Author name: KuttabRuQu

Kajian Hadits Shahih Al Bukhari

Perintah Imam kepada Rakyat Menurut Kemampuan Mereka

Hadits ke-1275 | Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu 1275. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Pada hari ini saya ditemui oleh seorang laki-laki yang bertanya mengenai sesuatu yang tidak saya ketahui jawabannya. Dia bertanya, “Bagaimana menurut kamu seorang laki-laki yang mampu dan giat pergi bertempur menyertai pemimpin-pemimpin kami, kemudian pemimpin tersebut memerintahkan kepada kami hal-hal yang tidak mampu kami laksanakan?” Abdullah bin Masud menjawab, “Demi Allah saya tidak tahu apa yang harus saya berikan sebagai jawaban kepadamu. Namun selama kami menyertai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau tidak memerintahkan sesuatu yang tidak mampu kami laksanakan. Siapa pun di antara kamu selalu berada dalam kebaikan selama ia bertakwa kepada Allah. Orang yang meragukan sesuatu sebaiknya bertanya kepada orang lain yang bisa menjelaskan dengan jawaban yang benar. Tetapi akan datang suatu masa yang ketika itu kamu tidak dapat menemukan orang yang bisa memberikan jawaban dengan benar. Demi Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia! Saya memisalkan keadaan dunia ini seperti kolam, airnya yang bening diminum dan lambat laun akan habis, sedangkan lumpurnya yang keruh dibiarkan tersisa.” (Mungkin maksudnya semakin hari orang-orang shalih semakin berkurang sehingga yang tersisa banyak adalah orang-orang yang durhaka.) (HR. Al Bukhari no. 2964) Penjelasan Hadits Tujuan dijadikannya imam atau pemimpin adalah untuk memberikan kemaslahatan atau kebaikan kepada Allah. Seseorang datang kepada Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan bertanya sesuatu yang Abdullah bin Masud tidak tahu jawabannya. Dia bertanya tentang seorang pemimpin yang memerintahkan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh rakyatnya. Beliau menjawab tidak tahu dan hanya mengisahkan bagaimana beliau saat dalam kepemimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak pernah memerintahkan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh rakyat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara hikmahnya adalah kita harus mengikuti sunnah (jalan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin karena tidak ada pemimpin dan kepemimpinan sebaik mereka, bahkan sekelas kepemimpinan Muawiyyah sekali pun. Tidak ada rakyat yang tidak tercukupi kebutuhannya. Maka Abdullah bin Mas’ud mengisahkan bagaimana kepemimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah membebani orang lain yaitu rakyat beliau. Abdullah bin Mas’ud menasihati untuk selalu bertakwa sehingga mereka selalu dalam kebaikan. Ketika datang keraguan, maka mereka diminta untuk menanyakan hal tersebut kepada orang yang bisa menjelaskan kebenaran kepada mereka. Akan tetapi akan datang masa di mana tidak ada lagi orang yang bisa menjelaskan tentang kebenaran. Karena semakin berkembangnya zaman, dunia ini akan semakin menurun kualitasnya. Abdullah bin Mas’ud mengibaratkan dunia ini seperti kolam yang bening airnya, lalu lambat laun airnya akan habis dan hanya menyisakan lumpur yang keruh. Inilah hakikat dunia yang sangat rendah. Ambillah bagian dari dunia ini sesuai kebutuhan saja. Wallahu a’lam Dikutip dari kajian hadits Shahih Al Bukhari yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Amin pada tanggal 09 Rabi’ul Akhir 1443 H / 14 November 2021 M. Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an).                

