Seorang Pendidik (Murobbi) Mirip Dengan Seorang Dokter

Syaikh Abdulloh Muhammad Abdul Mu’thi berkata,

” الطَّبِيبُ مُهِمَّتُهُ فِى الْحَيَاةِ عِلَاجُ الْأَجْسَادِ مِمَّا يَعْتَرِيهَا مِنْ أَمْرَاضٍ ، …. وَالْمُرَبِّى مُهِمَّتُهُ فِى الْحَيَاةِ عِلاَجُ النُّفُوسِ وَالْقُلُوبِ والْعُقُولِ عَمَّا يُخَالِطُهَا مِنْ أَمْرَاضٍ ”

“Peran pentingnya seorang dokter dalam kehidupan adalah mengobati tubuh dari semua penyakit yang dideritanya. …. dan peran penting seorang Murobbi (pendidik: orang tua dan guru) dalam kehidupan adalah mengobati jiwa, hati, dan akal dari penyakit yang mengotorinya”

Ucapan Syaikh Abdulloh Abdul Mu’thi ini sangat luar biasa. Memang benar bahwa seorang guru atau orang tua yang baik, memandang seorang murid atau anak nakal, bukan seperti memandang sebagai narapidana yang wajib dihukum semata. Namun ia harus melihat seorang anak seperti seorang dokter yang melihat pasiennya. Dokter itu sangat menyayangi pasiennya dan ingin menyembuhkan pasien dari penyakitnya walaupun ia harus sedikit menghukum pasiennya dengan obat yang rasanya tidak enak dan pahit.

Inilah figur guru yang luar biasa. Pada zaman ini jarang sekali kita dapatkan guru yang menjiwai pekerjaan seperti ini. Mayoritas mereka hanya berkutat dengan standar sertifikasi agar dapat penghasilan layak dan hanya sekedar menyampaikan materi saja.

Perbandingan Antara Murobbi dan Dokter

Syaikh Abdulloh Muhammad Abdul Mu’thi berkata;

” الطَّبِيبُ مُهِمَّتُهُ فِى الْحَيَاةِ عِلَاجُ الْأَجْسَادِ مِمَّا يَعْتَرِيهَا مِنْ أَمْرَاضٍ ،  فَهُوَ يَجْتَهِدُ لِيُشَخِّصَ الْمَرَضَ وَيَصِفُ الْعِلاَجَ ، وَالشِّفَاءُ يَكُونُ بِيَدِ اللَّهِ تَعَالَى ”

“Peran penting seorang dokter dalam kehidupan adalah mengobati tubuh dari semua penyakit yang diderita. Dia akan bersungguh-sungguh untuk mendiagnosa penyakit dan memberikan resep obatnya, sedangkan kesembuhan berada di tangan Allah”

Beliau melanjutkan;

” وَالْمُرَبِّى مُهِمَّتُهُ فِى الْحَيَاةِ عِلاَجُ النُّفُوسِ وَالْقُلُوبِ والْعُقُولِ عَمَّا يُخَالِطُهَا مِنْ أَمْرَاضٍ ، فَهُوَ يَجْتَهِدُ فِى الْإِصْلاحِ وَالتَّعْلِيمِ ، وَالنَّجَاحُ بِيَدِ الْخَالِقِ سُبْحَانَهُ ”

“Peran penting seorang Murobbi (pendidik) dalam kehidupan adalah mengobati jiwa, hati, dan akal dari semua penyakit yang mengotori. Ia bersungguh-sungguh dalam memperbaiki dan memberikan pelajaran sedangkan kesuksesan ada di tangan Yang Maha Pencipta”

Ketika menghadapi anak bermasalah, seorang guru tidaklah memandang anak tersebut sebagai pembuat onar dan anak nakal saja. Namun, sebagai mana seorang dokter, ia berusaha mendiagnosa penyebab kenakalannya. Kemudian ia berusaha merumuskan penyembuhan kenakalannya tersebut berdasarkan hasil diagnosa dengan mengangkat akar masalah pada anak tersebut.

Kenakalan anak sering kali adalah akibat dari banyak faktor di lingkungannya yang mempengaruhinya. Ketika kita hanya menghukumnya dengan membabi buta, berarti seperti kita memberikan sembarang obat tanpa resep dan tanpa tahu penyakitnya. Bisa jadi kenakalannya berhenti karena kebetulan terapi kita KEBETULAN pas dengan akar masalah anak tersebut, atau bisa jadi dan ini lebih sering, kenakalannya tidak berhenti.

