Bulan Ramadhan segera datang bertamu kepada kita dan akan pergi dengan cepat. Hendaknya kita menyiapkan ilmu dan hati kita. Apakah kita sudah memiliki amalan rahasia di sisi Allah? Ketahuilah, bahwa hal tersulit bagi orang-orang yang takut kepada Allah adalah berbuat ikhlas, yaitu menjadikan niat beramal kita hanya untuk Allah semata.

Selain itu, ketahuilah bahwa puncak kenikmatan di dunia ini adalah tatkala Allah menjadikan kita mampu melakukan ketaatan kepada-Nya. Milyaran orang tidak merasakan kenikmatan ini. Akan tetapi kita bisa merasakannya dengan melakukan berbagai bentuk ibadah. Berpindah dari satu ibadah ke ibadah yang lain sesuai dengan keutamaannya.

Kita juga harus memiliki cita-cita yang tinggi. Seperti masuk surga berdampingan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melihat wajah Allah Ta’ala, masuk surga tertinggi, dll.

 

Lalu, bagaimana cara meraih sebab agar Allah menjadikan kita mampu melakukan ketaatan?

Ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya bisa kita dapatkan karena rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala. Kita hanya bisa mengusahakan sebab agar rahmat Allah Ta’ala turun kepada kita.

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata,

“Cita-cita (harapan) yang tinggi akan tercapai dengan semangat yang tinggi dan niat yang benar. Barangsiapa yang kehilangan keduanya, maka ia akan terhalang untuk menggapainya. Jika semangat itu tinggi, maka ia akan selalu terhubung dengan cita-citanya saja dan mengesampingkan yang selainnya. Jika niat itu benar, maka seorang hamba akan meniti jalan yang mampu menyampaikan kepada cita-citanya tersebut.

Niat yang benar akan memfokuskan jalan untuk mencapai cita-cita. Sedangkan semangat akan memfokuskan kita pada cita-cita yang dicari. Jika cita-cita yang dicari dan jalan untuk mencapai cita-cita tersebut menjadi satu kesatuan, maka pada umumnya cita-cita tersebut akan tercapai. 

Jika semangat itu rendah, maka ia akan terhubung dengan sesuatu yang rendah dan tidak terikat dengan cita-cita (harapan) tinggi. Sedangkan jika niatnya tidak benar, maka jalan yang ia tempuh bukanlah jalan yang bisa menyampaikan pada cita-cita tersebut.”

Contoh dalam permasalahan ini di antaranya orang yang memahami akhirat. Cita-citanya hanya berkaitan dengan akhirat seperti masuk surga paling tinggi. Maka, ia akan pelit dengan waktunya dan hanya ia gunakan untuk sesuatu yang dapat menyelamatkannya dari neraka dan bisa meraih surga yang tinggi. Saat ada hal mubah yang menggoda, maka ia akan menolak dan memilih sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada cita-citanya yang paling tinggi.

Contoh lain yaitu ketika seorang laki-laki terbangun pada malam hari di bulan Ramadhan karena suara pertandingan sepak bola. Ia memiliki keinginan untuk menontonnya. Akan tetapi, ia teringat dengan cita-citanya, apalagi pada bulan Ramadhan. Maka, ia akan membuang keinginannya dan lebih memilih membaca Al Quran dan shalat tahajud. Ia tidak peduli dengan suara teriakan gol karena ia tahu ia sedang menggapai cita-citanya. Jika ia tidak memiliki semangat yang tinggi, maka ia akan terlewat dalam meraih cita-citanya. Niat harus benar dan semangat harus tinggi. Allah pun Maha Tahu dengan niat kita, apakah kita jujur atau tidak kepada Allah. Jadi, perkaranya tergantung pada semangat dan niat seorang hamba, yang mana keduanya menentukan sesuatu yang dicari dan jalan yang ditempuh.

 

Ketahuilah bahwa semangat tinggi dan niat yang benar tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan meninggalkan tiga hal, antara lain:

  1. Imbalan, penggambaran, dan semua pemberian dari manusia.
  2. Menjauhi rintangan-rintangan yang menghalangi dari fokus kepada cita-cita yang dicari dan jalan menuju cita-cita serta memutus rintangan tersebut.
  3. Memutuskan ketergantungan hati yang memalingkan antara dia dengan sesuatu yang dicari.

 

Pada Kitab Al Fawa’idul Fawaid karya Imam Ibnul Qayyim dijelaskan perbedaan antara rintangan (‘awa’iq) dan ketergantungan (‘ala’iq). Rintangan (‘awa’iq) yang dimaksud adalah rintangan kejadian yang terjadi di luar dirinya, sedangkan ketergantungan (‘ala’iq) adalah ketergantungan hati dengan hal yang mubah dan yang selainnya.

Dari sini jelaslah bahwa cara untuk mencapai cita-cita yang tinggi adalah dengan (1) mengumpulkan semangat hanya untuk menggapai keridhoan Allah, (2) Semangat yang tinggi dan niat yang benar, (3) Menjauhi balasan dari manusia, memutus ketergantungan dari selain cita-cita, dan menyingkirkan rintangan.

 

Barangsiapa yang berusaha untuk kebaikan, maka Allah akan mudahkan ia mencapai kemudahan berupa surga. Begitu juga sebaliknya, maka Allah akan mudahkan ia menuju kesulitan (neraka).

Allah berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya usahamu beraneka ragam. Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga). Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik. Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan).” (QS. Al Lail: 4-10)

Orang yang beramal shalih dan yakin akan balasan di akhirat, maka Allah akan berikan balasan berupa surga. Begitu juga sebaliknya, orang yang kikir dalam beramal dan merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah dalam beramal, maka Allah akan berikan balasan berupa kesulitan di neraka. Niat yang jujur juga akan menentukan jalan yang kita tempuh.

Ketahuilah bahwa Allah telah menjadikan musim-musim kebaikan, di antaranya pada bulan Ramadhan, pada pagi dan malam hari, dan sebagainya. Sebenarnya amalan kebaikan itu mudah, tinggal kita membutuhkan latihan pembiasaan, dan amalan-amalan ini hanya dilakukan oleh orang-orang pilihan yang dimudahkan oleh Allah. Maka, milikilah niat yang benar dan semangat yang tinggi dalam meraihnya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.” (QS. Al Furqan: 62)

Ibnu Katsir berkata, “Allah menjadikan malam dan siang untuk kita beribadah. Jika kita terlewat dari amalan wirid (rutin) kita, maka kita bisa menggantinya di waktu pagi (siang) atau malam.”

Seperti kisah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu. Pada suatu ketika beliau melakukan shalat Dhuha lebih lama. Beliau terlewat dari shalat malamnya sehingga menggantinya di pagi harinya.

Wallahu a’lam.

Dikutip secara makna dari Kajian Kitab “Asrarul Muhibbin fii Ramadhan” yang disampaikan oleh Ustadz Ricki Abu Ahmad Al Malanjiy hafizhahullah melalui Youtube pada tanggal 19 Februari 2022.

Penulis: Ustadzah Mariela Dwi Damayanti, wali kelas 1 SDTA Kuttab Rumah Qur’an

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email