Artikel

Jembatan Darurat

Sebuah siang di bulan November. Di SDTA Kuttab Rumah Qur’an yang kini berlantai tiga, kelas Bahasa Arab dimulai. Anak-anak kelas empat naik ke lantai paling atas sambil bercanda. Kelas empat SDTA Kuttab Rumah Qur’an hanya memiliki enam orang santri. Satu banat dan lima banin. Hari itu –qaddarullah– satu orang tidak masuk karena sakit, dan seorang lagi izin karena sedang mengalami musibah—kehilangan salah satu anggota keluarga terdekat. Biasanya, santri akan membawa serta sandal atau sepatu mereka jika ingin ke lantai tiga. Anak tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai tiga memang belum dipasang keramik. Serpihan semen dan debu bakal menempel di kaos kaki kalau kita tak memakai sepatu atau sandal. Sekalipun tahu soal itu, nyatanya keempat banin yang hadir kompak tak beralas kaki. Sambil jalan berjinjit, mereka cepat-cepat naik ke gazebo terdekat. Pelajaran Durusul Lughoh disambut dengan antusias. Pasalnya, whiteboard hanya ada di gazebo sebelah. Lantai masih digenangi air sisa hujan kemarin, dan pengajar bahasa Arab memutuskan untuk tetap di gazebo yang mereka tempati agar kaos kaki mereka tidak basah. Buku dimasukkan, dan tanya jawab dilakukan secara lisan. Pelajaran Durusul Lughoh disambung dengan hafalan adab santri Kuttab Rumah Qur’an. Satu per satu menyetorkan hafalan. Ada yang menyetorkan dua bab sekaligus, ada juga yang hanya setoran satu bab. Waktu untuk sholat Zhuhur masih dua puluh menit lagi. Pelajaran adab sudah diakhiri. Doa kafaratul majelis sudah selesai dibaca. Entah siapa yang memulai, mereka berempat sudah turun dari gazebo. Salah satunya sibuk memberi petunjuk. Ia mau tangga kayu yang tersandar di dinding lantai tiga diletakkan sejajar dengan lantai. “Agak sinikan! Sini, lho! Lho, kok malah ke sana! Bukan gituuu.” Begitulah ia terus memberi komando. Ketika yang dilaksanakan tak sesuai keinginan, akhirnya ia turun tangan langsung memindahkan tangga sambil menggerutu, “Gini lho. Masa nggak bisa.” “Naaah, kalau gini kan bisa pindah ke gazebo sebelah. Kaos kakinya nggak basah.” Matanya berbinar, barangkali bangga karena sudah melakukan sesuatu yang berguna. Berempat, bocah-bocah itu berbaris melangkah di atas sisi tangga yang sudah tergeletak di tengah genangan air. Mereka sibuk memperbaiki ‘arsitektur’ jembatan daruratnya. Saringan pasir ikut diletakkan di lantai, supaya mereka tidak harus melompat dari gazebo ke tangga panjang. Cukup melangkah saja. Untuk tambahan jembatan di bagian dekat gazebo sebelah, yang lebih jauh dari anak tangga penghubung lantai dua dan lantai tiga, mereka memindahkan beberapa bata ringan sebagai pijakan. Celoteh sang komandan sungguh membuat geli, “Nah, ini bisa bikin begini perlu IQ tinggi ini.” MasyaAllah. Semoga mereka tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang sigap membaca situasi dan tanggap memberikan manfaat semaksimal yang mereka mampu. Setelah jembatan jadi, apa yang mereka lakukan? Namanya juga anak-anak. Setelah bosan berjalan menyusuri ‘jembatan’, tentu saja, mereka turun ke tengah genangan air. Sang komandan sibuk menyapu air yang menggenang di tengah-tengah sambil terus bertanya, kenapa sih airnya kok selalu kembali lagi? Kan nggak kering-kering jadinya! Ditulis oleh Ustadzah Yusant (Pengajar dan wali kelas 5-6 SDTA Kuttab Rumah Qur’an)

