Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu imam ahlus sunnah wal jama’ah. Fitnah telah terjadi di masa beliau di mana ahlus sunnah diuji dengan penguasa yang terpengaruh dengan pemahaman mu’tazilah. Aqidah mu’tazilah dijadikan sebagai dasar aqidah bagi kaum muslimin pada masa itu. Di antara cara yang mereka tempuh adalah dengan memaksa para ulama untuk menyatakan aqidah tersebut di hadapan pengikutnya yaitu kaum muslimin. Sebagian ulama mengambil rukhshah (keringanan) karena keterpaksaan dan ancaman dari penguasa. Jika tidak mengambil aqidah mu’tazilah tersebut, maka bisa disiksa bahkan dibunuh. Akan tetapi, terdapat beberapa ulama yang tidak mengambilnya dan memilih untuk mempertahankan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal di mana beliau juga paling diharapkan untuk menyatakan ucapan kekufuran, di antaranya ucapan bahwa Al Quran adalah makhluk (ciptaan). Maka, Imam Ahmad bin Hanbal bertahan dengan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, bahkan beliau menulis kitab Ushul As Sunnah ini yang berkaitan dengan prinsip-prinsip aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.

Imam Ahmad bin Hanbal lebih dikenal dalam masalah aqidah dibandingkan guru-guru beliau, di antaranya Imam Syafi’i dan guru-guru di atasnya termasuk Imam Malik dan Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhum. Pada hakikatnya, para imam tersebut memiliki aqidah yang sama, yang terlihat dari kitab-kitab yang mereka tulis, Mereka adalah imam panutan kaum muslimin ahlus sunnah wal jama’ah. Mereka tidak hanya imam dalam masalah fiqih, akan tetapi juga imam dalam masalah aqidah dan keseluruhan pemahaman dalam agama ini. Makna ‘imam’ dalam aqidah jauh lebih penting dibandingkan sekedar ‘imam’ dalam masalah fiqih. Oleh sebab itu, mereka lebih layak disebut imam ahlus sunnah wal jama’ah karena memiliki aqidah yang sama meskipun madzhab mereka berbeda. Aqidah adalah masalah yang paling penting dalam agama ini yang harus dipertahankan. Oleh sebab itulah, penting bagi kita untuk mempelajari kitab-kitab aqidah termasuk kitab Ushul As Sunnah.

Makna Ushul As Sunnah

Makna sunnah adalah seluruh ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Makna sunnah tidak dipahami secara parsial di mana salah satunya sunnah diartikan sebagai perkara yang tidak sampai pada taraf wajib. Selain itu, terkadang makna sunnah juga diartikan sebagai hadits. Adapun dalam kitab-kitab aqidah, maka makna sunnah bukanlah demikian.

Secara bahasa, makna ushul adalah apa yang dibangun di atasnya (pondasi). Makna lainnya adalah apa yang bercabang di atasnya. Sebagaimana ashlusy syajarah bermakna dasar pohon atau akar yang di atasnya ada banyak cabang baik cabang daun, buah, atau bunga. Semuanya tidak akan tumbuh dengan baik jika akarnya tidak tertancap dengan baik. Jadi, secara bahasa ushul memiliki dua makna yaitu akar (ashlusy syajarah) dan pondasi bangunan (ashlu bina). Adapun makna aqidah adalah pondasi seluruh perkara agama. Dari sini kita bisa memahami bahwa makna ushulus sunnah adalah pokok-pokok atau prinsip agama, yaitu segala perkara yang mendasar dalam agama atau disebut dengan aqidah. 

As Sunnah (aqidah) memiliki pokok-pokok dasar berupa prinsip-prinsip dasar yang dinukil dan diajarkan pertama kali oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sunnah juga mencakup apa yang dinukil dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum terutama apa saja yang mereka sepakati atau tidak ada perselisihan maupun perbedaan di antara mereka. Yaitu apa-apa yang dinukil dari para sahabat ketika mereka menjalankan agama ini pada masa khulafaur rasyidin berupa prinsip-prinsip yang mereka tegakkan dan ajarkan kepada para tabi’in. Inilah yang disebut sebagai sunnah khulafaur rasyidin. Karena sunnah mereka tidak pernah keluar dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menetapkannya tanpa ada pengingkaran dari sahabat yang lainnya. Tidaklah disebut sunnah apabila tidak disepakati atau terdapat pengingkaran dari sahabat lainnya. Contohnya seperti sikap ketika menghadapi perbedaan, maka ini bisa disebut sebagai sunnah khulafaur rasyidin. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar kita selalu berpegang teguh kepada sunnah beliau dan sunnah khulafaur rasyidin. Inilah estafet agama yang terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-‘Irbadh bin Sariyyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Kami pernah dinasihati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebuah nasihat yang amat mendalam, yang menyebabkan air mata kami berlinang dan hati kami bergetar, lalu seorang Sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini sebagai nasihat seseorang yang akan pergi, maka apa pesanmu kepada kami?’ Beliau pun bersabda: ‘Aku wasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan patuh (kepada pimpinan), meskipun ia seorang budak dari Habasyah (Ethiopia), karena sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ (pengikutku) yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kamu padanya dan gigitlah dengan geraham-geraham (mu), dan jauhilah hal-hal yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Ibnu Majah, demikian pula Syaikh Albani telah menelitinya).

