Author name: KuttabRuQu

Uncategorized

Laporan Perjalanan ke Ma’had Ar Rosyad Asuhan Al Ustadz Abdullah Amin Hafidhahullah

Sebelumnya perlu saya sampaikan siapa beliau. Beliau adalah salah satu ustadz yang digembleng di Mahad Ustadz Ja’far Umar Tholib rahimahullah. Bahkan beliau termasuk angkatan pertama di ma’had tersebut. Kemudian beliau digembleng di Ma’had Jamilurrahman yang saat itu juga mengalami masa awal-awal perkembangan. Beliau juga pernah belajar di Al Irsyad Tengaran kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Darul Hadits Yaman di bawah asuhan Syaikh terkenal di Yaman. Setelah beliau kembali ke Kediri, beliau juga diminta mengajar di Masjid Qolbun Salim, Malang. Saya terkoneksi dengan beliau karena saya termasuk salah satu dari sekian banyak alumni Masjid Qolbun Salim. Walaupun kami kuliah di jurusan materi kuliah umum, tetapi kami merasakan nikmatnya gemblengan aqidah dan manhaj yang sangat kental saat itu. Saya banyak mengambil ilmu aqidah dan manhaj dari Ustadz Abdullah Amin, dan juga Kyai kita di Malang, al Ustadz Agus Hasan Bashori hafidhahumallah. Di perjalanan ini, saya ditemani oleh partner sejati seperjuangan dalam perjalanan ke negeri akhirat, yaitu istri saya sendiri. Kami berangkat menggunakan motor yang kami pinjam dari seorang sahabat yang -biidznillah- selalu membantu dalam perjuangan untuk akherat ini,yaitu al akh al fadhil Deny Sukardiono dan keluarga beliau. Baarokallaahu fiihim fii kulli umuurihim. Dalam perjalanan yang berkelok-kelok, kami merasakan dan melihat keindahan ciptaan Allah yang seringkali kita lupakan. Kicauan burung, embusan sejuk angin, bunga bermekaran indah, deburan aliran sungai, dan keindahan hijau pemandangan kami nikmati sepanjang perjalanan. Ketika sampai, kami disambut oleh al Ustadz Redi. Kemudian kami dipertemukan dengan kyai Ma’had Ar Rosyad yaitu al Ustadz Abdullah Amin. Akhirnya kami berdua berbincang lama, dari kisah perjalanan beliau belajar ke Yaman, sistem pendidikan beliau, masalah walisantri yang terjadi di ma’had beliau, sampai anak-anak beliau yang beliau kader untuk perjuangan dakwah. Banyak faidah yang ternyata mirip dengan yang saya dapatkan selama sekian tahun mengelola Kuttab Rumah Qur’an. Kami dijamu rujak oleh keluarga beliau, lalu berlanjut ke acara inti. Sebenarnya kami tidak mempersiapkan presentasi secara detail karena memang kami tidak pantas memberi materi. Kami hanya berbagi pengalaman dan informasi yang mungkin nantinya dibutuhkan oleh pihak ma’had yang sedang merintis TAUD non formal dan