana nama dan sifat Allah

Apa yang dimaksud tamtsil?

Tamtsil adalah menyerupakan nama dan sifat Allah dengan makhluk-Nya

Apa yang dimaksud Allah Maha Tunggal (الْوَاحِدُ)?

Allah Maha Tunggal dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. Tauhid dibagi menjadi 3, yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma’ wa shifat.

Tauhid Rububiyyah artinya kita wajib meyakini bahwa Allah adalah Rabb, Pemilik segala sesuatu, Maha Pencipta, Maha Mengatur alam dan menjalankannya, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan

Tauhid Uluhiyyah artinya kita wajib meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya ilah yang berhak disembah dan ilah lain tidak berhak disembah.

Tauhid Asma’ wa Shifat artinya kita wajib meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat mulia yang sempurna dan bebas dari kekurangan.

Al Waahid dan al Ahad adalah termasuk dari nama-nama Allah. Dalilnya:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.[1]

 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan.[2]

Apa yang dimaksud semua makhluk bergantung kepada Allah (الصَّمَدُ)?

Ash Shomad adalah termasuk salah satu nama Allah. Dalilnya adalah

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.[3]

Setiap nama Allah terkadang menunjukkan satu sifat Allah dan terkadang menunjukkan banyak sifat Allah. Nama Allah yang menunjukkan satu sifat Allah contohnya al ‘Aliim menunjukkan sifat ‘ilmu Allah, as Samii’ menunjukkan sifat mendengarnya Allah. Nama Allah yang menunjukkan banyak sifat Allah adalah ash Shomad, as Sayyid, al Majid, al Hamid.

Arti ash-Shomad adalah para makhluk menggantungkan hajat kebutuhan dan masalah mereka kepada Allah karena Allah memiliki kesempurnaan kemuliaan, keagungan, kehormatan, kebijaksanaan, dan keilmuan sehingga Allah tidak membutuhkan pembantu atau penolong.

Ash Shomad berarti juga tidak dilahirkan dan tidak melahirkan karena sesuatu yang dilahirkan pasti mati, dan yang mati pasti mewariskan, sedangkan Allah tidak mati dan tidak mewariskan.

Apa yang dimaksud Allah tidak memiliki istri dan anak

(الَّذِي لَيْسَ لَهُ صَاحِبَةٌ وَلَا وَلَدٌ) ?

Shoohibah artinya adalah istri. Allah tidak memiliki istri dan anak karena kesempurnaan-Nya. Sesuatu yang memiliki istri dan anak pasti membutuhkan istri dan anaknya. Dalilnya adalah

وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.[4]

 

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, [5]

Apa yang dimaksud Allah Maha Mulia dari yag semisal dan tidak ada yang serupa atau sama dengan Allah

(جَلَّ عَنِ الْمَثِيلِ فَلَا شَبِيهَ لَهُ وَلَا عَدِيلَ)?

Tidak ada yang serupa dengan Allah. Tidak ada yang serupa dalam nama, sifat, keagungan dan kebesaran Allah.

‘Aadil artinya sepadan. Siapapun yang menyekutukan Allah atau menganggap ada yang serupa dengan Allah maka dia kafir sebagaimana kaum musyrik mekkah yang menjadikan sekutu bagi Allah.

Dalil pernyataan ini adalah:

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia[6]

Apa yang dimaksud Allah Maha Mendengar (السَّمِيعُ) ?

As Sami’ adalah termasuk salah satu nama Allah. Dalilnya

ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.[7]

As Sami’ menunjukkan Allah memiliki sifat mendengar. Setiap nama Allah pasti menunjukkan satu atau beberapa sifat Allah yang sempurna. Sifat pendengaran Allah meliputi segala macam suara.

Rosululloh shalallahu’alaihi wa sallam meriwayat dari Allah dalam hadits Qudsi:

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ اجْتَمَعُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى ثُمَّ أَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ مَا سَأَلَ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْبَحْرُ يُغْمَسَ فِيهِ الْمِخْيَطُ غَمْسَةً وَاحِدَةً

Wahai hamba-hambaKu, seandainya yang pertama hingga yang terakhir dari kalian baik dari kalangan manusia dan jin berkumpul pada satu bukit kemudian meminta kepadaku, kemudian aku memberikan permintaan setiap orang dari mereka sesuai yang diminta, maka hal itu tidaklah mengurangi sesuatu dari kerajaanku kecuali berkurangnya satu tetes air laut yang jatuh dari jarum yang dicelupkan padanya[8]

Allah mendengar semua suara orang yang meminta walaupun dengan bahasa berbeda, dengan suara yang lirih, permintaan berbeda-beda, dan dalam waktu yang sama.

