Author name: KuttabRuQu

Kantin (Kolom Parenting)

Apakah Bunda Tahu?

  Ternyata bermain itu banyak manfaatnya untuk si kecil, lho. Edukasi bisa diberikan dengan sistem belajar sambil bermain. Kira-kira apa saja sih manfaat bermain untuk anak-anak? Bermain bisa: Meningkatkan kreatifitas anak Meningkatkan kemampuan mengelola emosi Menstimulus pertumbuhan dan perkembangan otak anak Melatih interaksi sosial dan kerjasama Meningkatkan kemampuan bahasa Maa syaa Allah banyak sekali manfaat dari bermain. Salah satu permainan yang disukai anak adalah bermain pasir seperti pada gambar di atas. Permainan ini termasuk dalam jenis bermain aktif kategori Tactile, yakni permainan yang meningkatkan kemampuan jari jemari. Cocok sekali dengan ananda yang mempunyai gaya belajar kinestetik. Karena itu, yuk, luangkan waktu berkualitas kita untuk menemani mereka bermain dan mendampingi tumbuh kembang mereka. Salam hangat, Ummu Nabhan Penulis adalah pengajar PAUD dan TAUD Kuttab Rumah Qur’an

SDTA Kuttab Rumah Qur'an

Renungan Pagi: Sebuah Pinjaman yang Akan Kembali

  Pagi itu langit sedikit mendung. Sambil bersiap ke kelas bahasa Arab, saya naik ke lantai dua bersama Atikah, salah seorang santri banat kelas empat SDTA Kuttab Rumah Qur’an. Dari lantai dua saya mengarahkan pandangan ke arah tempat bermain, memperhatikan santri banin yang asyik bermain sepak bola dalam pengawasan Ustadz Lukman. Saya coba mengambil gambar, tetapi langkah dan sosok mereka tak terlihat jelas. Hasil bidikan itu didominasi hitam paranet dan hijaunya labu siam. “Kalau dari lantai tiga bagus paling.” Saya berkata pada Atikah yang diam di belakang saya, menunggu dengan penuh kesabaran. Di lantai tiga, saya mendapatkan jarak pandang yang lebih bagus. Salah satu dari santri banin jelas memimpin. Penguasaannya pada bola memang lebih baik dibanding yang lain. Di bawah paranet, di sebelah workshop urban farming, tiga bocah kelas satu menunduk saling berdekatan. Salah satu dari mereka mengulurkan tangan untuk menangkap ayam yang bertengger di pagar paranet urban farming kemudian meletakkan ayam itu ke tanah. Di jalan berpaving, ada kelompok lain yang sedang bermain. Mereka menggunakan bola yang setengah kempis, dan ingatan saya langsung menuju Nabhan. Nabhan, santri kelas kubro yang duduk di kelas tiga, kemarin masuk ke kelas saya dengan napas terengah-engah. “Ustadzah!” serunya. “Ada tendangan maut!” Pembukaan yang bombastis. “Itu, tadi, ada yang nendang bola, Ustadzah. Sampai bolong bolanya.” Saya tersenyum lebar. Nabhan hanya ingin bercerita. Ia tak menunggu saya bereaksi. Bocah itu langsung balik badan dan menghilang dari pandangan. Melihat seluruh area bermain dari lantai tiga pagi itu, membuat saya berpikir, “Akan bermain di mana mereka nanti, kalau tanah pinjaman ini sudah dikembalikan?” Area bermain di sebelah gedung SDTA Kuttab Rumah Qur’an memang tanah yang dipinjamkan. Allah memberikan banyak kemudahan pada kami, sehingga anak-anak bebas bermain di tanah yang memang belum digunakan oleh sang pemilik. Kami juga dipermudah untuk menggunakan apartemen yang belum berlanjut pembangunannya. Siapa lagi yang memudahkan izin dari pemilik tanah dan bangunan itu jika bukan Sang Khaliq? Ada sedih. Ada juga keikhlasan. Mengingatkan saya pada pinjaman yang lain lagi. Area bermain itu pinjaman yang terlihat. Hak pemilik yang harus diserahkan kembali ketika diminta. Seperti itulah segala sesuatu yang kita miliki. Anak, suami, ibu. Seluruhnya pinjaman dan amanah yang diberikan Allah. Baik atau buruk, semua hanya pinjaman. Di dalam pinjaman itu Allah menitipkan amanah berupa syariat yang diturunkan dalam Al Qur’an dan teladan rasul-Nya. Harta yang kita punya, hari-hari yang kita lewati, badan yang kita gunakan beraktivitas setiap waktu, lisan, mata, telinga, tangan, dan kaki. Berbeda dengan pemilik tanah yang memberikan pemberitahuan beberapa bulan sebelum kami tak bisa lagi menggunakan lahan itu, Allah tak memberi pengumuman kapan pinjamannya akan diambil. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali-‘Imran ayat 185) Pagi sebelum berangkat sekolah, 4 November 2021 Ditulis oleh Yusant Noor Yulia, wali kelas 5 dan 6 SDTA Kuttab Rumah Qur’an    

