Cara Mengajarkan Aqidah Kepada Anak

Parenting Islam

Prolog

Aqidah Tauhid adalah ilmu yang sangat penting. Pembelajaran aqidah bahkan dimulai sejak anak lahir didunia dengan memperdengarkan kalimat tauhid kepada anak bayi. Pembelajaran ini terus dilaksanakan dengan bertahap dan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Pembelajaran ini dilaksanakan sebelum anak-anak siap belajar al Qur’an. Dengan cara ini, seorang anak akan tumbuh diatas fitroh yang lurus dan mampu mempelajari al Qur’an dengan baik pada saatnya.

Berikut ini kami ringkaskan metode untuk mendidik anak dalam bidang aqidah. Kami menyarikan dari beberapa ulama seperti Imam Abu Hamid al Ghazali, Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyah, Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab, dan ulama kontemporer seperti Syaikh Ibrohim ar Ruhaili dan seorang pakar pendidikan di Saudi Arabia Syaikh Fuhaim Musthafa. Semoga Allah memberikan manfaat bagi kita dengan menerapkannya

Cara Mengajarkan Aqidah Kepada Anak

1. Bertahap dalam mengajarkan tauhid disesuaikan dengan usia anak

Syaikh Ibrohim ar Ruhaili hafizhahulloh berkata,

Kita mengajarkan tauhid dengan bertahap. Kita menjelaskan kepada anak-anak definisi tauhid, macam-macam tauhid sesuai dengan usia mereka. Ini dilakukan sedikit demi sedikit. Semakin bertambah usianya maka semakin bertambah pula kita kenalkan kepada masalah tauhid. Bersamaan dengan selalu mengikat hati mereka dengan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pencipta dan Maha Pemberi rizki. Hal ini akan menguat di hati mereka. Lebih-lebih anda sesuaikan dengan kenyataan. 1

2. Mentalqin kalimat tauhid dan menghubungkan kehidupan anak dengan tauhid

Ibnu Qoyyim al Jauziyah rohimahulloh mengatakan

فإذا كان وقت نطقهم فليلقنوا لا إله إلا الله محمد رسول الله 

Jika seorang anak sudah mampu berbicara, hendaklah orang tuanya menalkinkan laa ilaaha illallaah muhammadurrosuululloh. 

وليكن أول ما يقرع مسامعهم معرفة الله سبحانه وتوحيده وأنه سبحانه فوق عرشه ينظر إليهم ويسمع كلامهم وهو معهم أينما كانوا

Hendaknya yang pertama kali mengetuk pendengaran anak-anak adalah mengenal Allah subhanahu wata’ala, mentauhidkannya, bahwa Allah berada diatas ‘arsy-nya dan selalu mengawasi mereka dan mendengarkan ucapan mereka, dan Allah selalu bersama mereka dimanapun mereka berada.2

Syaikh Ibrohim ar Ruhaili hafizhahulloh mengatakan

Contohnya ketika anda memberi makan anak anda yang kecil, katakan kepada anak tersebut, wahai anakku, ini adalah rizki dari Allah. Allahlah yang telah memberikan kita rizki. Jika akan memulai makan, maka ajarkan bismillah dan jika telah selesai ajarkan alhamdulillah. Anda jelaskan kepada anak anda tentang makna basmalah. Basmalah maknanya adalah mencari keberkahan dan makna hamdalah adalah pujian kepada Allah tentang kenikmatan yang telah diberikan berupa makanan. 3

3. Memilih kitab matan aqidah yang ringkas dan mudah dihafal anak dan sesuai dengan usia mereka

Syaikh Ibrohim ar Ruhaili hafizhahulloh mengatakan,

Kita mengajarkan tauhid dengan bertahap. Kita menjelaskan kepada anak-anak definisi tauhid, macam-macam tauhid sesuai dengan usia mereka. Ini dilakukan sedikit demi sedikit. Semakin bertambah usianya maka semakin bertambah pula kita kenalkan kepada masalah tauhid. 4

Pada kesempatan yang sama Syaikh Ibrohim ar Ruhaili hafizhahulloh mengatakan,

Hendaknya kita memilih matan ilmiyyah yang ringkas sesuai dengan usia anak untuk diajarkan kepada mereka. 5

Imam Ghozali rohimahulloh berkata,

اعلم أن ما ذكرناه في ترجمة العقيدة ينبغي أن يقدم إلى الصبي في أول نشوه ليحفظه حفظا ثم لا يزال ينكشف له معناه في كبره شيئا فشيئا

Ketahuilah, apa yang telah kami sebutkan tentang penjelasan aqidah (sebelum ini) hendaknya diajarkan kepada seorang anak pada awal masa pertumbuhannya agar ia menghafalnya. Kemudian setelah itu maknanya akan senantiasa tersingkap sedikit demi sedikit ketika ia telah tumbuh besar.

