Author name: KuttabRuQu

Penjelasan Tuhfatul Athfal Li asy Syaikh Sulaiman al Jamzuri

Ijazah Sanad Dari Syaikhuna Abu Abdillah Rik Rik Auliarohman as Surianjiy

Kami meriwayatkan dari Syaikhunaa Abu Abdillah as Surianjiy dengan cara menyimak pembacaan kitab tuhfatul athfal sekali duduk oleh salah seorang peserta majelis kepada Syaikhunaa. Sanad riwayat dari guru-guru Syaikhunaa adalah dari kalangan ulama al Qur’an dan ulama ahli hadits. Beliau mengatakan dalam tsabatnya yang berjudul Fathu ar Rojiy fii Asanid as Surianjiy,

Uncategorized

Bazar Amal Penggalangan Dana Untuk Korban Bencana Erupsi Semeru

Apa Itu Edusos? Edusos adalah singkatan dari Empati dan Kepedulian Sosial Kuttab Rumah Qur’an, sebuah program yang diharapkan bisa membantu ananda mengasah kepedulian kepada orang-orang di sekitarnya, dan menjadi pribadi yang tanggap di situasi apa pun. Edusos telah ada sejak Kuttab Rumah Qur’an mulai didirikan. Beberapa program yang telah dilaksanakan misalnya kunjungan ke panti jompo, penyaluran zakat fitrah, dan lain-lain. Kenapa Bazar? Ada banyak cara yang lebih mudah untuk berdonasi. Misalnya mengumpulkan uang tabungan di kotak donasi, atau menyumbangkan barang layak pakai untuk korban bencana. Kali ini, kami ingin melakukan sesuatu yang sedikit berbeda. Berjualan adalah cara termudah untuk mendapatkan keuntungan. Harga sebungkus agar-agar dan beberapa sendok gula mungkin tak sampai lima ribu rupiah. Namun, jika ditambahkan cup plastik dan sedikit usaha, dari sebungkus agar-agar itu mungkin akan jadi uang dua puluh ribu rupiah. Niatnya berpahala, usaha membuat pudingnya berpahala, berjualannya berpahala, dan hasil yang disumbangkan pun berpahala. Nilai inilah yang ingin kami kenalkan pada ananda. Setiap usaha yang mereka lakukan di jalan Allah, insyaAllah akan menjadi kebaikan bagi mereka. Setiap usaha mereka meringankan beban saudara muslim lainnya, adalah satu langkah meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا “Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585)  مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا؛ نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ؛ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا؛ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. “Barangsiapa melepaskan dari seorang mukmin suatu kesulitan di antara kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah lepaskan kesulitan di antara kesulitan-kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan bagi orang yang membutuhkannya, maka Allah mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim nomor 2699)

Penjelasan Tuhfatul Athfal Li asy Syaikh Sulaiman al Jamzuri

Ijazah Sanad Dari Ustadzunaa Abu Abdillah Saifulah bin Slamet Surip al Jawi

Alhamdulillah kami mendapatkan ijazah sanad baik Riwayah maupun Diroyah dari guru kami, Ustadz Abu Abdillah Saifulah bin Slamet Surip al Jawi. Kami menyetorkan matan Tuhfatul Athfal dengan hafalan sekali duduk kepada beliau. Berikut ini adalah silsilah sanad kami kepada penulis kitab Tuhfatu al-Athfal wa al-Ghilman Fii Ilmi at Tajwid yaitu Syaikh Sulaiman bin Husain bin Muhammad al Jamzuri rohimahullah dari guru kami jalur Ustadz Abu Abdillah Saifullah,

