Penulis: Dian Ayu Tri Lestari

Tamu istimewa ummat Islam akan datang. Dan muslim di penjuru dunia mempersiapkan datangnya tamu yang agung. Masyarakat muslim dianjurkan untuk berbahagia atas datangnya tamu yang ditunggu-tunggu karena termasuk bukti keimanan. Ramadhan. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya:

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”[1]

Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ

 ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 )

“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah hanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“[2]

Sebelum datangnya bulan Ramadhan, ada hal yang harus kita persiapkan baik mengenai syarat-syarat puasa, rukun puasa dan ketentuan syariat lainnya. Seperti halnya rukun puasa, salah satunya adalah niat.

Semua perbuatan ibadah tergantung pada niatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.”

Letak niat dalam berpuasa adalah di dalam hati. Jika hati sudah berkehendak untuk menjalankan puasa Ramadhan maka sudah disebut dengan niat. Sebagaimana Muhammad Al Hishni berkata,

لا يصح الصوم إلا بالنية للخبر، ومحلها القلب، ولا يشترط النطق بها بلا خلاف

“Puasa tidaklah sah kecuali dengan niat karena ada hadits yang mengharuskan hal ini. Letak niat adalah di dalam hati dan tidak disyaratkan dilafazhkan.”(Kifayatul Akhyar, hal. 248).

Lantas kapan niat puasa itu ada?

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab beliau Rowdhotth Tholibin, I/268 dan ini yang menjadi pendapat Malikiyah, Syafiyah, dan Hanabilah. dalilnya adalah hadits Ibnu Umar dari Hafshoh bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’).

Niat harus ada disetiap malam sebelum subuh diperuntukkan pada puasa setelahnya. Jadi tidak cukup satu niat untuk hari puasa dalam sebulan. Karena setiap hari dalam puasa ramadhan adalah hari yang berdiri sendiri dan ibadah yang dilakukan berulang sehingga perlu ada niat di masing-masing hari di bulan Ramadhan. (Al Fiqhul Manhaji, hal. 340-341)

Begitu pula pendapat Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad. Sehingga jika ada yang tidur setelah Ashar dan bangun setelah terbit dajar sbuh keesokan harinya, maka puasanya tidak sah karena tidak ada niat sebelumnhya (pada malam harinya).[3]

Perkara bagaimana melafadzkan niat itu pembahasan yang berbeda. Niat letaknya di hati, ketika malam hari terbersit untuk ingin berpuasa di keesokan harinya maka itu sudah dinamakan dengan niat. Sebagaimana Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika ditanya mengenai niat diawal ibadah. Apakah niat harus dilafadzkan atau diucapkan “nawaitu shauma…” atau “usholli” itu diwajibkan?

Maka beliau menjawab,

“Segala puji bagi Allah. Niat thoharoh (bersuci) seperti akan berwudhu, mandi, tayamum, niat shalat, puasa, haji dan zakat, menunaikan kafaroh, serta berbagai ibadah lainnya, niat tersebut tidak perlu dilafazhkan. Bahkan yang benar, letak niat adalah di hati dan bukan di lisan, inilah yang disepakati para ulama. Seandainya seseorang salah mengucapkan niat lewat lisannya, lalu berbeda dengan apa yang ada di hatinya, maka yang jadi patokan adalah apa yang ada di hatinya, bukan apa yang ia ucapkan (lafazhkan).[4]

Wallahu a’lam

[1] HR. Ahmad dalam Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991)
[2] Ahaditsus Shiyam hal.13
[3] https://rumaysho.com/3425-niat-di-malam-hari-bagi-puasa-wajib.html
[4] https://rumaysho.com/1157-keanehan-anjuran-melafazhkan-niat.html

Print Friendly, PDF & Email