لما بلغ عمره ثلاث سنين كان يسهر الليل ينظر الى صلاة خاله محمد بن سوار. وربما قال له خاله محمد قم يابني فارقد فقد شغلت قلبي.

“Tatkala Sahl at Tustari berumur 3 tahun pernah terbangun pada suatu malam. Ia melihat pamannya, Muhammad ibn Sawwar sedang melakukan sholat. Kemudian pamannya, Muhammad berkata, “Bangunlah anakku, kemudian tidurlah dengan nyenyak. Kamu telah menyibukkan hatiku”

FAIDAH

1. Seorang anak belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika mereka melihat orang yang disayangi dan dihormati mereka melakukan sesuatu maka akan mudah ditiru oleh seorang anak. Sahl at Tustari dikelilingi oleh keluarga yang sholih, sehingga ibadah, pengajaran dan teladan mudah terserap pada jiwa Sahl at Tustari kecil.

2. Pengajaran dengan teladan langsung lebih mengena dan menetap pada jiwa anak daripada sekedar teori.

3. Sering seringlah memanggil anak dengan panggilan kesayangan. Seperti Muhammad ibn Sawwar memanggil Sahl at Tustari yang saat itu berusia 3 tahun dengan kata yaa bunayya.

وربما رائ ذلك خاله قال له الا تذكر الله الذي خلقك. قال كيف أذكره. قال قل في نفسك من غير ان تحرك به لسانك اذا جنك الليل الله معي، الله ناظر الي، الله شاهد على ثلاث مرات ففعل ذلك

“Tatkala Paman Sahl at Tustari melihat Sahl bangun, beliau berkata kepada Sahl at Tustari, “Tidakkah engkau mau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?”. Sahl berkata, “Bagaimana aku bisa mengingat Allah?”. Paman Sahl at Tustari berkata, “Ucapkanlah dalam hatimu tanpa menggerakkan lidahmu tatkala engkau akan tidur dimalam hari, “Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku” sebanyak 3 kali. Kerjakanlah hal itu”

FAIDAH

1. Perhatikan cara bicara kepada Sahl yang masih berusia 3 tahun. Beliau tidak menganggap Sahl masih kecil dan belum perlu ditanamkan keimanan dengan mengatakan “Tidakkah engkau mau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?” ditengah malam.

Kita bisa mencontoh cara bicara Muhammad ibn Sawwar kepada anak berusia 3 tahun untuk menanamkan keimanan kepadanya.

2. Perhatikan metode Muhammad ibn Sawwar yang mengaitkan dengan motivasi “Allah yang telah menciptakanmu”. Metode ini bisa kita gunakan saat kita meminta anak anak melakukan ibadah. Rumusnya adalah (pertanyaan: tidakkah) + (ibadah: engkau mau mengingat Allah) + (tauhid dan keimanan: yang telah menciptakanmu).

3. Para ulama tidak memandang kecilnya usia untuk mengajarkan ibadah dan keimanan. Bahkan sejak umur 3 tahun sudah diajarkan suatu amalan untuk menanamkan muroqobah.

4. Metode Syaikh Muhammad ibn Sawwar dalam menanamkan muroqobah bisa diterapkan kepada anak anak dengan sering mengatakan, “Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku” sebelum tidur

ثم قال له خاله قله سبع مرات في كل ليلة ففعل ذلك مدة ثم قال قله احدى عشر مرة في كل ليلة ففعل ذلك

” Kemudian paman beliau (Muhammad ibn Sawwar) berkata kepada beliau, “ucapkanlah 7 kali disetiap malam” kemudian Sahl melakukan hal itu beberapa lama. Kemudian paman beliau (Muhammad ibn Sawwar) berkata kepada beliau, “ucapkanlah 11 kali disetiap malam”, kemudian Sahl melakukan hal itu”

FAIDAH

1. Perhatikan bagaimana dengan lembut, Muhammad ibn Sawwar mengajarkan suatu amalan agar dalam jiwa Sahl tertanam muroqobatillah (merasa dekat dengan Allah). Beliau memulai dari jumlah yang ringan 3 kali setiap malam hingga 11 kali. Jika Sahl kecil langsung diminta membaca 11 kali maka ia tidak mampu. Begitu pulalah ketika kita mengajarkan ibada kepada anak kecil. Kita harus memulainya dari hal yang mampu dikerjakan anak. Kemudian sedikit demi sedikit kita tingkatkan hingga ia mampu beribadah sebagaimana ketika ia sudah mencapai usia diwajibkannya ibadah kepadanya.

2. Perhatikan bagaimana Sahl at Tustari yang bersemangat melaksanakan yang diperintahkan oleh paman beliau, karena beliau melihat sendiri kualitas ibadah paman beliau dimalam hari.

قال سهل فوقع في قلبي ونفسي حلاوة لذالك بعد مدة فاخبرت خالي بذالك

“Sahl at Tustari berkata, “kemudian muncullah dalam hati dan jiwaku manisnya ucapan tersebut setelah beberapa waktu, kemudian aku memberitakan hal itu kepada pamanku”_

FAIDAH

Asal pendidikan ibadah adalah memaksa diri untuk melakukannya. Begitu juga ketika mendidik anak puasa atau sholat atau kebaikan lainnya. Dengan sabar kita mengajarkan secara bertahap hingga anak anak kita mampu menikmati ibadah atau kebaikan yang mereka lakukan.

فقال لي خالي يا سهل من الله معه وناظر اليه، وشاهد عليه كيف يعصيه؟ اياك ان تعصي الله تعالى.

“Kemudian pamanku berkata kepadaku, “wahai Sahl, barangsiapa yang (merasaà Allah bersamanya, melihatnya, dan menjadi saksi atasnya, bagaimana ia bisa bermaksiat kepada Nya?. Jahuilah maksiat kepada Allah”

FAIDAH

1. Perhatikan bagaimana Muhamad ibn as Sawwar tidak perlu menjelaskan secara rinci dalil dan teori dibalik perintah beliau kepada Sahl kecil. Setelah Sahl melakukan dan merasakan manfaatnya maka beliau menjelaskan alasan mengapa memerintahkan Sahl mengerjakan suatu amalan tadi

2. Islam memiliki harta karun luar biasa dalam pendidikan. Metode mengajar Muhammad ibn Sawwar ini adalah metode yang luar biasa dan efektif untuk anak usia 3 tahun. Sayang sekali kita lebih suka metode barat daripada menggali khazanah metode pendidikan para ulama kita yang terbukti menghasilkan generasi emas islam dimasa lalu

REFERENSI

Anbau nujabail abnai karya Imam al Hafizh Ibnu Zhofar al Makki ash Shiqli (wafat 565 h)

Semoga Allah menambah manfaatnya untuk kaum muslimin

Diselesaikan di Rumah Ibunda, Joyoraharjo, Merjosari, Malang

13 Robiul Awwal 1441 (10 November 2019)

Abu Ahmad Ricki Kurniawan

Print Friendly, PDF & Email