Rakaiz fi Tarbiyatil Abna’ – Muqaddimah 1

 

Tentang Kitab

Kitab Rakaiz fi Tarbiyatil Abna’ adalah kitab yang membahas pilar-pilar atau tiang-tiang penyangga yang utama dalam mendidik anak. Penulis kitab ini adalah Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al Badr hafizhahullah. Kitab ini membahas beberapa poin dalam mendidik anak-anak. Kitab kecil ini cukup ringkas hanya berisi 27 halaman.

Penulis kitab menjelaskan dalam muqaddimah tentang pentingnya mendidik anak. Beliau menuliskan beberapa dalil dari Al Quran maupun As Sunnah. Beliau menyebutkan bahwa orang yang tidak perhatian terhadap anak (membiarkannya saja tanpa mendidiknya), maka orang seperti ini adalah orang yang tidak amanah. Konsep pendidikan Islam tentu berbeda dengan konsep pendidikan barat. Pendidikan barat ada yang bersifat mendisiplinkan, ada juga yang bersifat membiarkan dengan alasan memberikan kasih sayang tetapi secara berlebihan. Anak dibiarkan mengikuti apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, konsep pendidikan dalam Islam tidak demikian. Marah diperbolehkan untuk mendisiplinkan anak dengan memperhatikan beberapa aturan.

Ada konsep tarbiyah dan ta’dib dalam Islam. Tarbiyah adalah memberikan pendidikan dan pengajaran tentang kebaikan (ta’lim). Sedangkan ta’dib adalah mendisiplinkan anak. Apabila anak keliru, berbuat kesalahan, maka terdapat beberapa tahapan untuk meluruskan kesalahan anak. Semua ada kaidah dan aturannya, termasuk dalam hal memukul anak. Seperti usia berapa anak boleh dipukul, bagian tubuh mana saja yang boleh dipukul dan tidak boleh dipukul, dan sebagainya.

Anak adalah amanah. Ketika kita membiarkan dan tidak mendidik anak, itu artinya kita tidak amanah kepada Allah. Namun, ketika kita menasihati dan mengarahkan mereka, lalu mendisiplinkan (ta’dib) mereka saat mereka keliru, maka kita amanah dengan apa yang diberikan Allah.

 

Isi Kitab

  1. Pilar Pertama: Memilih Istri yang Shalihah. Pada pilar yang pertama dalam mendidik anak adalah memilih istri yang shalihah. Ketika seorang pria hendak menikah, ia pasti memiliki tujuan dan sebenarnya tujuan terbesarnya adalah bagaimana memiliki generasi penerus yang baik. Semua ini dimulai dengan memilih istri yang shalihah. Ketika kita memilih istri yang shalihah, maka ini wujud pemenuhan amanah kita yang nanti akan mendidik dan mengatur keluarga kita. Ketika seorang ayah tidak ada dan anak hanya ditangani oleh ibunya saja, maka anak tersebut masih bisa bertahan. Bahkan banyak dari para ulama yang lahir dari pendidikan seorang ibu tanpa adanya sosok ayah. Inilah pentingnya memiliki istri yang shalihah.
  2. Pilar Kedua: Doa. Ketika mendapati kekurangan pada anak, baik kekurangan fisik, akademik, maupun adab, maka jangan tinggalkan doa. Jangan hanya bergantung pada ikhtiar. Karena yang bisa merubah hati seorang anak hanyalah Allah.
  3. Pilar Ketiga: Memilih Nama yang Baik. Nama adalah doa. Sering kali ketika kita memberikan nama kepada anak, maka sifat nama tersebut akan muncul pada diri anak-anak. Contohnya Abdul Qawiy, hamba Allah yang Maha Kuat. Maka, anak tersebut lahir dengan sifat yang kuat, meskipun memiliki fisik yang kecil.
  4. Pilar Keempat: Bersikap Adil. Bersikap adil sangatlah penting, terutama jika kita memiliki anak yang banyak. Maka, bersikap adil adalah hal yang sangat penting.
  5. Pilar Kelima: Kelembutan dan Kasih Sayang.
  6. Pilar Keenam: Menasihati dan Mengarahkan Anak. Berikanlah nasihat dan pengarahan kepada anak sesuai dengan usia mereka. Berikan mereka pilihan dan jelaskanlah dampak dari masing-masing pilihan. Lebih baik memberikan aturan yang ketat saat masih kecil dan memberikan kelonggaran untuk memilih saat mereka beranjak baligh dengan tetap memberikan pengawasan.
  7. Pilah Ketujuh: Memilihkan Teman yang Baik. Berikanlah arahan dalam memilih teman. Lalu berikanlah ia kebebasan dalam memilih teman.
  8. Pilar Kedelapan: Memberikan Qudwah (Contoh) yang Baik. Hendaknya kita sebagai orang tua memberikan Qudwah (contoh) yang baik kepada anak-anak kita. Jika mereka melihat kita rajin membaca Al Qur’an, maka mereka akan mengikuti kita.

 

Muqaddimah

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kita haturkan kepada hamba Allah, utusan-Nya, sekaligus kekasih-Nya (yaitu) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga kepada keluarga, serta sahabat beliau seluruhnya. Amma ba’du.

Sesungguhnya salah satu di antara kewajiban yang besar dan penting serta amanah yang agung yang Allah wajibkan atas hamba-Nya untuk memperhatikan dan menjaganya di dalam kehidupan ini yaitu anak. Anak adalah amanah yang besar dan di balik amanah yang besar tersebut ada kewajiban yang besar pula yaitu mendidik (tarbiyah), meluruskan kesalahan (ta’dib), menasihati, dan mengarahkan mereka.

Jika kita tidak melakukan keempat hal ini, maka kita termasuk orang yang tidak amanah. Maka, sesungguhnya anak adalah amanah yang agung yang Allah perintahkan agar kita memperhatikan dan menjaganya, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ

“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)

 

Dan juga firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)

Di antara amanah yang besar adalah anak dan kita berusaha agar kita tidak berkhianat kepada Allah dalam amanah ini. Ketika kita berkhianat terhadap amanah yang diberikan kepada kita, maka kita telah melanggar ayat ini. Kecuali kita tidak sadar atau tidak paham bahwa kita telah melanggar amanah ini.

Terkadang kita tidak punya ide dalam mendidik dan meluruskan kesalahan (ta’dib) anak. Maka kita perlu belajar untuk memenuhi hal tersebut. Dengan begitu kita bisa amanah dan tidak berkhianat kepada Allah.

Wallahu a’lam

Dikutip dari kajian parenting kitab Rakaiz fii Tarbiyati Al Abna’ karya Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah pada tanggal 30 Januari 2021.

Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Quran).

Link kajian: https://youtu.be/j-9M5GHDNt0

Print Friendly, PDF & Email