فابتداؤه الحفظ ثم الفهم ثم الاعتقاد والإيقان والتصديق به وذلك مما يحصل في الصبي بغير برهان 

Maka permulaan pelajaran aqidah adalah hafalan kemudian pemahaman kemudian menjadi keimanan, keyakinan, dan pembenaran. Semua ini mampu diserap anak tanpa banyak penjelasan. 6 

Contoh matan ringkas untuk anak adalah sebagaimana kitab yang disusun oleh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab. Beliau menyusun sebuah kitab ringkas dan sederhana agar mudah dihafal anak-anak berjudul Ta’limu ash Shibyan at Tauhid. Buku ini beliau susun dengan metode tanya jawab dengan sangat ringkas.

4. Memberi penjelasan dengan dalil-dalil sederhana yang terjadi pada kehidupan mereka.

Syaikh Fuhaim Musthafa hafizhahulloh 

Para guru dan orang tua harus memberikan perhatian yang besar terhadap akidah anak. Menancapkan akidah tersebut dalam jiwa mereka. Menancapkan wahdaniyatulloh(keesaan Allah). Dan menjauhkan mereka dari perbuatan syirik.

Ini dilakukan dengan menunjukkan dalil-dalil yang logis dan bukti-bukti yang masuk akal dari kehidupan mereka, baik di rumah atau di madrasah. Juga dari hubungan mereka bersama individu-individu keluarga dan kawan-kawan di madrasah. Juga melalui tafakkur mereka terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta.7

5. Menguatkan aqidah dengan membaca al Qur’an dan tafsirnya, hadits dan penjelasannya, dan tugas-tugas ibadah.

Imam Ghozali rohimahulloh berkata,

وكيف ينكر ذلك وجميع عقائد العوام مباديها التلقين المجرد والتقليد المحض

(Jika ada yang bertanya) bagaimana seorang anak yang memulai aqidah dengan cara talqin dan taklid murni bisa mengingkari aqidah yang keliru dan seluruh aqidahnya orang-orang awam?

نعم يكون الاعتقاد الحاصل بمجرد التقليد غير خال عن نوع من الضعف في الابتداء

(Imam Ghozali menjawab) ya, terkadang keyakinan yang diperoleh dari taklid, tidaklah kosong dari berbagai macam aqidah yang melemahkan aqidah yang benar itu di masa permulaannya. 

على معنى أنه يقبل الإزالة بنقيضه لو ألقى إليه فلا بد من تقويته وإثباته في نفس الصبي والعامي حتى يترسخ ولا يتزلزل

Maknanya adalah anak itu akan menerima kegoncangan aqidah dengan aqidah yang bertentangan dengan aqidah yang benar yang telah ia terima. Ketika ia menjumpai aqidah yang bertentangan ini, maka murobbinya haruslah menguatkan dan memantapkannya dalam diri anak dan orang awam hingga aqidah itu menjadi kokoh dan tidak berguncang.

وليس الطريق في تقويته وإثباته أن يعلم صنعة الجدل والكلام بل يشتغل بتلاوة القرآن وتفسيره وقراءة الحديث ومعانيه 

Bukanlah metode untuk menguatkan dan memantapkan aqidah anak dengan mengajarkan cara berdebat dan ilmu kalam. Yang benar adalah dengan cara menyibukkan diri dengan tilawah al Qur’an dan membaca tafsirnya, kemudian membaca hadits dan makna-maknanya.

ويشتغل بوظائف العبادات فلا يزال اعتقاده يزداد رسوخا بما يقرع سمعه من أدلة القرآن وحججه

(selain itu) ia menyibukkan dengan tugas-tugas ibadah sehingga aqidahnya senantiasa bertambah kuat dengan dalil-dalil al Qur’an dan hujjahnya yang mengetuk pendengaran anak tersebut.

