Saudaraku, perhatikanlah hatimu tatkala kamu ingin mengoreksi kesalahan seseorang.

Apakah itu bersumber dari rasa sayangmu sebagai sesama muslim melihat saudaranya sedang terjatuh pada kesalahan dan bahaya dan ingin menyelamatkannya? Ataukah itu bersumber dari emosi sesaat dan ambisimu yang ingin menjatuhkan kedudukan saudaramu, ingin menunjukkan bahwa dirimu yang benar sedang lawanmu yang salah, dan meninggikan derajatmu di hadapan manusia?

Saudaraku, lebih mudah kita melihat kesalahan orang lain dan menyalahkannya daripada melihat kesalahan diri kita. Tatkala kita diminta menyebutkan kesalahan orang di sekitar, kita maka kita mampu menyebutkan dengan banyak, sedang ketika kita diminta menyebutkan kelemahan diri dan kesalahan kita, maka kita tidak bisa menyebutkannya. Semoga Allah melindungi kita dari ketidak ikhlasan ketika memperbaiki kesalahan orang lain.

Sebelum anda ingin memperbaiki kesalahan, maka ada hal penting yang harus anda perhatikan, sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih al Munajjid dalam buku beliau, al Asalib an Nabawiyyah fi Ta’amul Ma’a Akhto’i an Naas:

  1. Ikhlas melakukan perbaikan karena Allah
  2. Kesalahan adalah merupakan karakter asli manusia
  3. Hendaknya proses menyalahkan sesuatu dibangun di atas dalil syar’i dan disertai dengan bayyinah (fakta di lapangan) dan bukan karena ketidak tahuan atau hal berubah-ubah.
  4. Ketika kesalahan itu adalah kesalahan yang besar, maka perbaikan untuk memperbaikinya lebih kuat
  5. Perhatikan kedudukan orang yang hendak diperbaiki kesalahannya
  6. Membedakan antara orang yang salah karena ketidaktahuan dengan orang yang sengaja berbuat salah tatkala ia tahu perbuatan tersebut salah
  7. Membedakan kesalahan yang disebabkan ijtihad dan kesalahan karena niat melakukan kesalahan, kelalaian,dan meremehkan.
  8. Niat baik seseorang yang melakukan kesalahan tidak menghalangi kita mengingkari kesalahan tersebut.
  9. Adil dan tidak pilih kasih ketika memberikan peringatan pada kesalahan
  10. Waspada dari memperbaiki sebuah kesalahan yang berakibat terjadinya kesalahan lain yang lebih besar
  11. Mengetahui kesalahan yang muncul dari watak asli seseorang
  12. Membedakan kesalahan dari melanggar syariat atau melanggar hak pribadi seseorang
  13. Membedakan antara kesalahan besar dan kesalahan kecil, karena syariat membedakan antara dosa besar dan dosa kecil
  14. Membedakan antara kesalahan yang berulang dan kesalahan pertama kali
  15. Membedakan antara kesalahan yang terjadi berturut-turut dan kesalahan yang terjadi berulang dengan jarak yang berjauhan
  16. Membedakan orang menyebarkan sebuah kesalahan dan yang menutupi sebuah kesalahan
  17. Perhatian dengan orang yang agamanya masih lemah dan membutuhkan untuk melembutkan hatinya
  18. Memperhatikan kedudukan dan kekuasaan dari orang yang melakukan kesalahan
  19. Mengingkari kemungkaran pada anak-anak yang melakukan kesalahan
  20. Menghindari mengingkari wanita-wanita ajnabiyyah
  21. Tidak sibuk dengan memperbaiki akibat kesalahan dan meninggalkan pengobatan pada inti kesalahan dan sebabnya
  22. Tidak memperbesar kesalahan dan berlebihan mengungkapkannya
  23. Meninggalkan membebani dan sewenang-wenang menisbahkan seseorang dengan kesalahan serta menjauhi memaksa pengakuan dari orang yang salah terhadap kesalahannya.
  24. Memberikan waktu yang cukup dalam memperbaiki kesalahan khususnya bagi orang yang telah terbiasa melakukan kesalahan dalam waktu yang lama dari umurnya. Ini harus diikuti dengan terus menerus memberi peringatan dan perbaikan.
  25. Menjauhi menjadikan orang yang bersalah merasa dimusuhi dan lebih memperhatikan pencapaian seseorang lebih penting dari posisinya

Ditulis oleh Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy
Malang, Rumah Kontrakan Grandsuroso,
8 Oktober 2022

Print Friendly, PDF & Email