Dalam hadits lain juga disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menang di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” Sedangkan di dalam haditsnya Qutaibah tidak disebutkan kata-kata, “Sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah, hadits no. 1920. Lihat Syarh Nawawi [6/544])

 

Maka, dari sini kita bisa memahami bahwa sunnah merupakan perkara mendasar dalam agama ini. Seluruh perkara dalam syariat Islam dibangun di atas aqidah Islam, baik shalat, puasa, zakat, haji, dan amalan lainnya. Allah ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’: 115)

 

Ushulussunnah mencakup sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah khulafaur rasyidin sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah di atas. Hal ini menggambarkan pentingnya berpegang teguh kepada sunnah terutama di akhir zaman ini karena terdapat banyak penyimpangan dan banyak sekali kaum muslimin yang terpengaruh dengan berbagai keyakinan di luar mereka.

Mengapa disebutkan prinsip-prinsip sunnah juga mencakup apa yang dijalankan khulafaur rasyidin dan para sahabat? 

Hal ini bisa kita pahami dari ucapan sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma bahwa para sahabat adalah teladan terbaik dalam memahami sunnah.

Beliau radhiyallahu ‘anhuma, berkata, “Barangsiapa di antara kalian yang mengambil teladan, maka hendaknya dia menjadikan teladan para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka yang paling baik hatinya di antara umat ini, paling dalam ilmunya, dan yang paling sedikit merasa terbebani dengan syariat (agama) ini dengan apa pun yang diajarkan oleh Rasulullah.”

Tidak ada rasa berat pada diri mereka dalam menjalankan agama ini. Hal inilah yang perlu dicontoh dan diteladani dari para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang paling baik (sebagaimana yang) disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma dalam atsar ini. Beliau menyatakan, “Barangsiapa yang ingin mencari teladan terutama di akhir zaman dan siapa pun yang hidup setelah zaman para sahabat, hendaknya meneladani para sahabat.”

 

Beberapa perkara yang menjadikan para sahabat layak untuk dijadikan teladan

  1. Para sahabat adalah orang yang paling baik hatinya.
  2. Para sahabat adalah orang yang paling dalam ilmunya, yaitu ilmu agama. Tidak ada yang lebih paham dan pintar dibandingkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam agama ini, karena bersumber langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Para sahabat adalah orang yang paling merasa tidak terbebani dengan syariat. Mereka senang menjalankan agama ini. Bahkan banyak di antara mereka yang mencari amalan yang lebih mendekatkan mereka kepada Allah Azza wa Jalla, bukan hanya perkara yang wajib tetapi juga perkara yang sunnah. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka.
  4. Para sahabat adalah orang yang paling lurus petunjuknya.
  5. Para sahabat adalah orang yang paling bagus keadaannya.

Ini perkara-perkara yang menjadikan para sahabat teladan bagi umat ini termasuk dalam perkara aqidah. Maka dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma, “Mereka para sahabat itu orang yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, kenalilah bagaimana mereka berjuang dalam mempertahankan agama ini. Ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak mereka. Karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” 

Inilah yang harus kita pahami bahwa sunnah itu mencakup apapun yang diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabat (meliputi) prinsip-prinsip dasar dan apa yang telah diajarkan para sahabat kepada tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan seterusnya. Itulah pemahaman yang benar dan lebih pas dengan makna sunnah.

Alhamdulillah, wallahu a’lam.

 

Dikutip dari Kajian Aqidah Kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Amin melalui Zoom pada tanggal 28 November 2021.

Penulis : Mariela Dwi Damayanti, wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email