Sebelumnya perlu saya sampaikan siapa beliau. Beliau adalah salah satu ustadz yang digembleng di Mahad Ustadz Ja’far Umar Tholib rahimahullah. Bahkan beliau termasuk angkatan pertama di ma’had tersebut. Kemudian beliau digembleng di Ma’had Jamilurrahman yang saat itu juga mengalami masa awal-awal perkembangan. Beliau juga pernah belajar di Al Irsyad Tengaran kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Darul Hadits Yaman di bawah asuhan Syaikh terkenal di Yaman. Setelah beliau kembali ke Kediri, beliau juga diminta mengajar di Masjid Qolbun Salim, Malang.

Saya terkoneksi dengan beliau karena saya termasuk salah satu dari sekian banyak alumni Masjid Qolbun Salim. Walaupun kami kuliah di jurusan materi kuliah umum, tetapi kami merasakan nikmatnya gemblengan aqidah dan manhaj yang sangat kental saat itu. Saya banyak mengambil ilmu aqidah dan manhaj dari Ustadz Abdullah Amin, dan juga Kyai kita di Malang, al Ustadz Agus Hasan Bashori hafidhahumallah.

Di perjalanan ini, saya ditemani oleh partner sejati seperjuangan dalam perjalanan ke negeri akhirat, yaitu istri saya sendiri. Kami berangkat menggunakan motor yang kami pinjam dari seorang sahabat yang -biidznillah- selalu membantu dalam perjuangan untuk akherat ini,yaitu al akh al fadhil Deny Sukardiono dan keluarga beliau. Baarokallaahu fiihim fii kulli umuurihim.

Dalam perjalanan yang berkelok-kelok, kami merasakan dan melihat keindahan ciptaan Allah yang seringkali kita lupakan. Kicauan burung, embusan sejuk angin, bunga bermekaran indah, deburan aliran sungai, dan keindahan hijau pemandangan kami nikmati sepanjang perjalanan.

Ketika sampai, kami disambut oleh al Ustadz Redi. Kemudian kami dipertemukan dengan kyai Ma’had Ar Rosyad yaitu al Ustadz Abdullah Amin. Akhirnya kami berdua berbincang lama, dari kisah perjalanan beliau belajar ke Yaman, sistem pendidikan beliau, masalah walisantri yang terjadi di ma’had beliau, sampai anak-anak beliau yang beliau kader untuk perjuangan dakwah. Banyak faidah yang ternyata mirip dengan yang saya dapatkan selama sekian tahun mengelola Kuttab Rumah Qur’an.

Kami dijamu rujak oleh keluarga beliau, lalu berlanjut ke acara inti. Sebenarnya kami tidak mempersiapkan presentasi secara detail karena memang kami tidak pantas memberi materi. Kami hanya berbagi pengalaman dan informasi yang mungkin nantinya dibutuhkan oleh pihak ma’had yang sedang merintis TAUD non formal dan Kuttab Ar Rosyad yang rencananya juga mengambil jalur non formal.

Akhirnya saya berpisah tempat dengan istri. Istri berbagi pengalaman dengan ummaahat yang mengelola PAUD, sedangkan saya berbagi pengalaman dengan tim inti Ma’had Ar Rosyad, yaitu Ustadz Widodo, Ustadz Redi, Ustadz Anton, Ustadz Regi, Ustadz Febri dan beberapa ustadz lainnya. Kami berbagi informasi tentang semua strategi yang telah kami laksanakan baik yang gagal, yang dalam perbaikan, sampai strategi yang baru. Kami bersyukur sekali, sekolah sekecil Kuttab Rumah Qur’an bisa dipercaya untuk sharing pengalaman di Ma’had Ar Rosyad yang lebih banyak dikenal.

Salah satu yang menarik bagi rekan-rekan di Ar Rosyad adalah konsep morning meeting, konsep adab dengan pembiasaan dan check list, juga metode belajar kitab dengan metode menerjemahkan per kata. Salah satu sistem yang baru pertama kali diterapkan di sekolah SD dan Kuttab di Malang adalah sistem mulazamah akan diberlakukan di tahun ajaran ini.

Dengan sistem mulazamah, insyaa Allah memungkinkan anak-anak untuk tetap naik kelas secara formal, tetapi untuk materi pelajaran, mereka harus bisa melampui tiap jenjang level sesuai kemampuan mereka. Jika anak-anak belum menguasai bagian level 1, ia tidak boleh melanjutkan ke level 2. Sistem ini meminimalisi stres anak karena tahapan pembelajarannya tidak dilalui dengan baik.

Alhamdulillah, banyak sekali diskusi, baik dari para asaatidzah di Mahad ar Rosyad, dan Ustadzunaa Abdullah Amin.

Hal yang lebih membahagiakan kami adalah kesediaan ustadz Abdullah Amin membimbing kembali kajian mulazamah kitab khusus untuk guru Kuttab Rumah Qur’an dan kesediaan beliau untuk mengisi Kajian Satu Ruqu via Zoom. Saya juga meminta izin kepada beliau untuk mengajarkan kembali rekaman beliau di YouTube atau di Facebook untuk pembelajaran di SATU RUQU. Benar-benar nikmat luar biasa dari kunjungan ini.

Acara kami ditutup pukul 17:00, dan kami melakukan perjalanan dari Gurah, Bogem, Kediri melalui beberapa hutan lebat dan gelap di malam hari. Sebuah pengalaman baru sekaligus mendebarkan. Alhamdulillah sekitar pukul 9 malam, saya dan istri sampai di rumah dengan selamat.

Mudir Kuttab Rumah Qur’an

Al Faqir ilaa Afwi Robbihi

Abu Ahmad Ricki Kurniawan

08 Juli 2020

Catatan penyunting: Qadarullah sistem mulazamah untuk materi umum tidak bisa direalisasikan pasca tulisan ini dibuat karena adanya kebijakan pemerintah pada perubahan sistem kurikulum pendidikan jalur non formal, namun untuk materi diniyyah alhamdulilah masih bisa direalisasikan

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email