Kuttab Ar Rosyad yang rencananya juga mengambil jalur non formal. Akhirnya saya berpisah tempat dengan istri. Istri berbagi pengalaman dengan ummaahat yang mengelola PAUD, sedangkan saya berbagi pengalaman dengan tim inti Ma’had Ar Rosyad, yaitu Ustadz Widodo, Ustadz Redi, Ustadz Anton, Ustadz Regi, Ustadz Febri dan beberapa ustadz lainnya. Kami berbagi informasi tentang semua strategi yang telah kami laksanakan baik yang gagal, yang dalam perbaikan, sampai strategi yang baru. Kami bersyukur sekali, sekolah sekecil Kuttab Rumah Qur’an bisa dipercaya untuk sharing pengalaman di Ma’had Ar Rosyad yang lebih banyak dikenal. Salah satu yang menarik bagi rekan-rekan di Ar Rosyad adalah konsep morning meeting, konsep adab dengan pembiasaan dan check list, juga metode belajar kitab dengan metode menerjemahkan per kata. Salah satu sistem yang baru pertama kali diterapkan di sekolah SD dan Kuttab di Malang adalah sistem mulazamah akan diberlakukan di tahun ajaran ini. Dengan sistem mulazamah, insyaa Allah memungkinkan anak-anak untuk tetap naik kelas secara formal, tetapi untuk materi pelajaran, mereka harus bisa melampui tiap jenjang level sesuai kemampuan mereka. Jika anak-anak belum menguasai bagian level 1, ia tidak boleh melanjutkan ke level 2. Sistem ini meminimalisi stres anak karena tahapan pembelajarannya tidak dilalui dengan baik. Alhamdulillah, banyak sekali diskusi, baik dari para asaatidzah di Mahad ar Rosyad, dan Ustadzunaa Abdullah Amin. Hal yang lebih membahagiakan kami adalah kesediaan ustadz Abdullah Amin membimbing kembali kajian mulazamah kitab khusus untuk guru Kuttab Rumah Qur’an dan kesediaan beliau untuk mengisi Kajian Satu Ruqu via Zoom. Saya juga meminta izin kepada beliau untuk mengajarkan kembali rekaman beliau di YouTube atau di Facebook untuk pembelajaran di SATU RUQU. Benar-benar nikmat luar biasa dari kunjungan ini. Acara kami ditutup pukul 17:00, dan kami melakukan perjalanan dari Gurah, Bogem, Kediri melalui beberapa hutan lebat dan gelap di malam hari. Sebuah pengalaman baru sekaligus mendebarkan. Alhamdulillah sekitar pukul 9 malam, saya dan istri sampai di rumah dengan selamat. Mudir Kuttab Rumah Qur’an Al Faqir ilaa Afwi Robbihi Abu Ahmad Ricki Kurniawan 08 Juli 2020 Catatan penyunting: Qadarullah sistem mulazamah untuk materi umum tidak bisa direalisasikan pasca tulisan ini dibuat karena adanya kebijakan pemerintah pada perubahan sistem kurikulum pendidikan jalur non formal, namun untuk materi diniyyah alhamdulilah masih bisa direalisasikan          

