Hadits ke-34 | Hadits Abdullah bin Umar
Larangan Menyerupai Suatu Kaum

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 4031)

Penjelasan Hadits

  1. Kita tidak boleh menyerupai orang-orang kafir termasuk dalam hal akidah, ibadah, pakaian yang menjadi ciri khusus mereka, tingkah laku, festival-festival, dan lain-lain yang menjadi ciri khusus mereka.
  2. Tidak boleh menyerupai atau meniru gaya orang orang fasik seperti banci, meniru pakaian dan gaya rambut orang nakal seperti preman atau punk, dan lain-lain.
  3. Barangsiapa yang menyerupai orang-orang kafir dan fasik seperti yang telah disebutkan di atas, maka ia telah melakukan perbuatan dosa.
  4. Hadits ini tidak berarti bahwa orang yang meniru orang kafir, langsung dihukumi sebagai orang kafir.

Benci dan cinta karena Allah adalah bagian dari syariat Islam.

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah…” (QS. Ali Imran: 28)

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’…” (QS. An-Nahl: 36)

Konsekuensi tauhid laa ilaaha illallah adalah mencintai dan membenci karena Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) Barangsiapa yang Allah dan rasulnya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah, (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iman kepada Allah adalah tali ikatan iman yang kuat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa, “Sekuat-kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath Thabrani)

Mencintai dan membenci karena Allah merupakan salah satu tanda sempurnanya iman.

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman yang sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi harta karena Allah, menahan harta karena Allah, maka telah sempurna imannya.” (HR. Abu Dawud no. 4681, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud)

Akan tetapi bukan berarti kita tidak melakukan toleransi dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir. Kita tetap memberikan toleransi dengan membiarkan mereka beribadah sesuai keyakinan mereka.

Demikian dalam berdakwah, tetap menyampaikan kebenaran dan penyimpangan atau kekeliruan-kekeliruan mereka tanpa menyebut nama mereka. Hal yang paling penting adalah poin-poin amar ma’ruf nahi mungkar telah tersampaikan dan kita telah memenuhi kewajiban kita untuk berdakwah. Tentunya sesuai dengan kaidah dalam amar ma’ruf nahi mungkar dan juga kapasitas kita.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu…” (QS. Al Mumtahanah: 1)

“Katakanlah, ‘Jika bapak bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal kamu yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalannya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah: 24)

Tingkatan Cinta dan Benci Karena Allah

  1. Mencintai dengan sepenuhnya karena Allah, yaitu kepada para rasul para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.
  2. Membenci dengan sepenuhnya karena Allah, yaitu kepada orang-orang kafir.

    “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya…” (QS. Al Mujadilah: 22)

  3. Mencintai dan membenci secara proporsional, yaitu kepada orang muslim yang melakukan perbuatan fasik. Kita mencintai mereka karena keimanan mereka dan membenci mereka karena perbuatan fasik yang mereka lakukan. Demikian juga kepada orang-orang yang melakukan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam.
  4. Membenci orang-orang ahli bid’ah yang mengeluarkan mereka dari Islam, seperti orang-orang kafir yang berpura-pura masuk Islam.

Wallahu a’lam

Dikutip dari kajian hadits 100 Hadits Pilihan yang disampaikan oleh Ustadz Sa’id Yai Ardiansyah pada tanggal 10 Rabi’ul Akhir 1443 H / 14 November 2021 M.
Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an).

Print Friendly, PDF & Email