Faidah Singkat

Seruan untuk Calon Dokter dan Ahli Farmasi Muslim Masa Depan

    Di zaman sekarang ini, kita sangat jarang mendengar pengobatan Nabawi dipopulerkan, diutamakan dan dibesarkan.   Bagi seorang muslim yang dididik untuk mencintai nabi-Nya perlu sekali mengetahui bahwa ternyata banyak sekali petunjuk-petunjuk dari nabi kita shalallahu’alaihi wa sallam tentang pengobatan dan kesehatan. Jika kita mengaku cinta nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentunya kita berambisi mencari tahu, mengamalkan, dan menganjurkan semua arahan beliau termasuk dalam pengobatan.   Namun di zaman ini, kita jarang menemui dokter atau ahli farmasi yang melakukannya. Kita berhusnudhon, mungkin mereka belum mempelajarinya di kuliahnya. Namun, ini harusnya menjadi pelecut semangat agar sahabat muslim yang bergerak di bidang kesehatan berusaha memasukkan pengobatan Nabawi di kurikulum kedokteran atau bahkan berusaha meneliti dan mempopulerkannya dengan bekerjasama dengan para tabib yang terlebih dahulu menguasai kaidah pengobatannya.   Tulisan ini bukan terkait metode pengobatannya, hanya kami ingin dan merindukan semangat besar dari semua yang bergerak di bidang kesehatan untuk meneliti dan mengembangkan pengobatan yang disebutkan oleh nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam.     • Habbatussauda   Tahukah anda kalau habbatussauda disebutkan dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim? Artinya validitas haditsnya tidak perlu kita ragukan lagi.   Imam Bukhari dan Imam Muslim memiliki perhatian besar pada hadits habbatussauda. Ini bisa dilihat dengan penulisan bab yang mengumpulkan hadits hadits khusus tentang habbatussauda.   Imam Bukhari rahimahullah mengatakan dalam   بَابُ الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ. (Bab Habbatussauda)   Imam Muslim rahimahullah mengatakan dalam,   بَابُ التَّدَاوِي بِالْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ. (Bab Berobat dengan Habbatussauda’)   Sekarang mari kita simak satu hadits saja.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu   ” فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ، إِلَّا السَّامَ “. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ : وَالسَّامُ : الْمَوْتُ، وَالْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ : الشُّونِيزُ.   “Pada habbatussauda ada kesembuhan dari semua penyakit, kecuali as Saam”   Ibnu Syihab (perawi hadits ini) mengatakan bahwa as Saam adalah kematian, habbatussauda adalah asy Syuniiz. (Hadits Bukhari nomor 5688, Muslim nomor 2215)   • Kayu India (Qusthul Hind)   Imam Bukhari rahimahullah berkata dalam   بَابُ السَّعُوطِ بِالْقُسْطِ الْهِنْدِيِّ الْبَحْرِيِّ، (Bab Qusthul Hind dan Qusthul Bahriy)   Untuk memahami, mari kita simak ucapan Abu Bakar bin Al ‘Arobiy   القسط نوعان: هندي وهو أسود، وبحري وهو أبيض، والهندي أشدهما حرارة   “Al Qusthu ada dua macam; India berwarna hitam dan Bahrain berwarna putih. Al Qusthu dari India lebih panas.”   Al Qusthu ini adalah kayu yang biasanya digunakan untuk obat dan dibakar untuk pengharum ruangan.   Imam Muslim rahimahullah berkata dalam   بَابٌ : التَّدَاوِي بِالْعُودِ الْهِنْدِيِّ، وَهُوَ الْكُسْتُ. (Bab Pengobatan Dengan Kayu India yaitu Al Kustu)   Al-Qusthu kadang bisa juga disebut Al Kustu. Ini dijelaskan oleh Imam Bukhari dalam judul babnya.   Sekarang mari kita simak satu haditsnya saja,   Dari Ummu Qais binti Mihshan, beliau mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,   عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ ؛ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ، يُسْتَعَطُ بِهِ مِنَ الْعُذْرَةِ ، وَيُلَدُّ بِهِ مِنْ ذَاتِ الْجَنْبِ   “Ambillah kayu India ini, pada kayu ini ada 7 kesembuhan. Dihirup untuk penyakit ‘Udzroh dan menyembuhkan Dzatu Al Janbi.”   العذرة: وجع وورم في الحلق.   “‘Udzroh adalah nyeri dan bengkak pada tenggorokan.”   رياح غليظة تحتقن بين الصفاقات والعضل التي في الصدر والأضلاع فتحدث وجعا.   “Angin banyak yang terkumpul antara tulang dan otot di dada dan dan tulang rusuk sehingga menyebabkan nyeri.”   Sekarang saya ajak anda menelaah keterangan Ibnu Hajar Al Asqolani yang sangat menarik ketika menjelaskan manfaat Qusthu Al Hind ini. Beliau menjelaskan tentang 7 kesembuhan,   أُصُولَ صِفَةَ التَّدَاوِي بِهَا، لِأَنَّهَا إِمَّا طِلَاءٌ أَوْ شُرْبٌ أَوْ تَكْمِيدٌ أَوْ تَنْطِيلٌ أَوْ تَبْخِيرٌ أَوْ سَعُوطٌ أَوْ لَدُودٌ،   Pokok dasar sifat pengobatan ada 7, di antaranya; Thilaa’ (mengoles), Syurbun (diminum), Takmid (dibalut ramuan), Tanthil, Tabkhir (dibakar dihirup uapnya), Sa’uth (diteteskan di hidung), dan Ladud.   فَالطِّلَاءُ يَدْخُلُ فِي الْمَرَاهِمِ وَيُحَلَّى بِالزَّيْتِ وَيُلَطَّخُ وَكَذَا التَّكْمِيدُ،   “Maka ath-Thila’ adalah memasukkan dalam semacam salep ditambah zaitun dan dioleskan. Begitu juga at-Takmid.”   وَالشُّرْبُ يُسْحَقُ وَيُجْعَلُ فِي عَسَلٍ أَوْ مَاءٍ أَوْ غَيْرِهِمَا، وَكَذَا التَّنْطِيلُ،   “Asy-Syurb adalah dengan menghancurkan dan melarutkan dalam madu atau air atau selain keduanya, begitu juga at-Tanthil.”   وَالسَّعُوطُ يُسْحَقُ فِي زَيْتٍ وَيُقْطَرُ فِي الْأَنْفِ، وَكَذَا الدُّهْنُ   “As Sa’uth adalah menghancurkan sesuatu dalam zaitun kemudian diteteskan di hidung, begitu juga dengan ad-Duhn.”   