Saya akan memberikan contoh, saya pernah memiliki murid yang tidak pernah mau menulis. Jika sudah saatnya menulis maka mulai dia membuat onar dengan mengganggu temannya atau membuat gaduh kelas. Nah, jika kita tidak mendiagnosa penyebab ia membuat onar, maka kita akan melakukan hukuman berulang kali tanpa membuatnya berhenti.

Kemudian mulai saya mengambil langkah diagnosa dengan cara menyendirikannya dan memberinya tugas menulis. Saya perhatikan bagaimana ia menulis. Ketika memperhatikan, tampaklah bagi saya, tangan anak ini tidak cukup kuat untuk menulis. Dengan kata lain, ia belum melalui tahapan latihan motorik halus sebelum menulis. Kemudian anak ini menulis dengan cara menyalin perhuruf di papan tulis. Maka jelaslah ini karena anak ini tidak mampu membaca kata dengan baik. Nah…, inilah yang membuatnya tidak mau menulis, sering mengganggu temannya, dan membuat onar di kelas ketika waktunya menulis.

Inilah akar masalah pada anak tersebut. Jadi langkah pertama adalah segera mengajari dia motorik halus sebelum menulis, mengajarinya membaca, dan mengajarinya mengendalikan sikapnya ketika ia merasa tidak mampu seperti temannya dalam menulis.

Contoh-contoh ini banyak sekali, dan kita perlu melakukan diagnosa ketika anak berbuat onar dan bukan mempermalukannya di depan temannya. Namun jika masalah anak tersebut memang secara naluri selalu ingin membuat masalah, maka adakalanya kita perlu menyebut namanya agar ia berhenti dari kebiasaannya menuruti hawa nafsunya untuk berbuat onar.

Perbandingan Antara Penyakit Fisik Dengan Penyakit Jiwa, Hati, dan Akal

Syaikh Abdulloh Muhammad Abdul Mu’thi berkata;

” وَتَشْتَرِكُ أَمْرَاضُ الْأَجْسَادِ أَمراضُ الْقَلُوبِ وَالْعُقُولِ فى عِدَّةِ أَشْيَاءٍ ، مِنْهَا أَنَّ الْعِلاَجَ يَبْدَأُ بِتَشْخِيصِ الْمَرَضِ ثُمَّ يَصِفُ الطَّبِيبُ أَوْ الْمُرَبِّى الدَّواءَ الْمُنَاسِبَ ،    وَتَخْتَلِفُ جُرْعَةُ الدَّواءِ تَبَعًا لِعُمْرِ الْمَرِيضِ وَمَرْحَلَتِهِ السِّنِّيَّةِ ، وَتَتَحَدَّدُ مُدَّةُ تنَاولِ الْعِلاَجِ حَسَبَ نَوْعِ الْمَرَضِ وَقُوَّتِهِ ، وَكُلَّمَا اِشْتَدَّ الْمَرَضُ اِحْتَاجَ الْمَرِيضُ لِمُدَّةِ عِلاَجِ أَطْوَلِ ، وَبَعْدَ مُمَارَسَةِ الْعِلاَجِ  فَتْرَةً وَتَنَاوُلِ الدَّواءِ مُدَّةَ مِنَ الزَّمَنِ لاَبُدَّ مِنَ الرُّجُوعِ لِلطَّبِيبِ أَوْ المربي ، لِيَقِيسَ مَدَّى فاعِلِيَّةِ الدَّواءِ وَهَلْ يَحْتَاجُ الْمَرِيضُ إِلَى دَواءِ جَدِيدٍ ، وَهَكَذَا تَشْتَرِكُ أَمْرَاضُ الْأَجْسَادِ مَعَ أَمْرَاضُ القلوبِ وَالْعُقُولِ فى طَرِيقَةِ التَّشْخِيصِ وَأُسْلوبِ الْعِلاَجِ ، لَكِنْ عَلَى الْمُرَبِّى أَنْ يَأْخُذَ فى الْاِعْتِبارِ أَنَّ عِلاَجَ أَمْرَاضِ الْقَلُوبِ وَالْعُقُولِ أَصْعَبُ بِكَثِيرٍ مِنْ مُعَالَجَةِ أَمْرَاضِ الْجَسَدِ ”

“Penyakit tubuh mirip dengan penyakit hati dan akal dalam beberapa hal. Diantaranya, pengobatan penyakit badang dimulai dengan diagnosa kemudian barulah dokter atau murobbi memberikan resep obat yang cocok untuk penyakitnya. Dosis obat yang diberikan berbeda sesuai dengan umur dan tahapan usia orang yang sakit. Batasan waktu untuk meminum obat juga berbeda tergantung jenis penyakit dan kronisnya penyakit tersebut. Setiap penyakit semakin kronis maka orang yang sakit membutuhkan masa pengobatan yang lebih lama.”