Kajian Hadits Shahih Al Bukhari

Baiat untuk Tidak Melarikan Diri dari Medan Tempur

Hadits ke-1271 | Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma 1271. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Setahun setelah perjanjian Hudaibiyah, kami tiba kembali di Hudaibiyah. Tidak ada dua orang dari kami yang sepakat dengan pendapat yang sama di bawah pohon tempat kami menyatakan baiat, sebagai rahmat dari Allah.” Nafi’ (perawi) ditanya, “Baiat apa yang diminta oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada mereka? Apakah baiat untuk rela mati?” Dia menjawab, “Tidak. Nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta mereka menyatakan baiat untuk bersabar.” (HR. Al Bukhari no 2958) Penjelasan Hadits Perjanjian Hudaibiyah terjadi ketika Rasulullah dan para sahabat pergi untuk mengerjakan umrah. Saat sampai di Hudaibiyah, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu diutus ke Mekah untuk menemui pimpinan Quraisy. Lalu tersebarlah berita bahwa Utsman telah dibunuh. Padahal berita tersebut palsu. Lalu terjadi baiat yang dikenal dengan baiat Baitur Ridwan. Allah telah ridha kepada mereka saat mereka berbaiat di bawah pohon tersebut. Ada sekitar 1400-an orang yang ikut berbaiat membela Utsman bin Affan. Seluruh orang yang ikut dalam rombongan umrah termasuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut berbaiat untuk Utsman bin Affan kecuali satu orang. Pada tahun setelahnya, Abdullah bin Umar dan para sahabat kembali melewati Hudaibiyah tempat berbaiat. Akan tetapi mereka berselisih dan tidak ada yang sepakat di pohon mana mereka dulu berbaiat. Allah membuat mereka lupa di mana pohonnya padahal pohon tersebut disebutkan dalam Al Qur’an. لَّقَدۡ رَضِیَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ إِذۡ یُبَایِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِی قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِینَةَ عَلَیۡهِمۡ وَأَثَـٰبَهُمۡ فَتۡحࣰا قَرِیبࣰا “Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fatih: 18) Di antara hikmahnya adalah yang paling penting dalam peristiwa ini ialah baiatnya, orang-orang yang ikut dalam baiat, bukan pohonnya yang mana yang menjadi poin pentingnya. Bahkan akan menimbulkan mudharat jika seandainya pohon tersebut diketahui, seperti menjadi tempat kesyirikan dan sebagainya. “…Tidak ada dua orang dari kami yang sepakat dengan pendapat yang sama di bawah pohon tempat kami menyatakan baiat, sebagai rahmat dari Allah…” Maksud ‘rahmat Allah’ di sini bisa jadi keduanya yaitu tempat baiat dan sifat tupa para sahabat terhadap pohon tersebut. “…Nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta mereka menyatakan baiat untuk bersabar…” Yang dimaksud ‘baiat untuk bersabar’ di sini adalah sabar untuk siap mati. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran. Ketika pada masa itu orang-orang banyak yang datang melewati daerah ini, yaitu daerah Hudaibiyah, dan menemukan pohon ini dan itu, mereka mulai beranggapan bahwa pohon tersebut adalah pohon yang digunakan untuk baiat Baitur Ridwan. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu lalu memerintahkan para sahabat untuk menebang pohon tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencegah tumbuhnya benih kesyirikan pada masa yang akan datang. Belajarlah dari kesyirikan yang terjadi pertama kali di bumi tidak lama setelah masa Nabi Nuh ‘alaihissalam. Setan terus bersabar agar bisa menyesatkan manusia. Pada awalnya orang-orang shalih pada masa Nabi Nuh yang telah meninggal hanya dikenang jasa-jasanya. Kemudian seiring dengan berkembangnya zaman, setan menggoda mereka agar menjadikan orang-orang shalih yang telah wafat ini sebagai perantara untuk berdoa kepada Allah. Mereka berbuat kesyirikan dengan meminta-minta kepada selain Allah. Hadits ke-1272 | Hadits Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu 1272. