Hal-Hal Yang Harus Dijauhkan Dari Anak Dalam Masa Pertumbuhannya Agar Anak Berakhlak Mulia

Parenting Islam

Prolog

Seorang anak dilahirkan dengan pembawaan dan karakter berbeda-beda. Ada diantara mereka, lahir memiliki sifat bawaan berupa akhlak yang baik. Dengan sifat ini, maka ia dengan mudah melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan akhlak dan kepribadian yang buruk. Namun ada juga, anak-anak yang dilahirkan dengan sifat bawaan berupa akhlak yang buruk, sehingga pengasuhnya harus berusaha menghilangkan sifat bawaan ini ketika ia masih dalam masa pertumbuhan. Sebagaimana ucapan Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyyah rohimahulloh:

“ Seorang anak akan tumbuh berkembang sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh pengasuhnya tatkala ia masih kecil” 1

Jadi seorang wali atau pengasuh anak tersebut, baik guru atau orang tuanya, sangat perlu memperhatikan akhlaknya. Jika nampak bagi mereka akhlak buruk pada diri anak tersebut, maka wajib baginya berusaha menghilangkannya dengan cara yang tepat.

Ketika seorang anak dalam masa pertumbuhan, tentunya akan ada banyak sekali akhlak buruk yang berusaha mempengaruh kejiwaan anak. Tugas kita sebagai orang tua dan pengasuhnya adalah berusaha membentengi anak dari pengaruh buruk dari luar diri anak, dan membiasakan akhlak yang baik pada diri anak. Apa saja hal-hal yang harus dijauhkan dari diri anak dimasa perkembangannya?, mari kita ikuti pembahasan berikut!

Menjauhkan Anak Dari Pengaruh Buruk Dalam Pendengaran

Sebagai orang tua atau guru, kita wajib menjaga pendengaran anak, agar ia tidak mendengar hal-hal buruk seperti: pertemuan yang isinya adalah kebatilan dan kesia-siaan,  nyanyian, pembicaraan tentang hal-hal yang keji dan buruk, bid’ah, dan ucapan-ucapan yang jelek. 

Mengapa kita harus menjaga pendengaran anak dari hal-hal tersebut?, sebabnya adalah ketika anak mendengar hal-hal buruk ini, anak akan terpengaruh dengannya. Ketika seorang anak sering mendengar hal-hal buruk itu, maka hal itu akan menjadi kebiasaan sehingga akan sulit baginya melepaskan diri darinya ketika ia telah beranjk dewasa.

Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyyah rohimahulloh berkata,

“Oleh sebab itu, ketika akal seorang anak sudah berkembang, anak itu harus dijauhkan dari majelis-majelis kesia-siaan dan kebatilan. (Selain itu ia harus dijauhkan dari) nyanyian, mendengar hal-hal keji, bid'ah, dan ucapan yang buruk. (Sebabnya adalah) ketika hal-hal ini sudah terhubung dengan pendengaran anak, maka ia akan kesulitan untuk memisahkan diri dari hal itu ketika ia dewasa. (Selain itu) membutuhkan usaha besar bagi walinya (pengasuhnya) untuk menyelamatkan anak tersebut dari hal-hal buruk tersebut. Hal ini disebabkan karena merubah kebiasaan adalah termasuk perara yang sulit. Ia membutuhkan (usaha) agar orang yang mau merubah kebiasaan itu memperbaharui kebiasaannya dengan kebiasaan baru yang kedua. Sedangkan melepaskan diri dari kebiasaan adalah hal yang sangat sulit dilakukan.” 2

Menjauhkan Anak Dari Kebiasaan Buruk Mencuri

Seorang ana juga harus dijauhkan dari kebiasaan menginginkan barang milik orang lain atau mengambilnya tanpa izin. Anak harus dibiasakan gemar memberi dan bukan meminta atau menginginkan barang mlik orang lain. Salah satu contoh caranya adalah, ketika orang tua ingin memberi kepada orang lain, maka orang tua tersebut memberikan kepada anaknya untuk diberikan kepada orang yang dimaksud. Dengan cara ini, anak akan merasakan nikmatnya memberi.

Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyyah rohimahulloh berkata,

Hendaknya seorang pengasuh, menjauhkan dengan maksimal, sifat ingin mengambil sesuatu dari orang lain pada diri anak. Jika seorang anak sering dan terbiasa mengambil sesuatu dari orang lain, maka ini akan menjadi karakter (thobi’at) dan ia akan tumbuh dengan sifat mengambil dan bukan memberi. Pengasuh anak tersebut harus membiasakan anak untuk memberi. (Contohnya) ketika seorang wali (pengasuh) ingin memberi sesuatu kepada orang lain, wali (pengasuh) tersebut memberikannya kepada anak tersebut terlebih dahulu agar anak itulah yang memberikannya kepada orang lain (yang dimaksud). Hal ini bertujuan agar anak tersebut merasakan manis dan nikmatnya memberi. 3

Menjauhkan Anak Dari Sifat Pendusta dan Pengkhinat

Seorang anak harus dijauhkan dari sifat suka berbohong dan suka berkhianat. Dua sifat ini sangat berbahaya bagi anak jika telah melekat padanya dan telah;.lju`ll menjadi kebiasaannya. Dua sifat ini adalah sifat yang mampu merusak kebahagiaan anak didunia dan akherat ketika ia telah dewasa kelak.

Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyyah rohimahulloh berkata,

 

Seorang anak harus dijauhkan dari sifat pendusta dan pengkhianat. Bahkan lebih besar perhatiannya daripada menjauhkannya dari racun yang mematikan. Ketika seorang anak mudah berdusta dan berkhianat, maka hancurlah kebahagiaannya di dunia dan akherat dan ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akherat.4

Menjauhkan Anak Dari Sifat Pemalas dan Banyak Bersantai

Sifat alami seorang anak adalah suka dan senang bermain. Kita sebagai pengasuhnya, berusaha mendidik anak-anak untuk selalu beraktifitas. Kita berusaha menanamkan bahwa didalam kesibukan itu terdapat kebahagiaan. Pembiasaan dan pendidikan ini tentunya harus dilakukan secara bertahap dan terus menerus. Seorang anak memiliki masa yang panjang dalam pendidikannya. Sehingga upaya bertahap dan terus menerus harus kita lakukan agar anak memahami bahwa kebahagian dunia dan akherat tidak bisa didapatkan kecuali dengan kesungguhan dan kelelahan.

Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyyah rohimahulloh berkata,

“Seorang anak harus dijauhkan dari sifat malas, pengangguran, santai, dan banyak istirahat. Bahkan anak harus dibiasakan dengan hal-hal yang sebaliknya. Ia harus dibiasakan menyukai untuk menyibukkan jiwa dan badannya. Kemalasan dan pengangguran berakibat pada keburukan dan membuahkan penyesalan. Sedangkan kesungguhan dan kelelahan menghasilkan pujian baik didunia atau di akherat atau didunia dan akherat. Manusia yang paling bahagia adalah yang paling lelah sedangkan manusia yang paling lelah adalah manusia yang paling bahagia. Keunggulan di dunia dan kebahagian di akherat tidaklah dapat dicapai kecuali melalui jembatan kelelahan. Yahya ibn Abi Katsir berkata: "Ilmu tidak dapat diraih dengan badan yang bersantai-santai." 5

Membiasakan Anak Sholat Qiyamul Lail

Bangun malam dan sholat qiyamul lail sangat berat dilakukan oleh orang belum terbiasa dengannya. Bahkan bagi orang diwasa sekalipun. Kita perlu membiasakan anak bangun di sepertiga malam terakhir sehingga akan mudah baginya melakukan sholat qiyamul lail ketika dewasa kelak. Kita juga perlu memberikan gambaran keistimewaan bangun malam dan sholat qiyamul lail kepada anak-anak dengan gambaran yang sesuai usia mereka sehingga akan muncul motivasi untuk melakukan qiyamul lail.

Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyyah rohimahulloh berkata,

Seorang anak dibiasakan untuk perhatian dengan waktu akhir malam. Pada waktu ini ghonimah sedang dibagi kepada manusia. Balasan pahala juga dibedakan, ada yang mendapat sedikit, ada yang banyak, bahkan ada yang diharamkan mendapatkan keutamaannya. Maka, ketika seorang anak terbiasa memperhatikan waktu akhir malam ketika ia kecil, akan mudah baginya memperhatikannya ketika ia telah dewasa.6

Khotimah

Dari penjelasan ini kita dapat menyimpulkan beberapa hal berikut,

  • Seorang anak akan tumbuh berdasarkan hal yang dibiasakan pengasuhnya ketika ia masih kecil

  • Anak-anak perlu dijauhkan dari beberapa hal yaitu: 

    • Hal buruk dalam pendengaran seperti majelis kesia-siaan, nyanyian, perbincangan hal-hal keji dan buruk, bid'ah, ucapan kotor dan jelek.

    • Kebiasaan menginginkan barang orang lain dan mengambilnya tanpa izin

    • Sifat Pendusta dan Pengkhianat

    • Sikap bermalas-malasan dan banyak bersantai

  • Seorang anak perlu difahamkan dan dibiasakan untuk bangun di akhir malam untuk sholat qiyamul lail.

  • Ketika seorang anak terbiasa dengan ibadah dan amal kebaikan ketika ia kecil, maka akan mudah baginya melakukan ibadah dan amal kebaikan ketika ia dewasa.

Referensi

Al Jauziyyah, Imam Abi Abdillah Muhammad ibn Abi Bakr ib Ayyub ibn Qoyyim (W 751). Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud. Tahqiq Utsman ibn Jum'ah Dhumairiyyah. Darul Fawaid.

1

 Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (1/349)

2

 Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (1/349-350)

3

 Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (1/350)

4

 ibid

5

 ibid

6

 Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (1/351)

Print Friendly, PDF & Email