Pernahkah anda melihat seorang anak kecil berusia dibawah 10 tahun datang di sebuah kuburan kemudian sholat jenazah bersama orang-orang dewasa?. Pada zaman ini, anak kecil datang kekuburan saja sangat sedikit karena para orang tuanya takut kalau anak tersebut pulang membawa “roh halus”. Sebuah keyakinan yang keliru tentang sebuah perkuburan. Kalaupun anak kecil datang kekuburan, kemungkinan besar mereka bermain “mercon” karena mereka dilarang bermain mercon di pemukiman warga.

Ternyata mendidik seorang anak untuk mengingat kematian adalah pendidikan yang bagus. Ketika keimanan tentang hidup setelah mati tertanam kuat pada hati seorang anak, maka akan sangat mudah bagi kita sebagai orang tua, untuk meluruskannya dengan cara mengingatkannya dengan pahala, surga, siksa, dan neraka.

Barangsiapa yang selalu mengingat kematian dan beramal untuk kehidupan setelah kematian maka ia akan memperoleh kemulian di dunia dan akherat karena kematian adalah obat dari segala macam kebaikan dan penyakit hati serta pencegah dari banyak sekali perbuatan buruk. (‘Abdul-Mu’thii, 1431 H (2010 M))

Ketika kita ingin membenahi kesalahan anak-anak kita, kita bisa menggunakan perstiwa-peristiwa yang terjadi disekitar kita dan anak-anak kita untuk mengingatkan tentang kematian dan negeri akherat. Salah satu caranya adalah dengan cara mengajak mereka berziarah kubur dan mensholati jenazah. (‘Abdul-Mu’thii, 1431 H (2010 M))

Apakah Metode Pendidikan Ini Ada Contohnya Dari Kaum Salaf?

Mari kita simak suatu bab di kitab shohih Bukhori (al-Bukhaariy, 1407 H (1987 M)), Imam Bukhori berkata,

بَابُ صَلَاةِ الصِّبْيَانِ مَعَ النَّاسِ عَلَى الْجَنَائِزِ

“Bab sholat jenazahnya anak bersama manusia”

Kemudian beliau menyampaikan hadits nomor 1262 (al-Bukhaariy, 1407 H (1987 M)), Dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata,

أَتَى رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قَبْرًا، فَقالوا: هذا دُفِنَ – أوْ دُفِنَتْ – البَارِحَةَ، قالَ ابنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْهمَا: فَصَفَّنَا خَلْفَهُ، ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا.

”Rasulullah shalallahu’alaih wa sallam menjumpai sebuah makam. Kemudian para sahabat berkata: “ini (laki-laki / perempuan) ini dimakamkan kemarin.” Kemudian Ibnu Abbas berkata: “Kemudian kami membentuk shof dibelakang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian sholat atas jenazah itu”

Tahukah anda usia Ibnu Abbas ketika itu?
Jika Ibnu Abbas berusia sekitar 10 tahun ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam wafat, tentunya kejadian ini terjadi ketika beliau berumur dibawah 10 tahun. Manakah diantara anak kecil sekarang yang sholat jenazah bersama orang dewasa?

Bagaimana Metode Praktis Menanamkan Keyakinan Kehidupan Setelah Mati kepada Anak?

1. Membacakan hadits-hadits tentang perjalanan manusia setelah mati.

Kita bisa membacakan hadits-hadits ini dengan metode berkisah. Hadits- hadits ini akan melekat kuat ketika kita bacakan kepada anak-anak sebelum tidur. Jika tidak bisa menghafalnya, kita bisa membaca bersama-sama dengan anak agar tertanam ikatan hati antara orang tua dan anak sekaligus memudahkan penanaman aqidah kehidupan setelah kematian.

2. Membantu anak menghafal ayat dan hadits ringkas tentang kehidupan setelah mati.

Caranya cukup dengan membaca bersama sama anak berulang kali hinga mereka hafal dengan sendirinya. Setelah anak-anak mampu hafal matan arab, mereka dibantu untuk menghafal terjemahan dari matan tersebut.

3. Sering mengucapkan dan mengingatkan anak tentang kehidupan setelah mati.

Saat kita mendampingi anak, kita perlu selalu menyambungkan sebuah peristiwa dengan kehidupan setelah mati. Jika ini sering dan berulang kali kita lakukan, maka aqidah kehidupan setelah mati akan tertanam kuat, dengan izin Allah.

Contohnya ketika listrik dirumah kita padam sehingga terjadi gelap. Maka kita peluk anak kita, sambil kita berkata, “nak… semoga Allah melindungi kita dari beratnya siksa di alam barzakh. Nanti pada saatnya kita akan mengalami gelapnya didalam kubur.”

Contohnya lagi ketika sedang membakar ikan untuk dimakan. Kita mungkin bisa menunjukkan bagaimana kulit ikan yang kita bakar melepuh dan menghitam. Kemudian kita berkata, “nak…semoga Allah melindungi kita dari beratnya siksa neraka. Penduduk neraka akan dibakar oleh api neraka yang panasnya jauh lebih panas daripada api yang membakar ikan ini.”

Kata kuncinya adalah kaitkan semua kejadian yang dialami anak dengan kehidupan akherat.

Malang, 19 Syawal 1441 (11 Juni 2020)
Abu Ahmad Ricki Kurniawan
Kuttab Rumah Qur’an Malang

Referensi:

‘Abdul-Mu’thii, ‘. M. (1431 H (2010 M)). Kaifa Nu’aaliju Akhthaa`a Abnaainaa. al-Andalus al-Jadiidah.
al-Bukhaariy, M. b. (1407 H (1987 M)). al-Jaami’u ash-Shahiih al-Mukhtashar. al-Yamaamah, Beirut, Libanon: Daar Ibnu Katsiir.

Whatsapp Kuttab Rumah Qur’an:
> Usia Dini: Ustadzah Ummu Ahmad (0815-5541-1255)
> Usia Sekolah Dasar: Ustadz Abu Ahmad Ricki
(085604650342)

Website www.kuttab-rumahquran.com

Fanpage Facebook: Kuttab Rumah Qur’an

Youtube: Kuttab RumahQuran

Grup PIKuRuQu
Whatsapp: https://chat.whatsapp.com/HQFqfrqUBcvDSGXraERs7x
Telegram: https://t.me/PIKuRuQu

Print Friendly, PDF & Email