وَالتَّبْخِيرُ وَاضِحٌ،   Tabkhir sudah jelas (dibakar untuk dihirup asapnya). (Fathul Bari)   Dalam Shahih Bukhari ada kitab ath Thib (Obat-obatan). Bukankah akan sangat menarik jika para dokter dan ahli farmasi ikut mengkaji hadits demi hadits dalam kitab ini dan menjadikannya sebagai sumber penelitian?   (Fawaid Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy)   Ingin mendapatkan faidah harian seperti ini? Yuk, gabung di grup info Kuttab Rumah Qur’an!   https://chat.whatsapp.com/K4dODXojzlF5sisFKCq1Aq Seruan untuk Calon Dokter dan Ahli Farmasi Muslim Masa Depan Di zaman sekarang ini, kita sangat jarang mendengar pengobatan Nabawi dipopulerkan, diutamakan dan dibesarkan. Bagi seorang muslim yang dididik untuk mencintai nabi-Nya perlu sekali mengetahui bahwa ternyata banyak sekali petunjuk-petunjuk dari nabi kita shalallahu’alaihi wa sallam tentang pengobatan dan kesehatan. Jika kita mengaku cinta nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentunya kita berambisi mencari tahu, mengamalkan, dan menganjurkan semua arahan beliau termasuk dalam pengobatan. Namun di zaman ini, kita jarang menemui dokter atau ahli farmasi yang melakukannya. Kita berhusnudhon, mungkin mereka belum mempelajarinya di kuliahnya. Namun, ini harusnya menjadi pelecut semangat agar sahabat muslim yang bergerak di bidang kesehatan berusaha memasukkan pengobatan Nabawi di kurikulum kedokteran atau bahkan berusaha meneliti dan mempopulerkannya dengan bekerjasama dengan para tabib yang terlebih dahulu menguasai kaidah pengobatannya. Tulisan ini bukan terkait metode pengobatannya, hanya kami ingin dan merindukan semangat besar dari semua yang bergerak di bidang kesehatan untuk meneliti dan mengembangkan pengobatan yang disebutkan oleh nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam.   • Habbatussauda Tahukah anda kalau habbatussauda disebutkan dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim? Artinya validitas haditsnya tidak perlu kita ragukan lagi. Imam Bukhari dan Imam Muslim memiliki perhatian besar pada hadits habbatussauda. Ini bisa dilihat dengan penulisan bab yang mengumpulkan hadits hadits khusus tentang habbatussauda. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan dalam بَابُ الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ. (Bab Habbatussauda) Imam Muslim rahimahullah mengatakan dalam, بَابُ التَّدَاوِي بِالْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ. (Bab Berobat dengan Habbatussauda’) Sekarang mari kita simak