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Pada saat perang Al Harrah, saya ditemui oleh seseorang kemudian ia berkata kepada saya, “Ibnu Hanzhalah meminta orang-orang menyatakan baiat untuk rela mati.” Kemudian saya berkata, “Saya tidak akan memberikan baiat untuk hal ini kepada siapapun sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” (HR. Al Bukhari no. 2959) Penjelasan Hadits Perang Al Harrah termasuk perang fitnah. Perang fitnah adalah perang yang terjadi antara sesama kaum muslimin. Di antara perang fitnah yang pernah terjadi adalah Perang Jamal dan Perang Shiffin. Perang Jamal adalah perang yang terjadi di mana pada awalnya para sahabat telah bersepakat pada suatu masalah yang mereka perselisihkan. Akan tetapi, ada ketidaksenangan dari pihak lain terhadap kesepakatan kedamaian tersebut sehingga menyulut peperangan. Perang Al Harrah terjadi di Masjidil Haram. Pada perang tersebut, Abdullah bin Zubair ikut terbunuh. Maka Ibnu Handzalah meminta orang-orang berbaiat agar siap mati. Akan tetapi Abdullah bin Sayyid tidak mau berbaiat siap mati kepada siapa pun setelah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tidak ada tuntunan dan syariat untuk melakukan hal tersebut. Akan tetapi, yang disyariatkan adalah baiat untuk taat kepada pemimpin yang sah dari kaum muslimin. Hadits ke-1273 | Hadits Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu 1273. Diriwayatkan dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya telah menyatakan baiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian saya bernaung di bawah pohon. Ketika orang-orang yang mengerumuni Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggal sedikit, beliau bertanya, “Wahai putra Al Akwa’! Apakah kamu belum menyatakan baiat?” Saya menjawab, “Ya, Rasulullah! Saya sudah menyatakan baiat.” Beliau bersabda, “Ulangi!” Maka saya memberikan baiat yang kedua kalinya. Ditanyakan oleh seseorang kepadanya, “Baiat apa yang kalian berikan pada saat itu?” Dia menjawab, “Baiat untuk rela mati.” (HR. Bukhari no. 2960) Penjelasan Hadits Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu anhu diminta untuk kembali berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Baiat tersebut diulangi kembali olehnya yaitu baiat untuk siap mati, yang sifatnya lebih khusus. Tidak semua orang dibaiat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk baiat siap mati. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ridha terhadap semua yang hadir dalam baiat. Baiat yang pertama adalah baiat untuk bersabar, sedangkan baiat yang kedua adalah baiat untuk siap mati. Kedua baiat tersebut tidak saling bertentangan dalam hadits-hadits yang telah disebutkan di atas. Keduanya adalah baiat untuk siap membela Islam. Hadits ke-1274 | Hadits Mujasyi’ radhiyallahu ‘anhu 1274. Diriwayatkan dari Mujasyi’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya dan saudara laki-laki saya menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian saya berkata kepada beliau, “Terimalah baiat kami untuk berhijrah.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hijrah sudah berlalu bagi orang-orang yang menjalaninya.” Saya katakan lagi, “Lalu bai’at apa yang anda terima dari kami?” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Baiat untuk Islam dan jihad.” (HR. Al Bukhari no. 2962 dan 2963) Penjelasan

