100 Hadits Pilihan

Hadits ke-35 | Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumaa

 

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Qadha’ Al Hawaij no. 36, Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13646. Hadits ini memiliki syahid dari riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

Penjelasan Hadits

1. Allah mencintai manusia dengan kecintaan yang berbeda-beda.

2. Di antara orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain. Maka setelah bertakwa kepada Allah dan berakhlak mulia, bermanfaat kepada orang lain adalah prestasi tertinggi seorang muslim setelah keduanya.

3. Memberikan manfaat kepada orang lain bukan hanya dilakukan dengan menyebarkan ilmu agama dan berdakwah, tetapi ini bersifat umum. Apa pun yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain; termasuk manfaat dengan memberikan kebaikan, menahan orang melakukan keburukan, dan memasukkan kebahagiaan di hati orang lain.

Termasuk memberikan manfaat juga adalah mendidik anak dengan akhlak yang baik. Banyak guru yang lupa tugas utamanya untuk mendidik, yaitu menumbuhkembangkan manusia sedikit demi sedikit dalam seluruh kehidupannya untuk mengharapkan keridhaan Allah sesuai syariat Islam dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

4. Manfaat yang diberikan oleh juru-juru dakwah atau para dai lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya, karena manfaat yang didapatkan oleh orang lain adalah manfaat yang diperoleh di dunia dan akhirat. Apabila kita tidak bisa menjadi juru dakwah maka bantulah mereka dalam penyebaran ilmu agama.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara manusia itu ada kunci-kunci kebaikan dan keburukan, dan sesungguhnya di antara manusia juga ada kunci-kunci keburukan dan gembok-gembok kebaikan. Maka, beruntunglah orang yang Allah dijadikan kunci kebaikan di antara keduanya dan sungguh celaka orang yang Allah jadikan kunci keburukan di kedua tangannya.”

Maka, hendaknya kita berusaha menjadi kunci-kunci kebaikan yang membukakan kebaikan dan menutup pintu-pintu keburukan bagi orang lain.

Allah mengisahkan kisah nabi Isa ‘alaihissalam di dalam Al Qur’an. Beliau mengatakan, “Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada…” (QS. Maryam: 31)

Imam Mujahid, Umar bin Qais, dan Ats Tsauri rahimahumullah berkata bahwa maksud diberkahi adalah menjadi pengajar kebaikan bagi orang lain. Dalam riwayat lain Imam mujahid juga mengatakan bahwa makna diberkahi adalah menjadi orang yang sangat bermanfaat. Makna yang ketiga disampaikan oleh Ibnu Jarir, bahwa makna diberkahi adalah selalu memberikan nasihat dan beramar ma’ruf nahi mungkar di mana pun beliau berada.

Di antara cara menjadi orang yang diberkahi adalah dengan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, lalu menjadi pengajar kebaikan bagi orang lain.

Maka, bersyukurlah ketika Allah mentakdirkan kita sebagai guru atau pendidik bagi orang lain, karena tidak semua orang ditakdirkan demikian. Berapa banyak manusia memiliki banyak keahlian tetapi ketika disuruh mengajar, ia tidak bisa. Karena memang mengajar butuh keahlian khusus. Walaupun ia sangat pintar, belum tentu ia bisa memiliki kemampuan untuk mendidik dan mengajar. Apalagi mengajar anak kecil yang membutuhkan trik dan kemampuan luar biasa.

Meskipun gaji yang diperoleh oleh guru tidak seberapa, akan tetapi yang perlu kita pahami adalah yang namanya rizqi dan kebahagiaan itu tidak ditentukan dengan banyak atau sedikitnya harta. Berapa banyak orang yang beriman dan shalih, ia hanya memiliki harta yang sedikit bahkan tidak memiliki harta. Akan tetapi, ia merasa hidupnya sangat bahagia, tidak pernah merasakan keluh kesah, ridha dengan semua takdir Allah, dan merasakan hidupnya lapang serta bahagia. Berbeda dengan orang yang banyak hartanya. Justru sangat sedikit orang di antara mereka yang bertakwa kepada Allah karena untuk bermaksiat mereka sangat mudah dan godaan bermaksiat juga besar.

Oleh sebab itu, apabila kita telah ditakdirkan oleh Allah menjadi seorang pendidik atau orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, maka syukurilah hal itu dan berikanlah yang terbaik. Jadilah seperti seorang muadzin. Ketika ia dibayar dengan gaji sedikit atau banyak bahkan tidak dibayar sekali pun, ia tetap melakukan adzan karena ia ingin tetap mendapatkan pahala dari adzannya tersebut. Maka, orang yang seperti ini tidak terpengaruhi niatnya oleh gaji besar maupun yang sedikit. Begitu juga dengan orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Ia juga bisa meniatkan hal yang demikian seperti seorang muadzin yang ingin tetap beradzan untuk mendapatkan pahala dan dia tidak mengharapkan bayaran, akan tetapi ia tetap bisa mendapatkan bayaran (gaji) sebagai haknya.

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam perbuatan yang baik, maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1017)

Maka, hendaknya kita bersemangat untuk bermanfaat bagi orang lain, mengajak kepada kebaikan, dan mencontohkan hal yang baik, yang dengannya kita berharap mendapatkan pahala yang besar dari Allah.

Wallahu a’lam

Dikutip dari kajian hadits 100 Hadits Pilihan yang disampaikan oleh Ustadz Sa’id Yai Ardiansyah pada tanggal 22 Rabi’ul Akhir 1443 H / 26 November 2021 M

Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email