وبما يرد عليه من شواهد الأحاديث وفوائدها وبما يسطع عليه من أنوار العبادات ووظائفها

(aqidahnya juga bertambah kuat) dengan dalil-dalil hadits dan faidahnya yang membantahnya kemudian dengan cahaya ibadah dan tugas-tugasnya yang ia mampu melakukannya. 8

6. Pelajaran Tauhid sudah dimulai sebelum pembelajaran al Qur’an dan berlangsung terus hingga dewasa.

Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab rohimahulloh berkata, 

Risalah yang bermanfaat ini wajib diajarkan kepada anak sebelum mereka mempelajari al Qur’an. Sehingga anak tersebut akan menjadi manusia yang sempurna di atas fitroh dan tauhid yang baik diatas iman. Aku menyusunnya dengan metode tanya jawab.9

Syaikh Ibrohim ar Ruhaili hafizhahulloh berkata,

Ketika sholat kita ajarkan arti Allahu Akbar, Al Fatihah, Subhana Robbiyal ‘Azhim, Subhana Robbiyal A’laa. Dengan cara ini, ia akan tumbuh diatas tauhid. Hingga ia tumbuh menjadi remaja dan kita kenalkan lebih luas tentang kitab-kitab tauhid hingga anak itu menjadi orang yang dhobit dalam hal ini. 10

Imam Ghozali rohimahulloh berkata,

اعلم أن ما ذكرناه في ترجمة العقيدة ينبغي أن يقدم إلى الصبي في أول نشوه ليحفظه حفظا ثم لا يزال ينكشف له معناه في كبره شيئا فشيئا

Ketahuilah, apa yang telah kami sebutkan tentang penjelasan aqidah (sebelum ini) hendaknya diajarkan kepada seorang anak pada awal masa pertumbuhannya agar ia menghafalnya. Kemudian setelah itu maknanya akan senantiasa tersingkap sedikit demi sedikit ketika ia telah tumbuh besar.

فابتداؤه الحفظ ثم الفهم ثم الاعتقاد والإيقان والتصديق به وذلك مما يحصل في الصبي بغير برهان 

Maka permulaan pelajaran aqidah adalah hafalan kemudian pemahaman kemudian menjadi keimanan, keyakinan, dan pembenaran. Semua ini mampu diserap anak tanpa banyak penjelasan. 11

7. Mengarahkan anak untuk belajar dengan ulama yang lurus aqidahnya dan baik akhlaknya agar anak mengetahui penerapan aqidah dan mampu menolak dan membantah aqidah sesat dan keliru.

Imam Ghozali rohimahulloh berkata,

وبما يسرى إليه من مشاهدة الصالحين ومجالستهم وسيماهم وسماعهم وهيآتهم في الخضوع لله عز و جل والخوف منه والاستكانة له

Selain itu dengan (aqidahnya bertambah kuat) dengan anak tersebut melihat orang-orang sholih dan duduk di majelis mereka, mengenali sifat-sifat mereka, mendengar mereka, dan (memperhatikan) penerapan orang-orang sholih tersebut dalam hal khudlu’ (tunduk pasrah), takut, dan keta’atan kepada Allah

فيكون أول التلقين كإلقاء بذر في الصدر

(Aqidah) yang pertama kali ditalqin (kepada anak) seperti penaburan benih di hati manusia

وتكون هذه الأسباب كالسقى والتربية له حتى ينمو ذلك البذر يقوى ويرتفع شجرة طيبة راسخة أصلها ثابت وفرعها في السماء 

Sebab-sebab ini menjadi seperti pengairan dan pendidikan pada hati anak tersebut. Pengairan dan pendidikan itu menumbuhkan benih tersebut, menguatkan dan menjadikan pohon yang tinggi dan kokoh. Akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. 12

Syaikh Ibrohim ar Ruhaili hafizhahulloh berkata,

Setelah itu kita ikatkan anak tersebut dengan ulama ahlus sunnah wal jama’ah yang mengajarkannya tauhid dan menghilangkan syubhat. Sehingga terkumpul padanya ilmu dan mengenal bantahan syubhat.13

8. Melindungi anak dari pemikiran sesat dengan menjauhkan dari ilmu debat dan ilmu kalam dan mendekatkan dengan bantahan dari al Qur’an dan as Sunnah.

Imam Ghozali rohimahulloh berkata,

وينبغي أن يحرس سمعه من الجدل والكلام غاية الحراسة

Seyogyanya pendengaran anak tersebut dijaga dari debat dan ilmu kalam dengan penjagaan maksimal

فإن ما يشوشه الجدل أكثر مما يمهده وما يفسده أكثر مما يصلحه

Sesungguhnya apa yang dikacaukan oleh debat lebih banyak daripada yang diperbaiki. Dan apa yang dirusak oleh debat lebih banyak daripada yang diperbaiki olehnya. 14

Selain itu beliau rohimahulloh berkata,

وليس الطريق في تقويته وإثباته أن يعلم صنعة الجدل والكلام بل يشتغل بتلاوة القرآن وتفسيره وقراءة الحديث ومعانيه 

Bukanlah metode untuk menguatkan dan memantapkan aqidah anak dengan mengajarkan cara berdebat dan ilmu kalam. Yang benar adalah dengan cara menyibukkan diri dengan tilawah al Qur’an dan membaca tafsirnya, kemudian membaca hadits dan makna-maknanya.