Thibbun Nabawiy

Petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Penyakit dan Obatnya Menurut Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

———– Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, فَإِنَّخَيْرَالْحَدِيثِكِتَابُاللَّهِ،وَخَيْرُالْهُدَىهُدَىمُحَمَّدٍ “Sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu alaihi wa  sallam.” (Hadits Muslim nomor 867) ———-   Jika ada orang ditanya, “Bolehkan minum sirup?” Maka jawabannya, “Boleh, karena Islam tidak melarangnya.” Jika disodorkan madu dan sirup apakah boleh orang minum keduanya? Maka jawabannya boleh, dengan alasan yang sama. Namun, jika diminta kepada orang itu, pilihlah di antara sirup dan madu yang terbaik untuk kesehatanmu, maka semua sepakat bahwa madu adalah pilihannya. Dalam ilmu pengobatan dan ilmu pendidikan, Allah dan Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk-petunjuk luar biasa dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Namun, terkadang kita tidak mau mengambilnya karena pandangan kita selama ini takjub dengan selain keduanya. Secara hukum fiqih, semua urusan dunia boleh kecuali ada larangannya. Namun, di sana ada yang terbaik di antara yang boleh, yaitu yang selaras dengan petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah. Nah, tulisan ini adalah sekedar memaparkan penjelasan ulama multitalenta yang pandangannya selalu takjub dengan Al Qur’an dan As Sunnah sehingga seumur hidupnya digunakan untuk membelanya dalam bidang ilmu penyakit dan pengobatannya. Beliau adalah Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah rohimahullah. Mari kita simak untaian kaidah-kaidah pengobatan yang beliau sebutkan.   Sikap Jika Pengobatan Nabi Tidak Masuk Akal Menurut Para Dokter Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah berkata, ونبينمافيهمنالحكمةالتيتعجزعقولأكثرالأطباءعنالوصولإليها،وأننسبةطبهمإليهاكنسبةطبالعجائزإلىطبهم Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ilmu pengobatan memiliki hikmah yang membuat lemah akal kebanyakan dokter/ ahli pengobatan untuk memahaminya. Permisalan pengobatan mereka dibanding pengobatan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti obat yang sangat lemah dibandingkan pengobatan mereka. Selesai nukilan Ini kaidah penting kalau kita memahami bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang pengobatan nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dianggap tidak masuk akal. Ini bukan berarti nabi shalallahu’alaihi wa sallam yang keliru, tetapi ilmu para dokterlah yang belum sampai kepadanya.   Dua Macam Penyakit Menurut Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah berkata, المرض: نوعانمرضالقلوب،ومرضالأبدان،وهمامذكورانفيالقرآن. ومرضالقلوب: نوعان: مرضشبهةوشك،ومرضشهوةوغي،وكلاهمافيالقرآن “Penyakit  itu ada dua macam, (1) penyakit hati, dan (2) penyakit badan. Kedua macam penyakit ini disebutkan dalam Al Qur’an. Penyakit hati ada dua macam, (1) Penyakit syubhat dan keraguan; dan (2) penyakit syahwat dan penyimpangan.” Selesai nukilan Nukilan ini adalah bukti kecintaan Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah pada kaidah-kaidah dalam Al Qur’an. Beliau mampu mengambil istinbath dengan kemampuan beliau dari Al Qur’an dan merumuskan dua macam penyakit. Dalam kalimat beliau ini juga terkandung faidah pengqiyasan antara penyakit hati dan penyakit badan serta cara mengobatinya.   