Seorang mukmin yang mengimani as Sami’ maka akan selalu berhati-hati pada ucapan dan perilakunya karena Allah mendengar semua suara dan akan menghisab ucapan dan perbuatan kita di hari kiamat.

Apa yang dimaksud Allah Maha Melihat (الْبَصِيرُ) ?

Al Bashiir adalah termasuk nama Allah. Dalilnya adalah dalam asy Syuro (42:11).

Nama al Bashir menunjukkan sifat melihat Allah pada semua yang tampak

Apa yang dimaksud Allah Maha Mengetahui (الْعَلِيمُ) ?

Al ‘Aliim termasuk nama Allah. Dalilnya

وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.[9]

Ilmu Allah meliputi segala sesuatu baik di langit atau di bumi. Allah mengetahui sesuatu yang sudah terjadi atau belum terjadi. Allah mengetahui sesuatu yang belum terjadi dan bagaimana jika sudah terjadi. Ilmu Allah tidak didahului dengan kebodohan dan tidak berkurang atau lupa.

Apa yang dimaksud Allah Maha Mengetahui Yang Terperinci (الْخَبِيرُ) ?

Al Khobiir adalah termasuk nama Allah. Dalilnya adalah

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.[10]

Al Khobiir adalah sinonim dari al ‘Aliim. Al Khobiir menunjukkan sifat Allah mengetahui rincian sesuatu dan kandungan sesuatu. Tidak ada sekecil apapun yang luput dari ilmu Allah.

Apa yang dimaksud Allah Maha Kuat (الْمَنِيعُ) ?

Al Manii’ bukanlah termasuk nama Allah. al Manii’ artinya adalah tidak ada yang bisa mengambil apa yang ditahan-Nya dan tidak dapat ditolak apa yang ditakdirkan-Nya karena kesempurnaan kekuatan Allah.

Allah berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.[11]

Apa yang dimaksud Allah Maha Tinggi (الرَّفِيعُ) ?

Ar Rofii’ artinya adalah Allah Maha Tinggi dalam segala sesuatu. Maha Tinggi dalam tempat dan dzat, Maha Tinggi dalam kedudukan dan kemuliaan, dan Maha Tinggi dalam Kekuatan.

Allah Maha Tinggi tempat dan dzatNya. Dalilnya

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)[12]

Allah Maha Tinggi Keagungannya. Dalilnya

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya[13]

Allah Maha Tinggi KekuasaanNya. Dalilnya

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.[14] 

Alhamdulillah, selesai penulisan modul ke-4 Syarhus Sunnah Imam al Muzani pada hari ahad 25 Jumadil Ula 1439 (11 Februari 2018) – senin 26 Jumadil Ula 1439 (12 Februari 2018) pukul 5:48

Maroji’ wa Mashodir

  • al Badr, Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin. Ta’liqoh ‘Ala Syarhus Sunnah lil Muzani. al-badr.net
  • al Juhaniy, Syaikh Kholid ibn Mahmud ibn Abdil Aziz. Tamamul Minnah ‘Ala Syarhi as Sunnah lil Imam al Muzani.alukah.net
  • an Najmi, Syaikh Ahmad ibn Yahya.1430. Fathur Robbil Ghoniy bi Taudhih Syarhi as Sunnah lil Muzani. Riyadh: Darul Minhaj
  • Muzani, al Imam. Syarhus Sunnah. Ta’liq dan Tahqiq Syaikh Doktor Jamaal ‘Aazzun. Riyadh: Maktabah Darul Minhaj

Catatan Kaki

[1] Surat al Ikhlas (112:1)

[2] Surat Shod (38:65)

[3] Surat al Ikhlas (112:2)

[4] Surat al Jin (72:3)

[5] Surat al Ikhlas (112:3)

[6] Al Ikhlas (112:4)

[7] Asy Syuro (42:11)

[8] Hadits Abu Dzar al Ghifari, Diriwayatkan dalam Shohih Muslim nomor 6737 (8/16)  dishohihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani

[9] Al Baqoroh (2:215)

[10] Ali Imron (3:180)

[11] Hud (11:66)

[12] An Nahl (16:50)

[13] Az Zumar (39:67)

[14] Al An’am (6:18)

Print Friendly, PDF & Email