Faidah Singkat

Sanad Bukan untuk Sombong, Namun Ada Amanah Besar

  Syaikhunaa Abu Shofiyyah pernah menasehati kami, “Sanad adalah masalah keberkahan suatu ilmu, dan bukan masalah angka serta bilangan jarak antara dia dan sumber ilmu.”   “Jika anda memiliki sanad, maka ada tanggung jawab besar untuk menjaga periwayatan, kebenaran lafazh, dan pengajaran kepada murid-murid anda.”   Sebuah nasehat yang menggetarkan relung jiwa kami yang paling dalam. Sanad bukan untuk sombong. Sanad bukan untuk gaya. Tapi keberkahan dan tanggung jawab ilmu.   Beliau juga pernah memberi nasehat,   “Tahammul Ada’ adalah penting dalam mendapatkan sanad.”   Apa itu Tahammul?   Tahammul adalah cara seorang murid mendapatkan ilmu dari gurunya. Ada beberapa tingkatan dalam tahammul. Diantaranya,   – Sama’ (mendengar langsung periwayatan dari guru) – Qiro’ah (murid membacakan kepada guru atau mendengar orang lain membaca kepada guru) – Ijazah (guru memberikan periwayatan ijazah kepada murid untuk meriwayatkan kembali tanpa murid membaca atau mendengar langsung dari guru) – Munawalah – Mukatabah – I’lam – Washiyah – Wijadah   Apa itu Al Ada’?   Al Ada’ adalah lafazh yang kita gunakan untuk meriwayatkan kepada murid.   Jika anda mendapatkan ilmu dari hanya membaca buku, maka itu adalah wijadah, dan wijadah menurut ulama tidak teranggap kecuali disertai dengan ijazah.   Faidah besar ketika mempelajari ilmu dengan memperhatikan tahamul ada’ dalam periwayatan adalah kita memiliki ikatan hati yang kuat dengan guru-guru kita yang telah memberikan riwayat dan keilmuan.   Penting juga bagi kita untuk memperhatikan kualitas sanad, lafazh yang diriwayatkan dan juga diroyah (pemahaman) dari ilmu yang kita dapatkan.   Ditulis oleh Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy Rumah Ibu, 8 Safar 1443/15 September 2021   Di tengah mengemban amanah besar dari sanad-sanad kitab Aqidah, Al Qur’an, kitab Tajwid, kitab Hadits, Kitab Sejarah, dan Kitab Bahasa Arab. Semoga Allah memberi kekuatan dan kemampuan untuk menunaikannya.   (Fawaid Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy)   Ingin mendapatkan faidah harian seperti ini? yuk, gabung di grup info Kuttab Rumah Qur’an!   https://chat.whatsapp.com/K4dODXojzlF5sisFKCq1Aq

Faidah Singkat

Jangan Berhenti Di Tengah Jalan

Pada muhadhoroh ke-7 Kitab at Tuhfatu as Saniyah Syarh al Arba’un an Nawawiyah, Syaikhunaa Kholid Al Juhani menasehati kita terkait cara mencari ilmu, yang intinya “jangan anda berpindah-pindah metode, manhaj, atau kitab dalam mempelajari sesuatu.” Beliau mengumpamakan ketika anda berjalan menuju Syam. Anda berangkat dari suatu kota dengan suatu rute dan jalan tertutup. Kemudian di tengah jalan, ada yang menyeru untuk mengambil jalan lain. Anda mengikuti seruan itu. Setelah mengambil jalan lain, ada lagi yang menyeru untuk mengambil jalan lain dan anda berpindah lagi. Maka kapan anda bisa sampai ke Syam? Hidup anda akan habis untuk berpindah-pindah jalan dan tidak pernah sampai ke Syam. Perumpamaan beliau ini luar biasa. Itulah sebabnya para ulama sering menasehati, sebelum mempelajari sesuatu kita perlu mengetahui dulu gambaran global sesuatu itu. Para ulama membuat “mabadi’ ‘asyroh” agar tergambar keseluruhan ilmu sebelum kita menceburkan diri pada ilmu tersebut. Jika kita berhenti sebelum menyelesaikan belajar ilmu itu, maka kita akan membuang banyak waktu dalam masa kehidupan kita. Para ulama juga menasehati sebelum belajar kepada guru, kita harus benar-benar tahu guru yang akan kita ambil ilmunya. Bahkan mereka menasehati untuk tidak buru-buru belajar dengan tinggal sementara di dekat calon gurunya untuk mengetahui keseharian dan kapasitas calon guru tersebut. Silahkan baca kitab Ta’limu Al Muta’alim karya Syaikh az Zarnuji, kitab Hilyah Tholibi Al ‘Ilmi karya Syaikh Bakr Abu Zaid beserta syarahnya dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin. Semoga bermanfaat. (Fawaid Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy) Ingin mendapatkan faidah harian seperti ini? Yuk, gabung di grup info Kuttab Rumah Qur’an! https://chat.whatsapp.com/K4dODXojzlF5sisFKCq1Aq

Scroll to Top