3 Kaidah Dalam Pengobatan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah berkata, أنقواعدطبالأبدانثلاثةحفظالصحة،والحميةعنالمؤذي،واستفراغالموادالفاسدة،فذكرسبحانههذهالأصولالثلاثةفيهذهالمواضعالثلاثة. “Kaidah dalam mengobati badan ada tiga, yaitu: (1) menjaga kesehatan, (2) menjaga diri dari penyebab sakit, (3) mengeluarkan unsur yang buruk dari badan. Allah menyebutkan 3 kaidah pokok ini di 3 tempat (dalam Al Qur’an).” Selesai nukilan Di sini Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah memaparkan 3 kaidah dasar untuk mengobati penyakit. Bahkan, beliau mengatakan 3 kaidah ini disebut dalam Al Qur’an. Ini lagi-lagi menunjukkan kecintaan beliau dengan Al Qur’an. Beliau mampu mengambil faidah ilmu kedokteran dari Al Qur’an.   Obat Kimia/ Farmasi Menurut Ibnul Qoyyim Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah berkata, فَكَانَمِنْهَدْيِهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفِعْلُالتَّدَاوِيفِينَفْسِهِ،وَالْأَمْرُبِهِلِمَنْأَصَابَهُمَرَضٌمِنْأَهْلِهِوَأَصْحَابِهِ،وَلَكِنْلَمْيَكُنْمِنْهَدْيِهِوَلَاهَدْيِأَصْحَابِهِاسْتِعْمَالُهَذِهِالْأَدْوِيَةِالْمُرَكَّبَةِالَّتِيتُسَمَّىأَقْرَبَاذِينَ،بَلْكَانَغَالِبُأَدْوِيَتِهِمْبِالْمُفْرَدَاتِ،وَرُبَّمَاأَضَافُواإِلَىالْمُفْرَدِمَايُعَاوِنُهُ،أَوْيَكْسِرُسَوْرَتَهُ،وَهَذَاغَالِبُطِبِّالْأُمَمِعَلَىاخْتِلَافِأَجْنَاسِهَامِنَالْعَرَبِوَالتُّرْكِ،وَأَهْلِالْبَوَادِيقَاطِبَةً،وَإِنَّمَاعُنِيَبِالْمُرَكَّبَاتِالرُّومُوَالْيُونَانِيُّونَ،وَأَكْثَرُطِبِّالْهِنْدِبِالْمُفْرَدَاتِ. “Adalah termasuk petunjuk nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengobati diri sendiri, dan memerintahkannya juga pada sahabat beliau dan keluarga beliau yang tertimpa penyakit. Bukanlah termasuk petunjuk beliau dan para sahabat beliau untuk berobat dengan obat murokkabah (ramuan obat) yang dinamakan aqrobadzin (obat farmasi/kimia), bahkan pada umumnya beliau berobat dengan obat tunggal. Terkadang beliau mencampur dengan obat tunggal lain yang mendukung kinerjanya, atau menghancurkan bentuknya. Seperti inilah pengobatan seluruh Arab, Turki, dan penduduk padang pasir dengan berbagai jenisnya. Kaum yang memiliki perhatian pada obat murokkab adalah kaum Romawi dan Yunani sedangkan kebanyakan obat kaum India adalah obat tunggal.” Selesai nukilan Sebenarnya banyak sekali kaidah-kaidah pengobatan menarik dalam buku beliau ini, tetapi tujuan tulisan ini hanyalah sekedar mendorong Anda untuk kembali menggali keilmuan Islam agar kita memegang kendali peradaban dan tidak hanya menjadi pengikut dari peradaban kaum lain.   Kesimpulan Pada zaman modern ini, sangat sedikit sekali orang yang perhatian dengan pengobatan nabawi. Jarang kita temui solusi-solusi pengobatan dan penelitiannya dengan mengusung pengobatan nabawi. Alangkah indahnya jika kaum muslimin seluruhnya tergerak untuk kembali mempelajari harta karun keilmuan yang dirumuskan para ulama kita dizaman lampau dan mengembangkannya dizaman sekarang. Para ulama kita memiliki perbendaharaan ilmu yang dicuri sebagian oleh peradaban barat dan mereka mengembangkannya, mereka berhasil memimpin dunia dengan cara ini. Bagaimana jika kita yang menggali harta karun keilmuan para ulama kita sendiri kemudian mengembangkannya? Mungkin Allah akan mengembalikan kejayaan peradaban kaum muslimin dimasa depan karena mereka kembali pada agama mereka sendiri dan para pembawanya. Banyak sekali harta karun keilmuan yang belum tergali dari para ulama Islam. Ilmu pendidikan, ilmu parenting, ilmu kedokteran, ilmu sains, ilmu tata kota, dll. Semoga Allah menjadikan Anda tergerak untuk kembali mengarahkan pandangan pada agama kita setelah anda membaca keajaiban ilmu pengobatan yang disebutkan Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah ini.   04.00, Sabtu, 18 Safar 1443 (25 September 2021) Rumah kontrakan yang 5 hari lagi habis masanya: Perumahan Grandsuroso 1, kavling B18, Malang Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy Sumber Bacaan: Zaadul Maad Karya Ibnul Qayyim al Jauziyyah