Kajian 100 Hadits Pilihan

Ciri-ciri Munafik

100 Hadits Pilihan Hadits ke-36 | Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu   Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika dia berjanji tidak mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59) Penjelasan Hadits 1. Orang munafik adalah orang yang berpura-pura beragama islam tetapi hatinya tidak beragama Islam. 2. Orang Islam harus takut jika dirinya terjatuh kepada kemunafikan. 3. Kemunafikan ada dua, yaitu: nifaq asghar (kemunafikan kecil) dan nifaq akbar (kemunafikan besar). 4. Nifaq asghar tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi pelakunya mendapatkan dosa. Sedangkan nifaq akbar mengeluarkan pelakunya dari Islam. 5. Ciri-ciri orang munafik yang disebutkan pada saat di sini ada tiga, yaitu: ● Suka berdusta ● Suka mengingkari janji dan ● Suka berkhianat jika dipercaya. Dalam hadits lain disebutkan, suka curang jika bermusuhan. 6. Sudah sepantasnya seorang muslim menjauhi sifat-sifat orang munafik tersebut. 7. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahaya kemunafikan agar umatnya tidak menjadi orang-orang yang munafik dan selalu jujur dalam keimanan mereka.   Nifaq Akbar Kemunafikan dalam syariat kita ada dua yaitu nifaq akbar dan nifaq asghar. Nifaq akbar adalah nifaq yang mengeluarkan orang munafik dari Islam dan mengharuskannya masuk ke dalam lapisan terbawah neraka. Karena orang-orang munafik jenis ini menyembunyikan kekafirannya di dalam hati mereka. Dia juga menampakkan iman dengan lisan dan anggota tubuhnya. Oleh karena itu, ia adalah nifaq yang sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam karena dia menampakkan keimanan dalam dhohirnya, akan tetapi hatinya adalah hati orang kafir. Inilah yang menjadi pelajaran bagi kita, ketika disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kemunafikan, maka yang dimaksud adalah nifaq akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Berbeda apabila disebut kufur (kekafiran) di dalam Al-Qur’an. Maka bisa saja yang dimaksud adalah kufur asghar. Begitu pula dengan kedhaliman, kefasikan, dan kesyirikan. Akan tetapi, jika disebutkan nifaq, maka yang dimaksud adalah kemunafikan yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.   Tanda-tanda Nifaq Akbar 1. Kafir atau tidak beriman di dalam hatinya. 2. Berpaling dan tidak mau berhukum dengan hukum Allah. 3. Suka mengejek Islam, sebagian (syariat) agama Islam, dan mengejek orang Islam yang taat menjalankan agama, atau condong kepada orang-orang kafir maupun musuh-musuh Allah. Ciri-ciri kemunafikan ini sangat banyak. Contoh: ● Seseorang yang menampakkan keislaman akan tetapi mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala dan apa yang datang dari-Nya. ● Seseorang yang mendustakan Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau sebagian ajaran beliau. Seperti orang yang meyakini tidak wajib taat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ● Seseorang yang memiliki sifat membenci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencela beliau, melecehkan orang-orang beriman dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbagai sifat yang lainnya.   Nifak Asghar Adapun nifaq asghar adalah nifaq yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Yaitu nifaq amali di mana terdapat perbedaan antara perbuatan yang tidak dilihat oleh orang lain dan apa yang ditempatkan di dalam amalan-amalan yang diwajibkan. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, akan tetapi ia berdosa; seperti orang yang berdusta, mengingkari janji, berkhianat, berbuat curang ketika berselisih dan sebagainya. Begitu pula dengan orang yang riya yang terkadang berbeda antara dia di rumah dengan apa yang ditampakkan kepada orang lain.   Tanda-tanda Nifaq Asghar 1. Memiliki salah satu sifat kemunafikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat empat hal yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka ia adalah seorang munafik yang sejati. Barangsiapa yang memiliki salah satu dari sifat tersebut, maka dia memiliki salah satu cabang kemunafikan sampai ia meninggalkannya; apabila dipercaya berkhianat, apabila bicara berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila berselisih ia curang.” (HR. Al Bukhari) 2. Membenci kaum Anshar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar dan di antara tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Al Bukhari) 3. Mati dalam keadaan tidak pernah berjihad atau memiliki keinginan untuk berjihad di dalam hatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati tidak pernah berperang (berjihad) dan tidak pernah berniat untuk berjihad di dalam hatinya, maka dia mati dalam cabang-cabang kemunafikan.” (HR. Muslim) Wallahu a’lam Dikutip dari kajian hadits 100 Hadits Pilihan yang disampaikan oleh Ustadz Sa’id Yai Ardiansyah pada tanggal 22 Rabi’ul Akhir 1443 H / 26 November 2021 M Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an)                            