ويشتغل بوظائف العبادات فلا يزال اعتقاده يزداد رسوخا بما يقرع سمعه من أدلة القرآن وحججه

(selain itu) ia menyibukkan dengan tugas-tugas ibadah sehingga aqidahnya senantiasa bertambah kuat dengan dalil-dalil al Qur’an dan hujjahnya yang mengetuk pendengaran anak tersebut.

وبما يرد عليه من شواهد الأحاديث وفوائدها وبما يسطع عليه من أنوار العبادات ووظائفها

(aqidahnya juga bertambah kuat) dengan dalil-dalil hadits dan faidahnya yang membantahnya kemudian dengan cahaya ibadah dan tugas-tugasnya yang ia mampu melakukannya. 15

Khotimah

Demikian beberapa langkah-langkah dan tips-tips untuk mengajarkan aqidah kepada anak sejak dini. Semoga Allah membantu kita untuk bisa menerapkan ilmu in i kepada anak-anak kita sehingga akan muncul di masa depan anak-anak islam yang tumbuh diatas aqidah yang benar dan kokoh. Tidak goyah dengan terpaan celaan, kesesatan, dan fitnah dunia berupa harta.

1

 Terjemah ceramah Tabligh Akbar Syaikh Ibrohim ar Ruhaili di Masjid Istiqlal bertemakan “Tauhid, Jalan Meraih Kebahagiaan dan Kejayaan”

2

 Al Jauziyah Ibnu Qoyyim. 1391. Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud. Tahqiq Abdul Qodir al Arnauth. Maktabah Darul Bayan. Halaman 231 - 232

3

 Terjemah ceramah Tabligh Akbar Syaikh Ibrohim ar Ruhaili di Masjid Istiqlal bertemakan “Tauhid, Jalan Meraih Kebahagiaan dan Kejayaan”

4

 Terjemah ceramah Tabligh Akbar Syaikh Ibrohim ar Ruhaili di Masjid Istiqlal bertemakan “Tauhid, Jalan Meraih Kebahagiaan dan Kejayaan”

5

 Terjemah ceramah Tabligh Akbar Syaikh Ibrohim ar Ruhaili di Masjid Istiqlal bertemakan “Tauhid, Jalan Meraih Kebahagiaan dan Kejayaan”

6

 Al Ghozali, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. 1426. Ihyaa-u ‘Ulumi ad Diin. Beirut: Daar Ibn Hazm. Halaman 111

7

 Musthafa, Syaikh Fuhaim. 2009. Minhaju ath Thifli al Muslim. Terjemahan Wafi Marzuqi Ammar, Lc, M.Pd.I. Surabaya: Pustaka Elba. Halaman 65.

8

 Al Ghozali, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. 1426. Ihyaa-u ‘Ulumi ad Diin. Beirut: Daar Ibn Hazm. Halaman 111

9

 Abdul Wahhab, Muhammad ibn. Ta’limu ash Shibyan at Tauhid. Mesir: Darul Haromain. Halaman 7

10

 Terjemah ceramah Tabligh Akbar Syaikh Ibrohim ar Ruhaili di Masjid Istiqlal bertemakan “Tauhid, Jalan Meraih Kebahagiaan dan Kejayaan”

11

 Al Ghozali, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. 1426. Ihyaa-u ‘Ulumi ad Diin. Beirut: Daar Ibn Hazm. Halaman 111

12

 Al Ghozali, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. 1426. Ihyaa-u ‘Ulumi ad Diin. Beirut: Daar Ibn Hazm. Halaman 111

13

 Terjemah ceramah Tabligh Akbar Syaikh Ibrohim ar Ruhaili di Masjid Istiqlal bertemakan “Tauhid, Jalan Meraih Kebahagiaan dan Kejayaan”

14

 Al Ghozali, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. 1426. Ihyaa-u ‘Ulumi ad Diin. Beirut: Daar Ibn Hazm. Halaman 111

15

 Al Ghozali, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. 1426. Ihyaa-u ‘Ulumi ad Diin. Beirut: Daar Ibn Hazm. Halaman 111

Print Friendly, PDF & Email