Kajian Parenting

Muqaddimah 1 – Rokaiz fii Tarbiyatil Abna’

Rakaiz fi Tarbiyatil Abna’ – Muqaddimah 1   Tentang Kitab Kitab Rakaiz fi Tarbiyatil Abna’ adalah kitab yang membahas pilar-pilar atau tiang-tiang penyangga yang utama dalam mendidik anak. Penulis kitab ini adalah Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al Badr hafizhahullah. Kitab ini membahas beberapa poin dalam mendidik anak-anak. Kitab kecil ini cukup ringkas hanya berisi 27 halaman. Penulis kitab menjelaskan dalam muqaddimah tentang pentingnya mendidik anak. Beliau menuliskan beberapa dalil dari Al Quran maupun As Sunnah. Beliau menyebutkan bahwa orang yang tidak perhatian terhadap anak (membiarkannya saja tanpa mendidiknya), maka orang seperti ini adalah orang yang tidak amanah. Konsep pendidikan Islam tentu berbeda dengan konsep pendidikan barat. Pendidikan barat ada yang bersifat mendisiplinkan, ada juga yang bersifat membiarkan dengan alasan memberikan kasih sayang tetapi secara berlebihan. Anak dibiarkan mengikuti apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, konsep pendidikan dalam Islam tidak demikian. Marah diperbolehkan untuk mendisiplinkan anak dengan memperhatikan beberapa aturan. Ada konsep tarbiyah dan ta’dib dalam Islam. Tarbiyah adalah memberikan pendidikan dan pengajaran tentang kebaikan (ta’lim). Sedangkan ta’dib adalah mendisiplinkan anak. Apabila anak keliru, berbuat kesalahan, maka terdapat beberapa tahapan untuk meluruskan kesalahan anak. Semua ada kaidah dan aturannya, termasuk dalam hal memukul anak. Seperti usia berapa anak boleh dipukul, bagian tubuh mana saja yang boleh dipukul dan tidak boleh dipukul, dan sebagainya. Anak adalah amanah. Ketika kita membiarkan dan tidak mendidik anak, itu artinya kita tidak amanah kepada Allah. Namun, ketika kita menasihati dan mengarahkan mereka, lalu mendisiplinkan (ta’dib) mereka saat mereka keliru, maka kita amanah dengan apa yang diberikan Allah.   Isi Kitab Pilar Pertama: Memilih Istri yang Shalihah. Pada pilar yang pertama dalam mendidik anak adalah memilih istri yang shalihah. Ketika seorang pria hendak menikah, ia pasti memiliki tujuan dan sebenarnya tujuan terbesarnya adalah bagaimana memiliki generasi penerus yang baik. Semua ini dimulai dengan memilih istri yang shalihah. Ketika kita memilih istri yang shalihah, maka ini wujud pemenuhan amanah kita yang nanti akan mendidik dan mengatur keluarga kita. Ketika seorang ayah tidak ada dan anak hanya ditangani oleh ibunya saja, maka anak tersebut masih bisa bertahan. Bahkan banyak dari para ulama yang lahir dari pendidikan seorang ibu tanpa adanya sosok ayah. Inilah pentingnya memiliki istri yang shalihah. Pilar Kedua: Doa. Ketika mendapati kekurangan pada anak, baik kekurangan fisik, akademik, maupun adab, maka jangan tinggalkan doa. Jangan hanya bergantung pada ikhtiar. Karena yang bisa merubah hati seorang anak hanyalah Allah. Pilar Ketiga: Memilih Nama yang Baik. Nama adalah doa. Sering kali ketika kita memberikan nama kepada anak, maka sifat nama tersebut akan muncul pada diri anak-anak. Contohnya Abdul Qawiy, hamba Allah yang Maha Kuat. Maka, anak tersebut lahir dengan sifat yang kuat, meskipun memiliki fisik yang kecil. Pilar Keempat: Bersikap Adil. Bersikap adil sangatlah penting, terutama jika kita memiliki anak yang banyak. Maka, bersikap adil adalah hal yang sangat penting. Pilar Kelima: Kelembutan dan Kasih Sayang. Pilar Keenam: Menasihati dan Mengarahkan Anak. Berikanlah nasihat dan pengarahan kepada anak sesuai dengan usia mereka. Berikan mereka pilihan dan jelaskanlah dampak dari masing-masing pilihan. Lebih baik memberikan aturan yang ketat saat masih kecil dan memberikan kelonggaran untuk memilih saat mereka beranjak baligh dengan tetap memberikan pengawasan. Pilah Ketujuh: Memilihkan Teman yang Baik. Berikanlah arahan dalam memilih teman. Lalu berikanlah ia kebebasan dalam memilih teman. Pilar Kedelapan: Memberikan Qudwah (Contoh) yang Baik. Hendaknya kita sebagai orang tua memberikan Qudwah (contoh) yang baik kepada anak-anak kita. Jika mereka melihat kita rajin membaca Al Qur’an, maka mereka akan mengikuti kita.   Muqaddimah Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kita haturkan kepada hamba Allah, utusan-Nya, sekaligus kekasih-Nya (yaitu) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga kepada keluarga, serta sahabat beliau seluruhnya. Amma ba’du. Sesungguhnya salah satu di antara kewajiban yang besar dan penting serta amanah yang agung yang Allah wajibkan atas hamba-Nya untuk memperhatikan dan menjaganya di dalam kehidupan ini yaitu anak. Anak adalah amanah yang besar dan di balik amanah yang besar tersebut ada kewajiban yang besar pula yaitu mendidik (tarbiyah), meluruskan kesalahan (ta’dib), menasihati, dan mengarahkan mereka. Jika kita tidak melakukan keempat hal ini, maka kita termasuk orang yang tidak amanah. Maka, sesungguhnya anak adalah amanah yang agung yang Allah perintahkan agar kita memperhatikan dan menjaganya, sebagaimana firman Allah ta’ala, وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ “Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun: 8)   Dan juga firman-Nya, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27) Di antara amanah yang besar adalah anak dan kita berusaha agar kita tidak berkhianat kepada Allah dalam amanah ini. Ketika kita berkhianat terhadap amanah yang diberikan kepada kita, maka kita telah melanggar ayat ini. Kecuali kita tidak sadar atau tidak paham bahwa kita telah melanggar amanah ini. Terkadang kita tidak punya ide dalam mendidik dan meluruskan kesalahan (ta’dib) anak. Maka kita perlu belajar untuk memenuhi hal tersebut. Dengan begitu kita bisa amanah dan tidak berkhianat kepada Allah. Wallahu a’lam Dikutip dari kajian parenting kitab Rakaiz fii Tarbiyati Al Abna’ karya Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah pada tanggal 30 Januari 2021. Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Quran). Link kajian: https://youtu.be/j-9M5GHDNt0

Scroll to Top