Faidah Singkat, Model Pendidikan Kuttab

Meluruskan Kesalahan Anak Dengan Cara Memintanya Mengulangi Perbuatan

====== Fawaid Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy Apa yang anda lakukan ketika melihat ada anak yang masuk ruangan tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam? Hanya menasihatinya saja atau menyuruhnya keluar kembali, kemudian masuk dengan cara yang benar dengan mengetuk pintu, mengucapkan salam dan meminta izin untuk masuk? Terkadang kesalahan anak harus kita perbaiki dengan cara membiasakannya melakukan perbuatan yang benar. Sekolah kami -TAUD KurmaQu dan SDTA KurmaQu- memiliki banyak SOP perbaikan adab anak. Di antaranya, jika ada kasus seperti di atas, kami akan meminta anak keluar dan kembali masuk ke dalam ruangan dengan cara benar. Ini berlaku juga dalam membiasakan prosedur buka tutup pintu, meletakkan sandal pada rak, prosedur naik tangga, dll. Ini adalah salah satu teknik untuk membiasakan anak berbuat kebaikan. Jika mereka melakukan kesalahan, baik disengaja atau pun tidak, maka kita tidak boleh membiarkannya dan harus meluruskannya. Teknik ini berulang kali dipraktikkan nabi kita shallallahu’alaihi wa sallam, mari, saya ajak anda menyimaknya.   Hadits Mengajarkan Adab Salam  أَنَّ كَلَدَةَ بْنَ حَنْبَلٍ أَخْبَرَهُ ، أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ أُمَيَّةَ بَعَثَهُ بِلَبَنٍ وَلِبَأٍ وَضَغَابِيسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَعْلَى الْوَادِي، Kaladah bin Hanbal memberitakan bahwa suatu ketika Shofwan bin Umayyah mengutusnya untuk menyuguhkan susu, anggur muda, mentimun kecil kepada Nabi ﷺ sedangkan saat itu beliau berada di dataran tinggi dari sebuah lembah.   قَالَ : فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ وَلَمْ أُسَلِّمْ، وَلَمْ أَسْتَأْذِنْ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ : ” ارْجِعْ فَقُلِ : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ ؟ ” وَذَلِكَ بَعْدَمَا أَسْلَمَ صَفْوَانُ، Kaladah berkata: Kemudian aku masuk menemui beliau dan belum mengucapkan salam dan belum izin untuk masuk. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Kembalilah kemudian ucapkan (السَّلَامُ عَلَيْكُم) bolehkah aku masuk?” Peristiwa ini terjadi setelah Islamnya Shofwan bin Umayyah. (HR Tirmidzi nomor 2710, Hadits Shohih) Syahid kita dari hadits ini adalah ketika nabi ﷺ melihat Kaladah masuk tanpa mengucapkan salam, beliau tidak panjang lebar menerangkan pentingnya salam. Beliau langsung memintanya kembali keluar, mengucapkan salam, dan meminta izin sebelum masuk.   Hadits Orang yang Keliru dalam Sholat عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى، Dari Abu Huroiroh, suatu ketika Rosululloh ﷺ masuk masjid kemudian ada lelaki masuk dan sholat.  فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَدَّ وَقَالَ : “ارْجِعْ فَصَلِّ ؛ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ” Kemudian laki-laki itu mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ, dan beliau ﷺ membalas salam itu dan bersabda: ارْجِعْ فَصَلِّ ؛ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ Kembalilah, kemudian (ulangi) sholat, sesungguhnya kamu belum sholat. (Mutafaqqun ‘Alaihi)   Syahid kita dari hadits ini adalah ketika Nabi ﷺ melihat ada orang yang keliru dalam hal sholat, beliau memerintahkan agar orang itu langsung mengulangi hingga 3 kali. Ketika pengulangan ketiga, orang tersebut belum juga menyadari kesalahannya dan meminta kepada nabi ﷺ mengajarinya, barulah beliau mengajari sholat yang benar kepada orang tersebut.   Hadits Orang yang Wudunya Jelek أَخْبَرَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ، فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ، فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: “ارْجِعْ، فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ” فَرَجَعَ، ثُمَّ صَلَّى. Umar bin Khaththab mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berwudu. Kemudian orang itu menyisakan sebagian kecil dari kakinya tidak terkena air wudu. Nabi ﷺ melihat hal itu dan bersabda, ارْجِعْ، فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ Kembalilah dan perbaiki wudumu. Kemudian ia kembali berwudu dan sholat. (HR Muslim nomor 243)   Syahid kita dalam hadits ini adalah ketika nabi ﷺ melihat kesalahan dalam berwudu, beliau langsung meminta orang tersebut untuk berwudu kembali dengan memperbaiki caranya. Nah, dari sini kita mengetahui, Parenting Islam adalah parenting terbaik. Jika kita mengenal teknik ini dari parenting selain Islam, ternyata teknik meminta anak mengulangi perbuatan dengan menunjukkan cara yang benar adalah cara sangat efektif untuk membiasakan dan mengajarkan kebaikan. Semoga bermanfaat. Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy

Kajian Parenting

Nasihat dan Arahan Para Nabi kepada Buah Hatinya

Kajian Parenting ‘Nasihat dan Arahan Para Nabi kepada Putranya’ Kitab ‘Asyru Rokaaiz fii Tarbiyati Al Abna’ karya Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah Pilar ke-8 | Memberikan Nasihat dan Pengarahan Syaikh Abdul Razzaq bin Abdul Muhsin mencantumkan beberapa nasihat dari para nabi. Beliau berkata, “Sungguh memberikan pengarahan ini mengikuti metode seperti yang telah dicontohkan oleh para nabi dan orang-orang shalih terdahulu,” Sebagaimana pembahasan yang telah lalu yaitu wasiat Lukman Al Hakim. Pesan tersebut disampaikan pada waktu yang tepat, sedikit demi sedikit, sebagaimana Allah mendidik para sahabat dengan menurunkan Al-Qur’an secara bertahap (untuk menguatkan hati mereka). Yang terbaik adalah kita menjadi orang tua dalam satu menit. Maksudnya kita memberikan nasihat yang sedikit tetapi bermakna dan menghujam di hati anak-anak pada waktu dan saat yang tepat. Nasihat tersebut kita ulangi lagi pada waktu dan saat yang tepat pula. Arahan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Allah menjelaskan kisah Nabi Ibrahim dalam Al Qur’an, وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبۡرَٰهِـۧمُ بَنِيهِ وَيَعۡقُوبُ يَٰبَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Surat Al-Baqarah, Ayat 132) Makna ‘ucapan itu’ dalam ayat ini adalah millah atau agama. Bisa juga bermakna inti dari ajaran agama Nabi Ibrahim, yaitu bersikap taslim (berserah diri kepada Allah). Sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya, إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.” (Surat Al-Baqarah, Ayat 131) Sebagian ulama qira’ah ada yang meriwayatkan ya’qubu dan ada yang meriwayatkan ya’quba. Makna ya’qubu adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub ‘alaihimassalam sama-sama mewasiatkan hal yang sama, yaitu bersikap taslim, kepada anak-anak mereka. Sedangkan makna ya’quba adalah Nabi Ibrahim mewasiatkan Islam (bersikap taslim) kepada putra beliau dan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Kata ya’qubu tidak ada perbedaan dalam riwayat Hafsh dan Syu’bah. Demikian pula jumhur ulama menyatakan demikian. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah mewasiatkan kepada putra beliau bahwa Allah telah memilih agama ini, yaitu agama Islam, untuk mereka. Beliau juga berwasiat agar tidak mati kecuali dalam keadaan Islam. Beliau sangat menekankan hal ini kepada putra-putra beliau. Orang-orang musyrik dahulu menyandarkan nasabnya kepada Nabi Ismail dan mengklaim bahwa agama yang mereka ikuti adalah agama Nabi Ismail. Begitu pun kaum Yahudi mengklaim kepada agama Nabi Ya’qub. Begitu juga kaum Nasrani. Semua klaim tersebut terbantahkan dengan turunnya ayat ini. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak pernah mewasiatkan agama apa pun kecuali agama Islam. Pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat tersebut, antara lain sebagai berikut. Para nabi dan orang shalih senantiasa berusaha menasihati dan mengarahkan anak-anak mereka hingga menjelang kematian. Wasiat memiliki pengaruh yang kuat karena jarang sekali orang yang masih hidup memiliki harapan untuk bertemu kembali dengan orang yang memberikan wasiat. Mereka mewasiatkan hal yang tidak hanya sebatas tentang dunia, tetapi juga akhirat. Pastikan anak-anak kita dalam keadaan lurus terutama setelah kita tiada. Ada pun urusan dunia adalah urusan dan hak Allah, maka serahkanlah kepada Allah. Wasiat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada anak beliau agar tetap dalam agama Islam hingga wafat. Allah juga mengisahkan kisah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam tentang bagaimana beliau berwasiat kepada anak-anak beliau agar tetap dalam agama (millah) Ibrahim yaitu Islam dengan berserah diri kepada Allah (taslim). Ibnu ‘Asyur mengatakan hal yang serupa. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam benar-benar mewanti-wanti anak-anak beliau agar tidak menyimpang dari agama Islam. (Tafsir Ibnu Katsir) Imam Al Mahalli dan As Suyuthi (dalam Tafsir Al Jalalain) juga menjelaskan wasiat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang melarang anak beliau untuk meninggalkan Islam dan tetap berpegang teguh dengannya hingga wafat. Islam adalah orang yang menyerahkan diri dan tunduk secara total terhadap aturan Allah serta tidak membantah sedikit pun. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menjelaskan aturan Allah. Maka tentu kita harus mengikuti aturan yang disampaikan oleh Rasulullah. Kita tidak bisa memahami Al Qur’an dan hadits dengan pemahaman kita sendiri, melainkan kita pahami dengan pemahaman para sahabat. Jika tidak, maka kita tidak akan berjalan sesuai dengan keinginan Allah dalam menjalankan syariat agama ini. Misalkan seperti shalat. Memang benar bahwa shalat tidak dijelaskan secara jelas dalam Al Qur’an sehingga terkesan bahwa shalat itu tidak diperintahkan (tidak wajib) karena tidak dijelaskan di dalam Al Qur’an. Akan tetapi, shalat telah dijelaskan dalam hadits dan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Jika hati kita bersih dan tunduk kepada dalil, tentu tidak sulit mengikuti hal yang demikian. Contoh lain, keyakinan kita bahwa Allah beristiwa di atas ‘arsy sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an, hadits-hadits nabi, dan keterangan dari para ulama. Bukan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang jahil bahwa Allah ada di mana-mana dan sebagainya, yang mana ucapan mereka hanya mengikuti hawa nafsu dan logika mereka saja. Arahan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam Nabi Ya’qub khawatir ketika meninggal apa yang akan disembah oleh anak-anak beliau setelah beliau meninggal. Maka dijawab oleh anak-anak beliau dengan jawaban yang menenangkan hati, sebagaimana yang telah Al-Qur’an jelaskan bahwa anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihissalam akan tetap memilih agama Islam sepeninggal beliau. أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (Surat Al-Baqarah, Ayat 133) Kemudian Syaikh berkata, “Rabbul ‘alamin memuji nabi-Nya, yaitu Ismail, karena keadaan beliau yang selalu memerintahkan anak dan keluarga beliau untuk mengerjakan salat dan menunaikan zakat. Allah juga memerintahkan nabi-Nya (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam) untuk menjaga penunaian shalat dan juga memerintahkan keluarga beliau untuk melakukan hal yang sama serta bersabar atasnya. “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya…” (QS. Thaha: 132) Termasuk pengarahan kepada anak adalah menjauhkan anak dari hal yang merusak akhlak dan agama mereka. Terutama di zaman sekarang, hendaknya kita bersikap pertengahan dalam melarang anak berbuat hal yang terlarang,