Kajian 100 Hadits Pilihan

Menjadi Orang yang Bermanfaat

100 Hadits Pilihan Hadits ke-35 | Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumaa   Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Qadha’ Al Hawaij no. 36, Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13646. Hadits ini memiliki syahid dari riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma) Penjelasan Hadits 1. Allah mencintai manusia dengan kecintaan yang berbeda-beda. 2. Di antara orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain. Maka setelah bertakwa kepada Allah dan berakhlak mulia, bermanfaat kepada orang lain adalah prestasi tertinggi seorang muslim setelah keduanya. 3. Memberikan manfaat kepada orang lain bukan hanya dilakukan dengan menyebarkan ilmu agama dan berdakwah, tetapi ini bersifat umum. Apa pun yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain; termasuk manfaat dengan memberikan kebaikan, menahan orang melakukan keburukan, dan memasukkan kebahagiaan di hati orang lain. Termasuk memberikan manfaat juga adalah mendidik anak dengan akhlak yang baik. Banyak guru yang lupa tugas utamanya untuk mendidik, yaitu menumbuhkembangkan manusia sedikit demi sedikit dalam seluruh kehidupannya untuk mengharapkan keridhaan Allah sesuai syariat Islam dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. 4. Manfaat yang diberikan oleh juru-juru dakwah atau para dai lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya, karena manfaat yang didapatkan oleh orang lain adalah manfaat yang diperoleh di dunia dan akhirat. Apabila kita tidak bisa menjadi juru dakwah maka bantulah mereka dalam penyebaran ilmu agama. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara manusia itu ada kunci-kunci kebaikan dan keburukan, dan sesungguhnya di antara manusia juga ada kunci-kunci keburukan dan gembok-gembok kebaikan. Maka, beruntunglah orang yang Allah dijadikan kunci kebaikan di antara keduanya dan sungguh celaka orang yang Allah jadikan kunci keburukan di kedua tangannya.” Maka, hendaknya kita berusaha menjadi kunci-kunci kebaikan yang membukakan kebaikan dan menutup pintu-pintu keburukan bagi orang lain. Allah mengisahkan kisah nabi Isa ‘alaihissalam di dalam Al Qur’an. Beliau mengatakan, “Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada…” (QS. Maryam: 31) Imam Mujahid, Umar bin Qais, dan Ats Tsauri rahimahumullah berkata bahwa maksud diberkahi adalah menjadi pengajar kebaikan bagi orang lain. Dalam riwayat lain Imam mujahid juga mengatakan bahwa makna diberkahi adalah menjadi orang yang sangat bermanfaat. Makna yang ketiga disampaikan oleh Ibnu Jarir, bahwa makna diberkahi adalah selalu memberikan nasihat dan beramar ma’ruf nahi mungkar di mana pun beliau berada. Di antara cara menjadi orang yang diberkahi adalah dengan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, lalu menjadi pengajar kebaikan bagi orang lain. Maka, bersyukurlah ketika Allah mentakdirkan kita sebagai guru atau pendidik bagi orang lain, karena tidak semua orang ditakdirkan demikian. Berapa banyak manusia memiliki banyak keahlian tetapi ketika disuruh mengajar, ia tidak bisa. Karena memang mengajar butuh keahlian khusus. Walaupun ia sangat pintar, belum tentu ia bisa memiliki kemampuan untuk mendidik dan mengajar. Apalagi mengajar anak kecil yang membutuhkan trik dan kemampuan luar biasa. Meskipun gaji yang diperoleh oleh guru tidak seberapa, akan tetapi yang perlu kita pahami adalah yang namanya rizqi dan kebahagiaan itu tidak ditentukan dengan banyak atau sedikitnya harta. Berapa banyak orang yang beriman dan shalih, ia hanya memiliki harta yang sedikit bahkan tidak memiliki harta. Akan tetapi, ia merasa hidupnya sangat bahagia, tidak pernah merasakan keluh kesah, ridha dengan semua takdir Allah, dan merasakan hidupnya lapang serta bahagia. Berbeda dengan orang yang banyak hartanya. Justru sangat sedikit orang di antara mereka yang bertakwa kepada Allah karena untuk bermaksiat mereka sangat mudah dan godaan bermaksiat juga besar. Oleh sebab itu, apabila kita telah ditakdirkan oleh Allah menjadi seorang pendidik atau orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, maka syukurilah hal itu dan berikanlah yang terbaik. Jadilah seperti seorang muadzin. Ketika ia dibayar dengan gaji sedikit atau banyak bahkan tidak dibayar sekali pun, ia tetap melakukan adzan karena ia ingin tetap mendapatkan pahala dari adzannya tersebut. Maka, orang yang seperti ini tidak terpengaruhi niatnya oleh gaji besar maupun yang sedikit. Begitu juga dengan orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Ia juga bisa meniatkan hal yang demikian seperti seorang muadzin yang ingin tetap beradzan untuk mendapatkan pahala dan dia tidak mengharapkan bayaran, akan tetapi ia tetap bisa mendapatkan bayaran (gaji) sebagai haknya. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893) Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam perbuatan yang baik, maka untuknya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1017) Maka, hendaknya kita bersemangat untuk bermanfaat bagi orang lain, mengajak kepada kebaikan, dan mencontohkan hal yang baik, yang dengannya kita berharap mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Wallahu a’lam Dikutip dari kajian hadits 100 Hadits Pilihan yang disampaikan oleh Ustadz Sa’id Yai Ardiansyah pada tanggal 22 Rabi’ul Akhir 1443 H / 26 November 2021 M Diringkas oleh Ustadzah Ela (Pengajar dan wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an)                                      

Scroll to Top