Seorang anak yang didalamnya tertanam iman, ia akan mengucapkan kebaikan-kebaikan. Bahkan dari celotehan, teguran,dan pertanyaan mereka, mampu membuat kita tersadar. Terlalu banyak contoh anak-anak hebat seperti ini tatkala zaman keemasan islam. Namun sekarang, anak-anak seperti ini akan dicap keras, aneh bahkan tidak wajar. Saya akan mengajak anda menulusuri kisah-kisah yang tertulis di kitab ulama tentang cara unik anak-anak dizaman keemasan islam beramar ma’ruf nahi mungkar, insya Allah

Kita mulai dengan kisah tentang al Harits al Muhasibiy yang ditulis dalam kitab Anbau Nujabaa-i al Abnaa’ karya Imam al Hafizh Ibnu Zhaffar al Makki rohimahulloh. Ibnu Zhaffar al Makki menyampaikan kisah al Harits ibn Asad al Muhasibi rodhiyallahu’anhu. Saat itu, al Harits masih berusia anak-anak. Ia melewati anak-anak lain yang mereka sedang bermain di depan pintu seorang laki-laki penjual kurma. al Harits berdiri dan meihat permainan anak-anak tersebut.Kemudan keluarlah pemilik rumah (penjual kurma) dengan membawa buah kurma. Kemudian pemilik rumah itu berkata kepada al Harits, “makanlah buah kurma ini”. Kemudian al Harits bertanya kepada penjual kurma itu. Ceritakan kepadaku tentang kurma tersebut (darimana anda mendapatkannya?). Kemudian lelaki itu bercerita,”Saya baru saja membeli kurma dari seseorang, kemudian aku mengambil kurma-kurma miliknya yang jatuh”. Kemudian al Harits kecil berkata kepada penjual kurma tersebut,”Apakah anda benar-benar mengetahuinya?”. Kemudian penjual kurma itu menjawab, “ya”. Kemudian al Harits kecil berpaling menghadap anak-anak yang tadi bermain dan berkata, “Apakah orang tua ini muslim?”. Kemudian anak-anak itu berkata, “ya, ya”. Kemudian tiba-tiba al Harits pergi meninggalkannya penjual kurma itu dan kurma yang akan diberikannya. Kemudian penjual kurma itu mengejar al Harits hingga berhasil menangkapnya. Kemudian ia berkata kepada al Harits kecil, “Kamu tidak akan aku lepas dari tanganku hingga kamu katakan kepadaku apa yang ada di benakmu tentang aku”. Kemudian al Harits berkata, “Wahai orang tua, jika anda seorang muslim, carilah pemilik kurma itu hingga engkau meminta kehalalan dari jual belimu seperti anda mencari air tatkala engkau benar-benar kehausan. Wahai orang tua, apakah anda memberi makan anak-anak muslim dengan harta haram sedangkan anda seorang muslim?. Kemudian Orang itu berkata, “Demi Allah aku tidak akan berdagang untuk dunia saja selamanya”

Kitab Anbau Nujabaa-i al Abnaa’ karya Imam al Hafizh Abu Abdillah Muhammad ibn Abi Muhammad ibn Zhaffaral Makkiy as Siqliy (wafat 565 H) Halaman 148-149

FAEDAH PARENTING ISLAM DARI KISAH
———————————
1. Anak yang terdidik dengan iman yang baik, maka ia akan mampu menjauhi hal yang haram walau ia masih tidak terbebani dosa.

Rosululloh pernah mengajarkan beberapa kalimat penting pada seorang anak yang belum baligh yaitu Ibnu Abbas untuk mendidik imannya. Beliau bersabda,
يَا غُلامُ ، إنِّي أعلّمُكَ كَلِمَاتٍ : احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَألْتَ فَاسأَلِ الله ، وإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باللهِ ،
“Wahai anak, aku akan mengajarkanmu beberapa kata. Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah maka kamu akan dapati Allah selalu didepanMu. Kalau kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah”
Hadits Hasan Shohih Riwayat Tirmidzi

2. Usia kecil tidaklah menghalangi mereka dengan kepolosan mereka untuk ber-amar ma’ruf nahi mungkar.

Ini adalah salah satu contoh anak-anak yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara indah serta membuat orang yang bersalah bertaubat. Sebenarnya masih banyak kisah lain yang insya Allah akan saya tuliskan secara bertahap.

3. Strategi al Harits al Muhasibi untuk beramar ma’ruf nahi mungkar bisa ditiru oleh anak. seorang anak ketika mengatakan ini kepada orang tua, maka orang tua lebih cenderung menerima. Berbeda jika yang mengatakan adalah sebaya, yang terjadi adalah cekcok mulut saling mempertahankan pendapatnya.

28/11/2018 pukul 11:08
Rumahku, Merjosari, Lowokwaru, Malang

Mudir Kuttab Rumah Qur’an

Abu Ahmad Ricki Kurniawan

 

Print Friendly, PDF & Email