Kewajiban Muroja’ah dan Berusaha Keras Menjaga Hafalan Al Qur’an, serta Peringatan Dari Meninggalkan serta Melupakan Hafalan Al Qur’an

Ulasan nasehat Syaikhuna DR. Yahya bin Abdurrazzaq Al Ghautsani (1)

=======

Syaikhuna hafizhahullah berkata,

لقد جعل الله عز وجل من طبيعة البشر النسيان
Allah telah menjadikan lupa sebagai salah satu karakter alami manusia.
ومنه ما يكون من تقصير الانسان في المراجعة والاستذكار، ومنه ما يكون بسبب كثرة الاعمال والشواغل
(Lupa ini) disebabkan manusia meremehkan muroja’ah atau disebabkan banyaknya pekerjaan dan kesibukan

—– Penjelasan ——

Syaikhuna hafizhahullah lafadz (الاستذكار) yang berasal dari wazan (استذكر – يستذكر – استذكار) yang bermakna takalluf yang artinya berusaha keras untuk mengingat. Ini berarti kita harus melakukan upaya menjaga Hafalan Al Qur’an yang telah kita miliki.

(لقد جعل الله عز وجل من طبيعة البشر النسيان)

Lupa adalah karakteristik alami manusia. Lupa adalah termasuk nikmat Allah. Dengan lupa, kita tidak akan selalu merasa sedih atas musibah yang menimpa kita. Kita tidak akan selalu marah dengan sesuatu atau seseorang. Namun, jika lupa hafalan Al Qur’an karena sikap meremehkan muroja’ah, maka ini adalah musibah itu sendiri.

(ومنه ما يكون من تقصير الانسان في المراجعة والاستذكار، ومنه ما يكون بسبب كثرة الاعمال والشواغل)

Ada beberapa penyebab kita lupa hafalan Al Qur’an, diantaranya karena sikap meremehkan muroja’ah, atau banyak pekerjaan dan kesibukan.

======
Syaikhuna hafizhahullah berkata,

قال تعالى:
{…وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْرًا)( (99) مَّنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا (100)} [طه : 99-100]

{…dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al-Quran). (99) Barangsiapa berpaling dari pada Al-Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat (100)} [Thoha 99-100]

—– Penjelasan ——

(وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْرًا)

Syaikh Ibnu ‘Asyur berkata,

وتَنْكِيرُ ذِكْرًا لِلتَّعْظِيمِ، أيْ آتَيْناكَ كِتابًا عَظِيمًا

Lafadz “Dzikro” (pengingat) disebut nakiroh untuk menunjukkan pengagungan. Maknanya, Kami telah memberimu sebuah kitab yang agung (yaitu Al Qur’an)

وقَوْلُهُ: مِن لَدُنّا تَوْكِيدٌ لِمَعْنى آتَيْناكَ وتَنْوِيهٌ بِشَأْنِ القُرْآنِ بِأنَّهُ عَطِيَّةٌ كانَتْ مَخْزُونَةً عِنْدَ اللَّهِ فَخَصَّ بِها خَيْرَ عِبادِهِ.

Sedangkan firman Allah “min ladunna” (dari sisi kami) adalah taukid (penguatan) makna “atainaka” (kami telah memberimu) ini dimaksudkan menjelaskan tentang keadaan Al Qur’an bahwa Al Qur’an adalah pemberian Allah kepada hamba-hamba khusus-Nya

(at Tahrir wa at Tanwir, Tafsir Ibnu ‘Asyur)

Dari sini kita bisa memahami bahwa hafalan Al Qur’an adalah karunia Allah yang agung dan tidak semua hamba-Nya mendapatkannya. Bagaimana menurut anda jika karunia agung ini tidak dijaga hingga hilang tidak berbekas karena kita meremehkan untuk menjaganya?

Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia atau pemberian adalah menggunakan untuk hal yang diridhoi pemberi dan menjaga pemberian itu sebaik mungkin.

(مَّنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا)

Lafadz “a’rodho” (berpaling) maknanya adalah: tidak beriman, tidak membacanya, dan tidak mengamalkannya.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi rahimahullah berkata,

من أعرض عنه: أي لم يؤمن به ولم يقرأه ولم يعمل به.

Siapa yang berpaling darinya yaitu tidak beriman dengan Al Qur’an, tidak membacanya, dan tidak mengamalkannya.

(Aisaru at Tafasir)

Al Hafizh Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

﴿مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ﴾ أَيْ: كَذَّبَ بِهِ وَأَعْرَضَ عَنِ اتِّبَاعِهِ أَمْرًا وَطَلَبًا، وَابْتَغَى الْهُدَى فِي غَيْرِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَى سَوَاءِ الْجَحِيمِ؛

Siapa yang berpaling darinya yaitu mendustakan Al Qur’an, berpaling dari mengikuti perintah atau anjuran Al Qur’an, dan mengharap petunjuk dari selain Al Qur’an maka Allah akan menyesatkannya dan memberinya petunjuk menuju neraka jahim.

(Tafsir Ibnu Katsir)

Iman adalah urusan hati yang dibuktikan dengan ucapan dan amal perbuatan (iman adalah ucapan dan perbuatan), ketika hati kita dalam keimanan tinggi, tentunya kita tidak pernah bosan untuk berinteraksi dengan Al Qur’an dengan membaca, mentadabburi makna, dan mengamalkan kandungannya. Karena Al Qur’an diturunkan tidak untuk sekedar dihafal namun untuk pedoman hidup kita.

Lafadz “wizhro” maknanya adalah beban dosa. Artinya ini adalah akibat sikap berpaling dari Al Qur’an, yaitu pada hari kiamat akan membawa beban dosa yang berat dan besar.

Al Muhalla dan as Suyuthi berkata,

﴿فَإنَّهُ يَحْمِل يَوْم القِيامَة وِزْرًا﴾ حِمْلًا ثَقِيلًا مِن الإثْم

Makna maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat adalah “beban berat dari dosa”

Semoga Allah mengilhamkan pada hati kita untuk selalu berinteraksi dengan Al Qur’an dan tidak meremehkannya. Semoga Allah melindungi kita dari sikap berpaling dari Al Qur’an. Semoga Allah memaafkan kita dari sikap meremehkan menjaga Al Qur’an yang berakibat kita melupakan karunia besar yang diberikan Nya, yaitu hafalan Al Qur’an. Semoga Allah menolong kita untuk selalu mentadabburi dan mengamalkan kandungan Al Qur’an.

Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy

Kamis, 6 Muharram 1434 (4 Agustus 2022)
Kontrakan rumah di Perumahan Grandsuroso 1, B18

Print Friendly, PDF & Email