Setelah melalui masa pengobatan dan meminum obat maka orang yang sakit harus kembali kepada dokter atau murobbi untuk mengukur efektifitas kerja obat, dan apakah orang yang sakit membutuhkan obat yang baru atau tidak.

Seperti inilah keterkaitan penyakit tubuh dengan penyakit hati dan akal dalam hal metode diagnosa dan pengobatan. Akan tetapi, seorang murobbi (pendidik) harus mengambil pelajaran bahwa pengobatan penyakit hati dan akal lebih sulit daripada mayoritas pengobatan penyakit tubuh.

Analogi yang disampaikan Syaikh Abdulloh Abdul Mu’thi ini sangat luar biasa. Memang seperti inilah kondisi seorang pendidik. Ia seperti seorang dokter bagi akal, jiwa, dan hati. Ia melakukan pengobatan dengan tahapan yang terukur.

Saya teringat bagaimana nabi kita, Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam bersikap dengan cara ini:

Peristiwa pertama, ketika sahabat Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami yang berasal dari suku pedalaman. Ia baru datang ke madinah dan tidak mengetahui hukum berbicara dalam sholat. Suatu ketika beliau sholat bersama Rosululloh dan para sahabatnya. Kemudian ada seorang dari para jama’ah bersin. Kemudian Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami pun menjawab, yarhamukallah. Seketika itu para sahabat lainnya memandangi Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami. Ia pun berkata, adakah yang salah, ada apa dengan kalian, mengapa kalian melihatku seperti itu. Mendengar jawaban itu, para sahabat jengkel dan memukulkan tangan mereka ke paha-paha mereka agar Mu’awiyah bin al Hakam segera diam karena saat itu sedang dilaksanakan sholat jama’ah. Namun setelah sholat selesai,Rosululloh tidak mencela atau marah kepada Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami, karena beliau tahu, kesalahan ini karena Mu’awiyah belum tahu tidak boleh berbicara ketika sedang sholat. Kemudian beliau langsng mencabut kesalahan dari akarnya berupa ketidak tahuan dengan menasehati, Ini adalah sholat, maka tidak patut suatu perkataan manusia apapun didalamnya kecuali, tasbih , takbir, dan bacaan al Qur’an.

Peristiwa kedua, Ketika perang badar, ada seorang penggembala berusia anak-anak yang ditangkap oleh para sahabat. Pada awalnya para sahabat mengira penggembala ini mata-mata. Mereka menanyakan jumlah pasukan kafir Quraisy. Penggembala ini tidak mau menjawab walau ditanya berulang kali hingga para sahabat ingin memukulnya. Namun ketika dihadapkan kepada Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam, beliau bukan menanyakan jumlah. Beliau menanyakan berapa onta yang mereka sembelih tiap hari. Diluar dugaan, penggembala ini segera menjawab dengan baik. Kemudian barulah Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam memperkirakan jumlah pasukan musuh dari jawaban penggembala ini. Ini menunjukkan kejelian beliau shalallahualaihi wa sallam. Beliau mengetahui anak ini tidak bisa berhitung hingga jumlah ribuan, sehingga beliau menanyakan pertanyaan yang penggembala mampu. Jadi akar masalah penggembala itu bukanlah ia TIDAK MAU menjawab, namun ia TIDAK MAMPU menjawab karena ilmunya belum mampu menghitung sampai ribuan.

Jadi kesimpulannya, Wahai para pendidik, cabutlah penyakit dari akarnya janganlah hanya memotong ranting atau memangkas daunnya saja yang ia akan tumbuh lagi dengan lebih lebat. Diagnosalah dan temukan akar masalahnya dan bersihkan sehingga seorang anak tidak terjangkiti kembali dengan penyakit tersebut di masa depan.

3 Dzulhijjah 1440 (4 Agustus 2019)

Penulis: Abu Ahmad Ricki Kurniawan (Kepala Sekolah SDTA Kuttab Rumah Qur’an (Sekolah Dasar Tahfizh Al Qur’an).  Sekolah Tahfizh Bernuansa Sekolah Alam)

Print Friendly, PDF & Email