Kitab Asrarul Muhibbin fii Ramadhan adalah kitab yang berisi penjelasan tentang persiapan menghadapi bulan Ramadhan. Kitab ini tidak hanya berkaitan dengan fiqih, tetapi juga berisi rahasia hati yang diungkap penulis dari berbagai kitab. Puasa tidak hanya ibadah rutinitas, tetapi di dalam kitab ini juga dijelaskan muatan ibadah hati di dalam ibadah puasa. 

 

Muqaddimah

Muqaddimah adalah ringkasan yang menggambarkan isi suatu buku. Kitab Asrarul Muhibbin fii Ramadhan (أسرار المحبين في رمضان) adalah kitab yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Husain Ya’qub. Asrarul (أسرار) merupakan bentuk jamak dari kata as-sir (السر) yang berarti rahasia atau apa yang disembunyikan. Sedangkan al-muhibbin (المحبين) juga bentuk jamak dari kata muhib (محب) yang berarti orang yang mencintai. Jadi, Asrarul Muhibbin fii Ramadhan adalah kitab yang berisi tentang rahasia-rahasia orang yang mencintai Allah ketika beramal di bulan Ramadhan. 

 

Tentang Penulis

Syaikh Muhammad Husain Ya’qub lahir pada tahun 1375 H (1956 M) di desa Mu’tamadiyyah, Mesir. Beliau merupakan salah satu ulama salafiyyah pada semua aspek bidang. Beliau juga menuntut ilmu dari guru-guru salafiyyah, di antaranya; Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithi, Syaikh Muhammad Ismail Muqaddam, dan lain-lain. Beliau memiliki perhatian besar pada beberapa kitab seperti kitab karya Ibnul Jauzi, Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah, Adz Dzahabi, dan yang lainnya.


Syarah kitab ini diambil dari Daurah Al Isti’dad Al Imaniyyah, penjelasan Syaikh Muhammad Husain Ya’qub dalam YouTube program Asrarul Muhibbin fii Ramadhan, Maktabah Syamilah, dan kitab aslinya Asrarul Muhibbin fii Ramadhan. 

 

Penjelasan Muqaddimah

Ketahuilah bahwa hal yang terindah di dunia ini adalah ketika Allah membuat kita mampu melakukan ketaatan. Tidak sepatutnya kita meremehkan amalan ketaatan yang Allah mampukan atas kita. Oleh karena itu, yakinlah bahwa itu adalah hal yang sangat indah bahkan terindah yang ada di dunia ini. Semua itu tergantung pada kita memaknai hal tersebut. Tidak semua orang bisa merasakannya. 

Seperti istiqamah shalat lima waktu di masjid, menjadi guru di Kuttab Rumah Qur’an yang harus berangkat setiap pagi sambil mengajak serta anak-anak untuk ikut mengajar, khusyuk dalam shalat tahajud, dan lain-lain. Semua itu adalah nikmat dan taufiq dari Allah, Dzat yang mengetahui niat kita dan yang tidak bisa kita tipu. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Al-Bukhari no. 6502)

Syarat utama menjadi wali Allah adalah melakukan kewajiban yang Allah bebankan sebaik mungkin, lalu berusaha mengamalkan amalan sunnah. Allah akan mencintainya dan menjaga pendengaran, penglihatan, tangan serta kakinya untuk kebaikan. Jika sudah melakukan hal tersebut, maka Allah akan mudahkan jalannya. Akan tetapi, jika kita melihat seseorang mendapatkan kemudahan tetapi tidak beribadah, maka bisa jadi itu istidraj baginya. Itu adalah ujian keimanan bagi kita yang melihatnya. 

Syaikh Abdul Karim Al Khudhoir dalam Syarah Al Arba’in Nawawi menjelaskan bahwa Allah memberikan taufiq dan kemudahan untuk menggunakan nikmat-nikmat (anggota badan) dalam hal yang diridhoi Allah, dan tidak melakukan perbuatan yang Allah benci dengan anggota badan itu. Ia hanya menggunakan anggota badan untuk hal yang dicintai Allah semata. 

Ibnul Qayyim dalam Fawaidul Fawaid mengatakan, “Jika seorang hamba berada di pagi dan sore hari sedangkan cita-citanya hanya Allah semata, (maka) Allah menanggung semua hajatnya dan menyingkirkan darinya semua kesedihannya, dan mengosongkan hatinya hanya untuk mencintai Allah, lisannya untuk dzikir kepada Allah, dan anggota badan untuk menaati Allah.

“Jika ia berada di pagi dan sore hari, sedang dunia adalah cita-citanya, (maka) Allah akan membawa kesedihan, keresahan, kesulitan dunia serta membiarkan dia berusaha sendiri. Hatinya akan sibuk dari mencintai Allah menjadi mencintai makhluk, dan anggota badan dari menaati Allah menjadi melayani makhluk dan sibuk dengan mereka. Ia bekerja keras seperti binatang liar yang melayani binatang lainnya. Seperti kir -alat peniup pandai besi- yang meniup perutnya dan menekan tulang rusuknya dalam memberi manfaat kepada selainnya.

“Semua yang berpaling dari penghambaan, ketaatan, dan cinta kepada Allah, maka dia akan ditimpa musibah dengan penghambaan, cinta, dan melayani makhluk.”

Allah ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur`ān), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.” (Surat Az-Zukhruf, ayat 36)

 

Kesimpulan

  1. Yakinlah bahwa ketika Allah memudahkan kita dalam ketaatan, maka itu adalah hal yang terindah yang ada di dunia ini.
  2. Cara menjadi wali Allah adalah dengan melakukan kewajiban lalu mengamalkan sunnah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kita.
  3. Jadikanlah cita-cita kehidupan kita hanya untuk Allah sehingga Allah memudahkan urusan-urusan kita dan menghapus kesedihan kita.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis secara makna dari kajian Kitab “Asrarul Muhibbin fii Ramadhan” oleh Ustadz Abu Ahmad Ricki Al Malanjiy hafizhahullah pada tanggal 12 Februari 2022. 

Penulis:

Ustadzah Mariela, wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an 

Print Friendly, PDF & Email