Kajian 100 Hadits Pilihan

Larangan Menyerupai Suatu Kaum

Hadits ke-34 | Hadits Abdullah bin Umar Larangan Menyerupai Suatu Kaum Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 4031) Penjelasan Hadits Kita tidak boleh menyerupai orang-orang kafir termasuk dalam hal akidah, ibadah, pakaian yang menjadi ciri khusus mereka, tingkah laku, festival-festival, dan lain-lain yang menjadi ciri khusus mereka. Tidak boleh menyerupai atau meniru gaya orang orang fasik seperti banci, meniru pakaian dan gaya rambut orang nakal seperti preman atau punk, dan lain-lain. Barangsiapa yang menyerupai orang-orang kafir dan fasik seperti yang telah disebutkan di atas, maka ia telah melakukan perbuatan dosa. Hadits ini tidak berarti bahwa orang yang meniru orang kafir, langsung dihukumi sebagai orang kafir. Benci dan cinta karena Allah adalah bagian dari syariat Islam. “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah…” (QS. Ali Imran: 28) “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’…” (QS. An-Nahl: 36) Konsekuensi tauhid laa ilaaha illallah adalah mencintai dan membenci karena Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) Barangsiapa yang Allah dan rasulnya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah, (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Iman kepada Allah adalah tali ikatan iman yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa, “Sekuat-kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath Thabrani) Mencintai dan membenci karena Allah merupakan salah satu tanda sempurnanya iman. “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman yang sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi harta karena Allah, menahan harta karena Allah, maka telah sempurna imannya.” (HR. Abu Dawud no. 4681, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud) Akan tetapi bukan berarti kita tidak melakukan toleransi dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir. Kita tetap memberikan toleransi dengan membiarkan mereka beribadah sesuai keyakinan mereka. Demikian dalam berdakwah, tetap menyampaikan kebenaran dan penyimpangan atau kekeliruan-kekeliruan mereka tanpa menyebut nama mereka. Hal yang paling penting adalah poin-poin amar ma’ruf nahi mungkar telah tersampaikan dan kita telah memenuhi kewajiban kita untuk berdakwah. Tentunya sesuai dengan kaidah dalam amar ma’ruf nahi mungkar dan juga kapasitas kita. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu…” (QS. Al Mumtahanah: 1) “Katakanlah, ‘Jika bapak bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal kamu yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalannya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At Taubah: 24) Tingkatan Cinta dan Benci Karena Allah Mencintai dengan sepenuhnya karena Allah, yaitu kepada para rasul para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Membenci dengan sepenuhnya karena Allah, yaitu kepada orang-orang kafir. “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya…” (QS. Al Mujadilah: 22) Mencintai dan membenci secara proporsional, yaitu kepada orang muslim yang melakukan perbuatan fasik. Kita mencintai mereka karena keimanan mereka dan membenci mereka karena perbuatan fasik yang mereka lakukan. Demikian juga kepada orang-orang yang melakukan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari agama Islam. Membenci orang-orang ahli bid’ah yang mengeluarkan mereka dari Islam, seperti orang-orang kafir yang berpura-pura masuk Islam. Wallahu a’lam Dikutip dari kajian hadits 100 Hadits Pilihan yang disampaikan oleh Ustadz Sa’id Yai Ardiansyah pada tanggal 10 Rabi’ul Akhir 1443 H / 14 November 2021 M. Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an).

Artikel, Kajian 100 Hadits Pilihan

Keutamaan Air Zamzam

Hadits ke-33 | Hadits Jabir bin Abdillah Keutamaan Air Zam-zam Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Air zam-zam bermanfaat sesuai untuk apa meminumnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3062) Air zam-zam adalah air yang memancar dari mata air dan merupakan mukjizat yang diberikan kepada Nabi Ismail ‘alaihis salam. Makna zam-zam artinya ‘berkumpullah, berkumpullah’ atau ‘air yang banyak’. Penjelasan Hadits 1. Air zam-zam adalah air yang terpancar dari mata air yang terletak berdekatan dengan Ka’bah di Makkah. 2. Air zam-zam adalah mukjizat Nabi Ismail ‘alaihis salam. 3. Air zam-zam memiliki banyak manfaat sesuai dengan niat orang yang meminumnya. Bisa sebagai makanan, obat, wasilah untuk memperkuat hafalan, dan lain-lain. 4. Diperbolehkan bertabarruk dengan disertai sebab-sebab syar’i yang diperintahkan oleh Allah. Sebab syar’i itu ada dua; (1) Memiliki dalil dari Al Quran atau hadits (2) Sesuai dengan hukum alam sehingga bisa dibuktikan secara ilmiah. Ada pun jika tidak terbukti dengan salah satu sebab di atas, maka tidak boleh kita mengambil manfaat darinya, seperti dari jimat, air keramat, batok sakti, dan lain-lain. Ini termasuk tabarruk yang terlarang. Dikutip dari kajian hadits 100 Hadits Pilihan yang disampaikan oleh Ustadz Sa’id Yai Ardiansyah pada tanggal 10 Rabi’ul Akhir 1443 H / 14 November 2021 M. Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an).

Scroll to Top